This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 19 Juni 2025

Sering Pakai Earbuds? Waspadai Risiko Iritasi, Infeksi, hingga Penumpukan Kotoran Telinga

 


Penggunaan earbuds yang menempel langsung ke liang telinga dapat menyebabkan iritasi, infeksi, hingga produksi serumen (kotoran telinga) berlebih. Risiko ini sering diabaikan oleh pengguna perangkat audio pribadi, terutama di kalangan muda. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. dr. Fikri Mirza Putranto, Sp.THT-KL(K), dalam seminar daring bertajuk Sayangi Pendengaranmu: Tips Aman Memakai Headset Sehari-hari, yang diselenggarakan oleh Continuing Medical Education Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Kamis (12/6/2025). “Earbuds menempel langsung ke lubang telinga. Jika tidak dijaga kebersihannya, bisa menyebabkan iritasi atau infeksi karena bakteri ikut masuk saat telinga luka,” ujar Fikri.

Tekanan bisa picu kotoran telinga menumpuk Earbuds menimbulkan tekanan pada liang telinga yang memicu peningkatan produksi serumen.

Jika tidak dibersihkan secara teratur, kotoran akan terdorong makin dalam dan menumpuk di depan gendang telinga. “Produksi serumen meningkat karena ada tekanan dari earbuds. Ini bikin telinga gatal, pengin digaruk, dan justru memperparah luka bila alat yang dipakai kotor,” jelasnya. Penumpukan kotoran bisa menyebabkan sensasi telinga terasa tertutup (muffled hearing), nyeri, dan gangguan pendengaran ringan. Pada kasus tertentu, infeksi bisa menyebar ke saluran telinga bagian luar.

Jaga kebersihan dan lakukan pemeriksaan rutin Untuk mengurangi risiko, pengguna earbuds disarankan membersihkan perangkat secara berkala dan tidak meletakkannya sembarangan. “Earbuds yang ditaruh sembarangan lalu dipakai lagi berisiko membawa bakteri langsung ke dalam telinga,” ujarnya. Bagi pengguna aktif, terutama yang memakai perangkat audio setiap hari, disarankan melakukan pemeriksaan telinga secara rutin setiap 6 bulan hingga satu tahun. “Prinsipnya sama seperti pengguna alat bantu dengar. Minimal setahun sekali, telinga harus dievaluasi dan dibersihkan oleh tenaga medis,” kata Fikri. Penggunaan earbuds tidak dilarang, tetapi harus dilakukan dengan bijak. Batasi durasi pemakaian, hindari penggunaan saat tidur, serta perhatikan tanda-tanda ketidaknyamanan seperti nyeri, rasa tertutup, atau berdenging setelah digunakan. “Kalau sudah muncul keluhan, segera periksa ke dokter THT. Jangan tunggu sampai terjadi gangguan pendengaran lebih lanjut,” ujarnya mengingatkan.

SUMBERhttps://health.kompas.com/read/25F18210000768/sering-pakai-earbuds-waspadai-risiko-iritasi-infeksi-hingga-penumpukan-kotoran

Akankah Pemerkosaan Massal 1998 Masuk Sejarah Baru Versi Pemerintah?

 


Polemik soal pencatatan sejarah pemerkosaan massal dalam kerusuhan Mei 1998 mencuat di tengah proyek penulisan ulang sejarah nasional yang sedang digarap Kementerian Kebudayaan. Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut tidak ada bukti kuat atas peristiwa itu dan hanya berdasarkan rumor, menuai kritik dari banyak kalangan. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani menyayangkan pernyataan Fadli Zon yang dinilainya keliru dan seolah berupaya menutupi jejak sejarah kelam bangsa. “Sedikit keliru kalau dikatakan tidak ada perkosaan massal. Peristiwa itu terjadi, jangan tutupi sejarah,” ujar Lalu, dalam keterangan resminya, Selasa (17/6/2025).

Menurut Lalu, tragedi 1998 adalah luka kemanusiaan yang nyata, khususnya bagi perempuan korban kekerasan seksual.

Pengingkaran terhadap peristiwa tersebut, menurut dia, adalah bentuk penghapusan sejarah yang mencederai upaya pemulihan para korban. “Kalau menutupinya, maka sama saja kita merendahkan martabat para korban dan tidak membuka ruang untuk pemulihan bagi mereka,” kata Lalu.

Dia menegaskan, sejarah Indonesia tidak boleh direduksi oleh narasi tunggal yang ditulis pemerintah demi kepentingan kekuasaan. Komisi X DPR RI, lanjut dia, akan mengawal proyek penulisan ulang sejarah agar tidak menjadi alat manipulasi sejarah. “Sejarah bukan milik kementerian, tapi milik rakyat. DPR mewakili rakyat dan punya tanggung jawab memastikan proses ini tidak menjadi rekayasa ingatan kolektif, melainkan rekonstruksi objektif,” tegas Lalu.

SUMBERhttps://nasional.kompas.com/read/2025/06/19/09433841/akankah-pemerkosaan-massal-1998-masuk-sejarah-baru-versi-pemerintah

Rabu, 18 Juni 2025

IDAI: Anemia Bisa Rusak Otak Anak dan Turunkan Kecerdasan, Ini Langkah Pencegahannya

 


Anemia pada anak masih menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam webinar “Anemia pada Anak” oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (17/6/2025), prevalensi anemia defisiensi besi (ADB) di kalangan bayi dan anak-anak di Indonesia terbilang tinggi dan memerlukan perhatian lintas sektor. Prof. Dr. dr. Harapan Parlindungan Ringoringo, Sp.A, Subsp.H.Onk(K), dari UKK Hematologi Onkologi IDAI, memaparkan bahwa berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 40 persen anak usia 6–59 bulan di dunia menderita anemia. Sementara itu, data di Indonesia menunjukkan prevalensi anemia pada anak balita mencapai 38,5 persen (2021), dan sebanyak 50 persen di antaranya disebabkan oleh defisiensi zat besi. “Di Kota Banjarbaru, insidens ADB pada bayi usia 0–12 bulan mencapai 47,4 persen. Ini berarti hampir setengah bayi mengalami anemia, dan itu sangat mengkhawatirkan,” jelas Prof. Parlin.

Penyebab dan dampak jangka panjang ADB Menurut Prof. Parlin, penyebab utama anemia pada anak adalah rendahnya asupan zat besi, baik karena kurangnya cadangan zat besi sejak lahir maupun pola makan yang tidak menunjang. Ia juga menekankan bahwa ADB dapat berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak. “ADB bukan hanya membuat anak tampak pucat dan lemas. Tapi juga bisa menimbulkan gangguan motorik, penurunan kemampuan kognitif, gangguan perilaku, bahkan kerusakan mielinisasi otak yang sifatnya ireversibel,” ujarnya

Pentingnya skrining dan suplementasi dini Ketua Umum IDAI, DR Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), dalam sambutannya menekankan pentingnya skrining dini dan pencegahan melalui suplementasi besi. “IDAI merekomendasikan suplementasi besi 1 mg/kgbb/hari diberikan sejak bayi lahir, terutama bagi yang menerima ASI eksklusif. Karena meskipun ASI sangat baik, kandungan zat besinya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi yang sedang tumbuh pesat,” tutur Piprim. Ia juga menyebutkan bahwa skrining laboratorium universal sebaiknya dilakukan pada usia satu tahun untuk mendeteksi anemia sejak dini.

Langkah strategis penanggulangan ADB Dalam paparannya, Prof. Parlin juga menyampaikan sejumlah langkah yang dapat menurunkan prevalensi ADB di Indonesia. Langkah-langkah tersebut meliputi: Meningkatkan pemberian ASI eksklusif Fortifikasi zat besi pada makanan pendamping ASI Pemberian suplemen zat besi sesuai rekomendasi usia Edukasi gizi seimbang dan makanan tinggi zat besi Penundaan penjepitan tali pusat saat persalinan "Data menunjukkan hanya 4,2 persen bayi yang lahir dengan status besi normal. Maka, suplementasi menjadi krusial dan harus dimulai sejak dini," tegas Prof. Parlin. Webinar yang dimoderatori oleh Prof. Dr. dr. I Dewa Gede Ugrasena, Sp.A, Subsp.H.Onk(K), dari Universitas Airlangga ini menegaskan bahwa pencegahan anemia pada anak memerlukan kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, dan pemangku kebijakan.

Tanpa upaya serius, ADB dapat menghambat masa depan generasi bangsa. Oleh karena itu, IDAI mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap kesehatan anak, khususnya dalam mencegah dan menangani anemia secara komprehensif sejak dini.

SUMBERhttps://health.kompas.com/read/25F17160000668/idai--anemia-bisa-rusak-otak-anak-dan-turunkan-kecerdasan-ini-langkah-pencegahannya


Al Ghazali Menikah, Atta Halilintar: Welcome to the Club!

 

Al Ghazali telah resmi menikah dengan Alyssa Daguise pada Senin (16/6/2025) di salah satu hotel kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.  Resepsi pernikahan yang dilangsungkan setelahnya dihadiri banyak artis, termasuk pasangan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah.  Kompak mengenakan jas dan gaun panjang berwarna hitam, keduanya tampil serasi dan menawan. 

Menghadiri pernikahan kawan baiknya, Atta pun mengenang 10 tahun pertemanannya dengan Al Ghazali. Tidak hanya teman bermain bola, Al pun pernah menjadi pendamping pengantin pria (groomsmen) di pernikahan Atta dan Aurel empat tahun lalu

Tak terasa, kini Al Ghazali lah yang melangsungkan pernikahan.  "Tiba lah hari ini kamu menutup satu bab dan membuka perjalanan hidup yang baru, dengan seseorang yang kamu pilih untuk dijaga dan dicinta," ucapnya dalam sebuah unggahan Instagram, dikutip pada Rabu (18/6/2025). 

Atta mendoakan rumah tangga keduanya menjadi sumber berkah, sakinah, mawadah, dan penuh rahmat.  "Welcome to the club!" ujarnya menambahkan.  Diketahui, pernikahan Al Ghazali dan Alyssa Daguise digelar meriah pada Senin 16 Juni lalu.  Putra sulung Maia Estianty dari pernikahannya dengan Ahmad Dhani itu menikahi Alyssa dengan maskawin logam mulia seberat 16,6 gram dan uang sebesar 2.025 Euro.   

SUMBERhttps://www.kompas.com/hype/read/2025/06/18/090955366/al-ghazali-menikah-atta-halilintar-welcome-to-the-club

Selasa, 17 Juni 2025

Bahaya Anemia: Tubuh Terlihat Sehat tapi Kekurangan Zat Besi

 



Tubuh sering lemas, wajah pucat, dan kurang semangat bisa menjadi tanda anemia, kondisi ketika jumlah sel darah merah sehat dalam tubuh menurun. Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang kerap tak disadari oleh masyarakat. Jika tidak ditangani, anemia dapat mengganggu kualitas hidup hingga menurunkan produktivitas. Anemia terjadi saat jumlah sel darah merah yang sehat dalam tubuh berkurang, sehingga distribusi oksigen ke seluruh tubuh menjadi tidak optimal. Hal ini disampaikan oleh dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD(K) dalam siaran langsung Instagram Kementerian Kesehatan RI pada Jumat (13/6/2025). Ia menekankan bahwa kekurangan zat gizi mikro seperti zat besi, vitamin B, dan protein tertentu menjadi penyebab utama gangguan ini, terutama di kalangan usia produktif.

Mayoritas kasus anemia akibat pola hidup Andi menjelaskan bahwa sebagian besar kasus anemia bukan berasal dari faktor bawaan, melainkan akibat pola hidup yang kurang sehat. "Anemia by definition adalah berkurangnya jumlah sel darah merah yang sehat di dalam badan manusia. Jadi, eritrositnya itu jumlahnya kurang dibandingkan yang normal," jelas Andi. Ia menyebutkan bahwa anemia memang bisa disebabkan oleh penyakit genetik seperti thalassemia atau sickle cell anemia. Namun, mayoritas kasus justru dipicu oleh kekurangan nutrisi penting seperti zat besi, vitamin B, atau protein tertentu. “Di beberapa wilayah, kecacingan juga bisa menyebabkan anemia karena parasit ini merebut nutrisi dari tubuh manusia,” ujarnya. Ia menambahkan, anemia juga bisa muncul sebagai dampak dari penyakit kronis seperti kanker atau gagal ginjal.

Siapa saja yang rentan terkena anemia? Lebih lanjut, Andi mengungkapkan bahwa anemia kini tidak lagi terbatas pada kelompok dengan kekurangan gizi berat. Bahkan, individu dengan berat badan normal pun bisa terkena anemia jika asupan gizinya tidak seimbang. “Saya ketemu pasien, badannya secara makro nutrisinya cukup tetapi dia kurang zat besi,” katanya. Menurutnya, pola makan menjadi faktor penting yang sering luput dari perhatian. Banyak orang mengonsumsi kalori berlebih seperti gula, tepung, dan lemak, namun mengabaikan kebutuhan mikronutrien seperti zat besi dan vitamin yang esensial untuk pembentukan sel darah merah. “Kita coba elaborasi, kita gali. Kita ketemu bahwa pola makannya memang jarang makan sayur, malas makan ikan,” tambahnya. Anemia yang dibiarkan tanpa penanganan bisa berdampak serius pada kesehatan, terutama pada kelompok produktif dan remaja. Karena itu, penting untuk menerapkan pola makan yang seimbang, memastikan kecukupan zat besi, serta memeriksakan diri jika mengalami gejala anemia, seperti mudah lelah atau pucat. Kementerian Kesehatan terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan anemia melalui edukasi dan promosi gaya hidup sehat. Pemeriksaan rutin dan perbaikan pola makan menjadi kunci untuk mencegah kondisi ini berkembang lebih jauh.

SUMBERhttps://health.kompas.com/read/25F17100708268/bahaya-anemia-tubuh-terlihat-sehat-tapi-kekurangan-zat-besi

Diserang Balik Iran Bertubi-tubi, Israel Tercengang Lihat Kemampuan Teheran

 


Serangan balik dari Iran yang mengantam Israel bertubi-tubi membuat Israel tercengang karena Teheran memiliki kemampuan yang besar untuk melawan. Wakil Presiden Quincy Institute for Responsible Statecraft Trita Parsi mengatakan, serangan rudal Iran yang terus berlanjut terhadap Israel menunjukkan bahwa kekuatan Teheran dapat regrouping atau berkumpul kembali bahkan setelah komandan militernya tewas. "Mereka (Israel) meremehkan kemampuan Iran untuk berkumpul kembali setelah Israel berhasil menargetkan pimpinan tertinggi militer Iran dan berhasil membunuh beberapa dari mereka," kata Parsi dilansir CNN, Senin (16/6/2025).

Parsi mengatakan, Israel awalnya meyakini mereka telah mengganggu rantai komando dan kendali Iran. Akan tetapi, gagasan itu dengan cepat buyar setelah Iran berhasil melancarkan serangan rudal bertubi-tubi.

"Apa yang kita lihat sekarang adalah bahwa rudal Iran berhasil menembus semua lapisan sistem pertahanan udara Israel," kata Parsi. Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel mengatakan Iran telah meluncurkan lebih banyak rudal ke Israel. Militer Israel tersebut menginstruksikan penduduk untuk memasuki tempat perlindungan bom dan tetap di sana sampai pemberitahuan lebih lanjut

Cepat ganti pengganti Pemimpin Teringgi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan cepat mengganti pucuk pimpinan militer setelah beberapa komandan tewas. Salah satunya adalah menunjuk Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi sebagai kepala staf angkatan bersenjata yang baru menggantikan Mayor Jenderal Mohammad Bagheri Untuk memimpin Garda Revolusi Iran, Khamenei memilih Mohammad Pakpour, seorang komandan veteran yang memulai dan membangun kariernya dalam pasukan elite. Pakpour menggantikan Mayor Jenderal Hossein Salami yang tewas akibat serangan Israel, sebagaimana dilansir Al Jazeera. Khamenei juga menunjuk menunjuk Majid Mousavi untuk menggantikan Amirali Hajizadeh sebagai komandan pasukan kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Iran.

Serangan balik Iran Iran terus menunjukkan kemampuan militernya dalam perang melawan Israel melalui serangkaian serangan rudal balistik yang disebut sulit diprediksi dan dicegat. Serangan balik Iran pada Jumat (13/6/2025) malam yang melibatkan nyaris 150 rudal ke jantung Israel, termasuk ke pusat komando militer Pasukan Pertahanan Israel atau di Tel Aviv, mencerminkan strategi dan taktik perang Teheran.

SUMBERhttps://www.kompas.com/global/read/2025/06/17/101342570/diserang-balik-iran-bertubi-tubi-israel-tercengang-lihat-kemampuan?source=terpopuler