Senin, 24 Agustus 2026

Mengenal Desa Adat Sade yang Terbakar, Kampung Suku Sasak Bertahan 15 Generasi

 


Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan salah satu kampung tradisional Suku Sasak yang masih mempertahankan kehidupan dan tradisi leluhur. Kampung wisata Sade ini merupakan salah satu dari 21 dusun yang ada di Desa Rembitan. Sebelum dilanda kebakaran pada Sabtu (22/8/2026) malam, kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata di Lombok yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan domestik. Di balik musibah tersebut, Desa Adat Sade merupakan kampung tradisional masyarakat Sasak yang telah bertahan hingga 15 generasi.

Kampung yang Telah Dihuni 15 Generasi Ketua Pokdarwis Sade, Sanah menjelaskan, Desa Adat Sade merupakan kampung hunian yang telah berusia 15 generasi dan dipimpin oleh seorang kepala dusun yang disebut Jero Keliang.

Dari waktu ke waktu, kampung tersebut berkembang menjadi sejumlah kampung hunian di sekitarnya, yakni Sade Daye, Sade Lauk, Bontor Daye, Bontor Lauk, Panjar, Nampang, Lapuh, Kumbaq, dan Pendong-endong. Menurut dia, Desa Adat Sade telah di kunjungi wisatawan asing sejak 1983. "Saat ini Sade masih bertahan menjadi kampung tradisional dengan bangunan yang beratap alang-alang. Dinding anyaman bambu dan lantai rumah yang pada waktu tertentu di pel atau dibersihkan menggunakan kotoran kerbau/sapi," terang Sanah,

Lanjut dia, ada sekitar 100 unit bangunan rumah di dalam kampung. Ketika ada warga yang membangun rumah baru harus membangun di luar karena sudah tidak ada tempat untuk bangunan baru. Daya Tarik Desa Adat Sade Desa Adat Sade setiap harinya ramai dikunjungi wisatawan mancanegara dan juga domestik. Daya tariknya adalah kehidupan warga yang masih mempertahankan tradisi, bangunan dengan arsitektur zaman dulu, tari-tarian sasak, dan tenun. Seperti halnya terkait arsitektur bangunan rumah, masih mempertahankan bentuk asli Suku Sasak. Terdapat dua jenis bangunan khas, yakni Bale Tani sebagai tempat tinggal, dan Lumbung sebagai tempat penyimpanan hasil panen.

Bale Tani dibangun menggunakan kayu dengan dinding anyaman bambu dan atap alang-alang kering. Sementara lantainya terbuat dari campuran tanah, getah pohon, dan abu jerami. Kemudian untuk tenun, hasil olah tangan warga sangat beragam, mulai dari taplak meja, kain sarung, selendang, hingga kain songket khas Lombok. "Inilah yang membuat sade banyak dikunjungi. Juga di sini pengunjung tidak dikenakan biaya masuk, tidak ada tiket hanya bila berkenan memberikan donasi di pintu masuk," beber Sanah.

Menurut Sanan, Desa Adat Sade telah memberikan manfaat ekonomi bagi semua dusun di Desa Rembitan dan juga desa lain karena banyak produk mereka yang dipasarkan. "Semoga kami warga di sini tetap bisa mempertahankan keberadaan Sade sebagai kampung adat Sasak yang tersisa karena hampir tidak ada lagi pemukiman tradisional yang bisa dijumpai di Lombok," tukas Sanah.

BEDCOVER BONITA 180 FLAT BRUNO



SUMBERhttps://regional.kompas.com/read/2026/08/24/082204678/mengenal-desa-adat-sade-yang-terbakar-kampung-suku-sasak-bertahan-15


SPREI ROSANNA VITO B4 180 PUZZLE

Baca Juga :


0 komentar:

Posting Komentar