Pertanyaan mengenai kapan waktu yang paling tepat untuk memulai perawatan anti-aging selalu menjadi topik hangat. Banyak orang masih berasumsi bahwa prosedur estetika medis untuk mencegah penuaan baru diperlukan ketika seseorang sudah memasuki usia paruh baya, di mana garis halus dan kerutan mulai terlihat sangat jelas di cermin. Asumsi tersebut tak jarang memunculkan keraguan mendalam bagi pasien klinik kecantikan usia 20-an yang ingin mengambil langkah pencegahan sejak dini, maupun bagi pasien lanjut usia yang merasa sudah terlambat untuk memperbaiki tekstur kulit.
Namun, usia ternyata bukanlah satu-satunya parameter untuk menentukan langkah perawatan seseorang. Kapan perlu melakukan perawatan anti-aging? Fase subklinis dan penyusutan kolagen Proses penuaan pada anatomi tubuh manusia sebenarnya sudah berjalan pada fase yang sangat awal, jauh sebelum manifestasi visualnya muncul di permukaan wajah.
"Dari kita lahir udah mengalami penuaan, tetapi enggak terlihat, karena apa? Karena semuanya masih berfungsi dengan baik," papar pendiri Miracle Aesthetic Clinic and Miracle Academy, dr. Lanny Juniarti, Dipl.AAAM, dalam konferensi pers Nordberg Medical Indonesia bertajuk "Regenerative Medical Aesthetic Outlook 2026" di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Meskipun organ dan sel-sel pembentuk kulit masih menjalankan fungsinya secara optimal di masa muda, ada fase transisi tertentu di mana penurunan kualitas jaringan penyokong mulai terjadi secara diam-diam tanpa disadari oleh pasien. "Tapi kalau dari teori anti-aging, sebenarnya usia 25 sampai 35 itu yang namanya subklinis, aging itu udah terjadi, tapi orang masih belum melihat," terang dr. Lanny. Pada rentang usia tersebut, struktur protein utama penyokong kulit mulai mengalami degradasi perlahan yang tidak bisa dihentikan secara alami meskipun tubuh terlihat sehat bugar. "Dari umur 25 itu, kolagen turun 1 persen tiap tahun. Nah, umur 25 itu belum kelihatan. Baru 1 persen kelihatannya mana berasa sih?" tutur dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika sekaligus pendiri BMDERMA clinic, dr. Deasy Lius, Sp.DVE. Dampak gaya hidup terhadap usia biologis Cepat atau lambatnya proses degenerasi jaringan seluler tersebut sangat bergantung pada kebiasaan harian dan lingkungan yang dihadapi oleh masing-masing individu setiap harinya. "Karena usia itu hanya angka, tetapi proses biologis di dalam tubuh kita tidak dipatok oleh umur," sebut dr. Lanny. Faktor penyebab penurunan kualitas jaringan penyokong kulit tidak berdiri sendiri hanya karena pergantian tahun, melainkan diakumulasi oleh berbagai elemen perusak dari luar dan kebiasaan internal.
"Misalnya nutrisi kita, kemudian stres juga, tidur, paparan matahari, polusi, macam-macam faktornya," ucap dr. Lanny.
Oleh karena ragam variabel tersebut, percepatan penyusutan protein esensial di dalam kulit tidak selalu berjalan dalam garis lurus yang sama dengan pertambahan usia kronologis yang diyakini oleh kebanyakan pasien.
"Nanti umur 40, baru berasa kolagennya turunnya, padahal sebenarnya decline-nya itu udah dari umur 25 tahun," tambah dr. Deasy. Kondisi klinis sebagai penentu tindakan Perbedaan mencolok dari akumulasi gaya hidup tersebut mengharuskan dokter untuk tidak menyamaratakan jenis tindakan medis semata-mata berdasarkan klasifikasi kelompok umur pasien. Saat merancang jadwal dan rencana perawatan, tenaga profesional akan melakukan observasi klinis yang ketat guna memastikan kebutuhan spesifik jaringan subkutan sebelum memutuskan teknik injeksi yang akan dipakai.
"Jadi saat kita menilai seseorang, tentunya kondisi klinis di atas usia," tutur pendiri Dermaluxe Aesthetic & Laser Center, dr. Jeffri Purnomo Setiawan, Dipl.AAAM. "Jadi kalau bicara si A 50 tahun masih cantik, dibandingkan dengan 40 tahun wajahnya mirip 60 tahun, ya tentunya treatment-nya akan jauh lebih kompleks yang usia 40 tahun," imbuh dia.
Pemahaman bahwa patokan utama perawatan selalu bertumpu pada hasil pemeriksaan klinis, mematahkan anggapan bahwa menjaga keremajaan memiliki batas kedaluwarsa waktu. Pasien yang sudah berumur senja sekalipun tetap memegang peluang yang sangat besar untuk mendapatkan manfaat maksimal dari metode stimulasi seluler secara medis.
| SPREI AKIKO 160 HAYDEN |







0 comments:
Posting Komentar