Recent Posts

Labels

Follow us on facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Contact Us

Blog Archive

Arsip Koran

Labels

Labels

Blogroll

Find Us

Paparan Polusi Udara, Ancaman Stroke dan Stunting di Depan Mata

Senin, 31 Agustus 2026

 


Kebakaran hutan dan lahan belakangan ini semakin meluas, membawa korban bukan hanya kerusakan sumber daya alam, satwa, dan lingkungan hidup, tapi juga ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia dalam arti sesungguhnya. Risiko peningkatan insiden penyakit pembuluh darah, khususnya stroke dan stunting perlu menjadi perhatian serius. Sekali pun stroke adalah salah satu penyakit katastropik yang bisa dicegah dan diobati, lonjakan tajam terjadi belakangan ini akibat pertumbuhan populasi, meningkatnya penduduk usia lanjut di seluruh dunia, juga paparan terhadap faktor risiko lingkungan dan perilaku gaya hidup. Temuan ini telah dipublikasikan oleh jurnal kesehatan bergengsi The Lancet Neurology dan dipresentasikan pada Kongres Stroke Sedunia di Abu Dhabi, Oktober 2024.

Polusi Udara dan Tingkat Keparahan Stroke Lima faktor utama faktor risikonya adalah hipertensi, partikel polusi udara, merokok, kolesterol tinggi, dan polusi udara akibat kegiatan rumah tangga seperti memasak dengan kayu bakar dan bakaran sampah.

Paparan jangka pendek dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, gangguan irama jantung dan gagal jantung pada kelompok rentan seperti lansia atau mereka yang telah mempunyai kondisi kesehatan tertentu. Sedangkan paparan jangka panjang berakibat pada kematian. Studi selama 2 tahun di Camden, New Jersey, Amerika Serikat menunjukkan fluktuasi PM 2.5 (partikel udara sangat halus berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau 30 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia) berhubungan dengan tingkat keparahan stroke. Saat ini, polusi udara semakin dikenal sebagai faktor determinan lingkungan terjadinya penyakit otak dan pembuluh darah. PM 2.5 berkaitan dengan stres oksidatif, peradangan sistemik dan gangguan fungsi dinding pembuluh darah yang mengganggu kerja syaraf dan pembuluh darah itu sendiri. PM 2.5 terhirup, menembus alveoli (kantung udara mikroskopis di ujung bronkiolus paru-paru yang berfungsi sebagai tempat utama pertukaran oksigen dan karbon dioksida) dan masuk sirkulasi darah, menyebabkan pelepasan sitokin (protein yang mengatur kekebalan tubuh).

Sementara itu ozon (hasil reaksi polusi dan sinar matahari) menyebabkan cedera oksidatif pada saluran napas. Kedua proses di atas mendukung teori aksis peradangan paru-otak yang memberi studi berbasis bukti untuk kejadian penyakit otak dan pembuluh darah yang berhubungan dengan polusi. Paparan Polusi pada Ibu Hamil Berisiko Sebabkan Anak Stunting Didanai UNICEF, Vital Strategies merupakan kegiatan studi yang meneliti dampak polusi udara terhadap beban ekonomi dan kesehatan di Indonesia, yang apabila sebaliknya polusi dapat dikontrol, maka sektor ekonomi dan kesehatan pun bisa menuai manfaat. Studi awal menunjukkan, bahwa kebijakan yang dijalankan saat ini tidak cukup mengatasi tren kualitas udara di Indonesia pada tahun 2030. Vital Strategies memaparkan bahwa risiko stunting akibat polusi udara dimulai sejak dalam kandungan, saat ibu hamil menghirup PM 2.5 – dan berlangsung hingga anak lahir, berimbas pada masa tumbuh kembangnya (Vital Strategies (2021). New Research Underscores that Childhood Stunting from Air Pollution is a Global Health Threat). Paparan polusi pada ibu hamil dapat menurunkan fungsi plasenta. Akibatnya, pasokan oksigen dan nutrisi ke janin berkurang, memicu risiko bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Paparan partikel halus seperti PM2.5 pada bayi dan anak juga memicu gangguan pernapasan dan ISPA. Sakit berulang membuat tubuh anak fokus melawan infeksi, sehingga energi dan nutrisi untuk pertumbuhan terhambat.

Balita yang sakit, ditambah anemia, mempunyai nafsu makan buruk. Apalagi jika stimulasi tidak dipahami orangtua. Bisa dibayangkan betapa sia-sianya pembagian ‘Makan Bergizi Gratis” dalam situasi carut marut serupa itu. Barangkali untuk kembali pada tujuan semula, kita perlu mengingat 5 pilar pencegahan stunting sebagai strategi nasional (stranas) yaitu: 1. Komitmen dan visi kepemimpinan tertinggi negara; 2. Kampanye nasional dan komunikasi perubahan perilaku; 3. Konvergensi, koordinasi, dan konsolidasi program pusat, daerah, dan desa; 4. Gizi dan ketahanan pangan, 5. Pemantauan dan evaluasi

Pemenuhan gizi sebagai intervensi spesifik tidak memberi dampak apa pun, jika kontribusi intervensi sensitif yang jauh lebih luas tidak digarap, yakni pengentasan anemia, sanitasi dan higiene yang terpenuhi dengan baik, pencegahan polusi, pengadaan air bersih, cakupan imunisasi yang mampu menciptakan kekebalan kelompok – bukan hanya individu – perlindungan keluarga terhadap bahaya rokok, edukasi pola makan sehat keluarga, dan akses keluarga terhadap pasokan pangan bergizi serta terjangkau. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Sebaliknya, untuk menggandeng partisipasi publik dan lintas sektor, dibutuhkan iklim politik dan kepercayaan tinggi terhadap petinggi negara, dengan berjalannya kebijakan sesuai aturan perundangan yang berlaku, mencegah kaum oportunis meraup untung dan membuka peluang korupsi dengan korban masyarakat itu sendiri.

BEDCOVER AKIKO 180 FLAT HORIZON



SUMBERhttps://lifestyle.kompas.com/read/2026/08/31/070923820/paparan-polusi-udara-ancaman-stroke-dan-stunting-di-depan-mata?page=2


SPREI CALIFORNIA 180 FALLON

Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar