This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Sabtu, 23 Mei 2026
STOK PRODUK WONGPASAR GROSIR MALANG 23/05/2026
Rahasia 50 Biksu Kuat Jalan Kaki 666 Km ke Borobudur, Kaki Melepuh Cuma Ditusuk
Terik Matahari dan jauhnya jarak tidak menghentikan langkah puluhan biksu yang berjalan kaki menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dengan jubah sederhana dan perlengkapan secukupnya, mereka bertolak dari Pulau Dewata Bali demi mengikuti puncak rangkaian Hari Raya Waisak 2026. Hal tersebut mereka lakukan sebagai perjalanan spiritual atau thudong dalam rangka "Indonesia Walk for Peace 2026". Tak ada kendaraan pengangkut ataupun barang bawaan berlebih. Mereka hanya berjalan, berpindah dari satu daerah ke daerah lain, melewati Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta sebelum akhirnya tiba di Kabupaten Magelang.
Ketua Umum Indonesia Walk for Peace 2026 Tosin mengatakan, jumlah biksu yang berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur mencapai 50 orang.
Ritual tersebut dimulai pada Sabtu (9/5/2025) dan dijadwalkan berakhir di Candi Borobudur pada Minggu (31/5/2026). Rombongan biksu dijadwalkan singgah di Kota Solo pada Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 15.00 WIB sebelum melanjutkan perjalanan pada Minggu (24/5/2026). "Total perjalanan itu kalau sampai Borobudur bisa sampai 666 kilometer. Belum jika ada kemacetan, atau penyambutan umat itu bisa bertambah," kata Tosin di Buleleng, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (9/5/2026).
Rahasia Biksu Kuat Jalan Kaki dari Bali ke Candi Borobudur Di balik perjalanan ratusan kilometer itu, ada kehidupan disiplin yang dijalani para biksu. Ketua Pusat Informasi Indonesia Walk for Peace, Sanjaya Kanginnadhi, mengatakan bahwa para biksu yang mengikuti thudong terbiasa hidup di tempat sunyi, seperti hutan. Kehidupan sederhana itulah yang membentuk ketahanan fisik dan mental mereka selama menjalani perjalanan panjang menuju Candi Borobudur. Selain tinggal di tempat sederhana, para biksu juga terbiasa menjalani hidup minimalis dengan makanan seadanya.
“Mereka melatih kedisiplinan, mengikis kekotoran batin, dan hidup minimalis,” ujar Sanjaya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (22/5/2026). "43 Thailand, 4 Malaysia, 3 Laos. Yang Thailand dari wilayah Thung Yai daerah konservasi dekat Myanmar," tambahnya.
Dalam keseharian, para biksu menjalani pindapata, yakni menerima dana makanan dari masyarakat sekitar tanpa memilih jenis makanan tertentu.
“Mereka terbiasa ber-pindapata menerima dana makanan dari penduduk yang bertempat tinggal sekitar hutan,” ujar Sanjaya. Apa pun makanan yang diberikan masyarakat, itulah yang mereka santap selama perjalanan. Kesederhanaan juga terlihat dari pakaian yang digunakan. Para biksu hanya membawa satu jubah untuk dipakai setiap hari selama thudong berlangsung.
“Perjalanan siang panas basah, sore dicuci sendiri, dijemur, kemudian besoknya dipakai lagi,” imbuh Sanjaya. Perjalanan panjang itu tentu bukan tanpa rasa sakit. Kaki para bhikkhu kerap melepuh setelah berjalan puluhan kilometer di bawah panas Matahari. Namun, mereka tetap melanjutkan perjalanan.
“Dalam perjalanan kaki mereka melepuh, hanya di tusuk dengan peniti sehingga airnya keluar, d beri obat, kemudian jalan lagi,” jelas Sanjaya.
Bagi Sanjaya, perjalanan para bhikkhu dari Bali menuju Candi Borobudur bukan sekadar ritual keagamaan. Perjalanan itu juga menjadi gambaran nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Dampak Eksim Tak Cuma Ganggu Kesehatan Kulit Anak
Dermatitis atopik pada bayi dan anak awamnya dianggap sebatas masalah kulit kering dan ruam kemerahan saja. Padahal, peradangan kulit kronis ini menyimpan dampak beruntun yang jauh lebih kompleks dari sekadar rasa gatal. Menurut dr. Kartika Eda Clearesta, Sp.A kondisi kulit atopik yang tidak tertangani dengan baik dapat menciptakan efek domino. Ia mencontohkan bayi yang kulitnya terasa gatal cenderung akan rewel dan susah tidur. "Ketika anak itu kurang tidur, biasanya kesehariannya juga akan terganggu. Seperti mood-nya terganggu, misalnya gampang rewel, kemudian dikit-dikit mengantuk, tidur siangnya jadi lebih panjang. Akhirnya jadi tumbuh kembangnya terganggu," kata dr.Kartika dalam acara yang digelar oleh Mustela di Jakarta (21/5/2026).
Ancaman eksim pada kualitas hidup anak Siklus gatal dan gangguan tidur Gejala paling menyiksa dari dermatitis atopik adalah kemunculan rasa gatal yang tidak berkesudahan, terutama pada malam hari.
Dijelaskan oleh dr. Fihzan Ginting, M.Ked (Ped), Sp.A, kondisi ini dipicu oleh pertahanan kulit yang sangat rentan terhadap paparan eksternal. "Pada dermatitis atopik, skin barrier-nya rapuh, sehingga kulitnya tadi lebih gampang merah, iritasi. Gesekan sedikit saja bisa memengaruhi dermatitis atopik kambuh lagi," tuturnya di acara yang sama. Intensitas gatal yang tinggi secara otomatis memotong siklus istirahat anak. Fase tidur lelap yang sangat penting bagi metabolisme dan perbaikan sel tubuh bayi jadi terganggu. "Sedikit-sedikit bangun, tidurnya tidak nyenyak, dan deep sleep-nya terganggu, akhirnya growth hormone-nya juga terganggu," papar dr. Kartika.
Kurang tidur bikin anak GTM Anak yang kurang tidur malam, cenderung memanjangkan waktu tidur siangnya karena kelelahan, yang pada akhirnya memotong jam bermain dan masa eksplorasi lingkungan. Tidak hanya memengaruhi keterampilan motorik akibat berkurangnya stimulasi, rasa kantuk yang berkepanjangan juga dapat membuat nafsu makan turun. "Anak yang mengantuk terus di pagi sampai sorenya, itu akan mengganggu nafsu makan. Makanya sebagian besar pasien yang datang dengan GTM, kita harus memerhatikan bagaimana siklus tidurnya," jelas dr. Kartika.
Apabila asupan makanan berkurang dalam jangka panjang, indikator pertumbuhan fisik seperti tinggi badan, berat badan, hingga kecerdasan otak, akan langsung mengalami gangguan signifikan. "Kalau nafsu makannya si kecil itu terganggu pasti mamanya atau papanya juga ikutan pusing. Makanya kita perlu memahami bahwa masalah kulit si kecil itu tidak hanya berdampak ke anaknya, tapi juga ke keluarganya," pungkas dr. Kartika.
















