Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi harapan yang terus diperjuangkan penyandang disabilitas di tengah persaingan dunia kerja. Hal itu terlihat dalam Job Fair Inklusif 2026 di Jakarta Timur pada Rabu (2/9/2026) yang mempertemukan pencari kerja disabilitas dengan sejumlah perusahaan yang membuka kesempatan kerja. Bagi sebagian pencari kerja, datang ke bursa kerja bukan sekadar mencari lowongan, tetapi menjadi upaya untuk kembali mandiri, memperoleh penghasilan, sekaligus membuktikan kemampuan yang dimiliki.
Perjuangan itu dilalui dengan cara berbeda oleh Satria (29) yang berdamai dengan kondisi fisiknya, Dadang (45) yang berulang kali mendatangi job fair, hingga Joy (24), Pandu (24), dan Valen (21) yang telah menemukan ruang untuk berkarya. Di sisi lain, sejumlah perusahaan mulai membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas dengan menyediakan pelatihan, fasilitas pendukung, hingga peluang pengembangan karier.
Kisah mereka menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan selalu menjadi penghalang untuk bekerja ketika kesempatan, lingkungan, dan dukungan yang sesuai tersedia.
Kisah Satria bangkit lagi usai kecelakaan Satria (29) kembali mencari pekerjaan setelah sebelumnya sempat kehilangan kepercayaan diri akibat kecelakaan sepeda motor pada 7 November 2020. Kecelakaan tersebut membuat Satria mengalami Spinal Cord Injury (SCI) dan harus menggunakan kursi roda seumur hidup. “Saya karena kecelakaan motor, jadi saya pengguna kursi roda, masuknya SCI, Spinal Cord Injury, kata dokter sih kemungkinan penggunaan kursi roda ya seumur hidup,” kata Satria saat ditemui Kompas.com di Job Fair Inklusif, Rabu (2/9/2026). Perubahan itu sempat membuat Satria sempat mengambil cuti kuliah selama dua semester dan mengundurkan diri dari pekerjaan pertamanya karena kehilangan kepercayaan diri.
Ia bahkan mengaku pernah berada di titik terendah hingga merasa hidupnya tidak lagi berguna akibat perkataan orang-orang di sekitarnya. “Saya hampir mau menyerah mengakhiri hidup karena ada omongan dari tetangga-tetangga, jadi kayak merasa hidup saya tidak berguna lagi,” ujar Satria. Perlahan, dukungan orangtua, dosen, dan teman-temannya membuat Satria kembali menyelesaikan pendidikan.
Hingga kemudian memperoleh pekerjaan sebagai pembuat situs web secara remote untuk perusahaan asal Rumania. Pengalaman itu membuat Satria menyadari bahwa keahliannya tetap dapat digunakan meski kondisi fisiknya berubah. “Saya mikir, ternyata skill saya masih bisa digunakan walaupun kondisi berbeda,” ujar Satria. Kini, Satria kembali mencari pekerjaan di bidang teknologi informasi dan berharap perusahaan menilai kemampuan seseorang dari pola pikir serta keahliannya, bukan semata-mata kondisi fisik. “Perusahaan-perusahaan itu harus melihat jangan dari fisik, tapi melihat dari pola pikirnya dan otaknya,” ucap Satria.
Dadang dan tongkatnya berjuang cari kerja Perjuangan mencari pekerjaan juga dijalani Dadang (45), penyandang tunanetra asal Jakarta Barat yang kehilangan pekerjaannya pada akhir 2025.
Sejak Maret 2026, Dadang telah mendatangi berbagai job fair di Jakarta, mulai dari Jakarta Barat, Jakarta Selatan hingga Jakarta Utara.
“Saya dari job fair ibaratnya dari Barat, Selatan, Utara mungkin udah semua didatangi juga sih, tapi untuk sampai saat ini belum diterima,” kata Dadang.
Dengan bantuan tongkat dan tuntunan putranya, Dadang kembali mendatangi satu per satu meja perusahaan untuk mencari posisi yang sesuai dengan kemampuannya. Ia berharap perusahaan yang membuka lowongan bagi penyandang disabilitas benar-benar memberikan kesempatan kerja, bukan sekadar menjadikan job fair sebagai formalitas. “Jangan hanya mengadakan job fair sebagai formalitas,” ujar Dadang.
Selama sekitar 15 tahun, Dadang bekerja sebagai telemarketing di sebuah bank swasta hingga akhir 2025. Ia memiliki kemampuan mengoperasikan komputer menggunakan teknologi pembaca layar atau screen reader.
Dalam job fair kali ini, Dadang sempat mencoba melamar ke TP Indonesia, tetapi salah satu posisi yang diminatinya mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris yang belum dikuasainya. Kondisi tersebut membuat pilihan pekerjaannya semakin terbatas, tetapi Dadang tetap berusaha mencari penghasilan demi menafkahi istri dan kedua anaknya. “Ya kan mengikuti jobfair dan mencari kerja karena perlu untuk menafkahi anak istri,” kata Dadang.
Cerita kawan disabilitas bangga bisa bekerja Kesempatan bekerja telah lebih dulu dirasakan Joy (24), Pandu (24), dan Valen (21) yang kini bekerja di PT Nurfan Kreatif Bersama. Joy, penyandang disabilitas down syndrome, pekerjaannya berkaitan dengan komputer, termasuk mengurus Canva dan Instagram. “Saya senang, bangga, saya ingin membanggakan orangtua saya dan membiayai kuliah sendiri saya,” kata Joy.
Dari penghasilannya, Joy berencana membantu membiayai pendidikan hingga jenjang S1 sambil menyimpan cita-cita menjadi seorang pengusaha. “Cita-cita saya seperti businesswoman,” ujar Joy. Sementara itu, Pandu (24), penyandang disabilitas intelektual, menemukan pekerjaannya sebagai barista setelah mengikuti pelatihan di Rumah Kreatif Nurfan. Ia mengatakan aktivitas meracik kopi membuatnya senang, meski masih menyimpan cita-cita untuk mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang polisi. “Cita-citanya polisi,” ujar Pandu.
Adapun Valen (21), penyandang tunarungu, bekerja mengerjakan kerajinan tangan yang menjadi bagian dari produk perusahaan untuk diekspor. “Senang bekerja di sini, saya bangga,” ujar Valen melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan instruktur kepada Kompas.com.
Bagi ketiganya, pekerjaan menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus menjalani kehidupan dengan harapan yang mereka miliki.
Jenjang karier untuk difabel Kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk masuk ke dunia kerja juga mulai dibarengi dengan pelatihan dan penyesuaian lingkungan kerja dari sejumlah perusahaan. PT Transportasi Jakarta atau Transjakarta, misalnya, membuka peluang bagi penyandang disabilitas pada bidang UI/UX, IT Engineer, dan Cybersecurity IT. “Kalau dari kita sendiri memang lagi buka di tiga fokus ini sih,” ujar Staf SDM Transjakarta, Faiza, saat ditemui Kompas.com dalam job fair inklusif di Jakarta, Rabu (2/9/2026). Pelamar yang belum memiliki pengalaman kerja tetap dapat dipertimbangkan apabila pernah mengikuti magang atau pelatihan yang berkaitan dengan posisi yang dibutuhkan. Faiza mengatakan pekerja disabilitas yang diterima nantinya juga akan mendapatkan pelatihan dan arahan untuk membantu proses adaptasi di lingkungan kerja. “Nanti pasti ada seperti yang tadi balik lagi, pelatihan mungkin ya, atau arahan yang disiapkan gitu, agar mereka nantinya begitu join bakal bisa adaptasi dan juga siap kerja,” ucap Faiza.
Sementara itu, PT Nurvan Kreatif Bersama memberikan pelatihan dengan menyesuaikan minat, kebutuhan, dan tujuan kerja masing-masing peserta. “Biasanya kita juga melihat dari concern mereka, dari kebutuhan mereka juga, memang mereka butuh dilatih, mereka ada minatnya, atau mereka mungkin ada tujuannya untuk kerjanya itu sebagai apa,” ujar petugas administrasi Nurvan Kreatif Bersama, Gina. Pelatihan tersebut tidak hanya mencakup barista, tetapi juga bakery, menjahit, dan menyulam sebelum peserta disalurkan ke dunia kerja. Sejumlah peserta yang telah mendapatkan pelatihan bahkan telah disalurkan ke perusahaan lain, di antaranya PT Toyota Tsusho Indonesia dan PT United Tractors. Di perusahaan lainnya, TP Indonesia membuka sekitar 20 posisi bagi penyandang disabilitas yang sebagian besar ditempatkan pada pekerjaan customer service. Staf TP Indonesia, Irgi, mengatakan perusahaan juga menyiapkan perangkat lunak untuk membantu pekerja disabilitas menjalankan tugasnya. “Kalau ada penyandang disabilitas yang tidak bisa menggunakan keyboard atau apa gitu, jadinya kita bisa menggunakan software yang bisa membantu mereka,” kata Irgi.
Pekerja yang diterima juga mendapatkan pelatihan sebelum bekerja dan memiliki kesempatan mengembangkan karier dari customer service menjadi team leader, trainer, maupun supervisor. “Kalau di kita sebelum kerja ada training-nya,” ujar Irgi. Kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas tidak berhenti pada proses perekrutan. Tetapi juga mencakup dukungan agar mereka dapat beradaptasi, bekerja, dan berkembang di lingkungan profesional.
| SELIMUT EMILIA 160 MAHENDRA |
SELIMUT ROSANNA VITO 160 LEVI
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar