Bukan Tak Mau Punya Rumah, Ini Alasan Gen Z Menunda Beli Rumah
Keinginan memiliki rumah ternyata belum hilang dari benak anak muda, meski sebagian memilih menunda pembelian dan lebih dulu menikmati penghasilan untuk kebutuhan lain. Di tengah gaya hidup You Only Live Once atau YOLO yang berarti "hidup cuma sekali", keputusan anak muda untuk makan di luar, bepergian, menikmati konser, atau menekuni hobi kerap dianggap sebagai alasan mereka belum memiliki rumah. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, kondisi tersebut tidak tepat jika langsung dibaca sebagai perubahan keinginan generasi muda yang kini lebih memilih menyewa atau menikmati hidup dibandingkan memiliki rumah. Menurut Ferry, yang berubah justru waktu pembelian, lokasi hunian, dan tipe rumah yang dianggap realistis untuk dibeli.
"Generasi muda ini sebenarnya mereka itu tidak kehilangan keinginan untuk memiliki rumah. Yang berubah itu adalah kapan mereka bisa, kemudian lokasinya di mana, dan rumah seperti apa yang realistis yang bisa mereka beli," kata Ferry saat dihubungi Kompas.com, Jumat (2/10/2026). Ia mengingatkan agar fenomena generasi muda yang memilih menyewa atau tinggal bersama orang tua tidak langsung disimpulkan sebagai tanda bahwa Gen Z tidak tertarik memiliki rumah. Ferry merujuk data BP Tapera yang menunjukkan 62 persen dari 278.000 penerima FLPP pada 2025 berusia 19-30 tahun. Menurut dia, dominannya kelompok usia muda dalam penyaluran KPR subsidi justru menunjukkan bahwa ketika produk dan pembiayaan sesuai dengan kemampuan, keinginan memiliki rumah tetap ada. Di sisi lain, Ferry juga mengutip survei Ray yang menunjukkan 36 persen responden Gen Z memilih menyewa, terutama karena belum siap secara finansial.
Dalam survei tersebut, hanya 5 persen responden yang menyatakan siap membeli rumah dalam waktu kurang dari satu tahun. Karena itu, Ferry melihat keputusan menunda pembelian rumah lebih tepat dipahami sebagai respons terhadap keterjangkauan atau affordability, bukan perubahan aspirasi. Bagi pekerja muda di Jakarta, persoalan rumah bahkan tidak berhenti pada harga jual. Rumah yang masih berada dalam kemampuan mereka sering kali berada jauh dari tempat kerja dan pusat aktivitas. Sebaliknya, rumah yang berada di lokasi strategis umumnya memiliki harga yang semakin sulit dijangkau.
"Kalau anak-anak di kota besar seperti Jakarta, beli rumah itu sekarang juga merupakan trade-off antara kemampuan, affordability, dan lokasi," kata Ferry. Menurut dia, harga rumah primer secara nasional belakangan memang tidak meningkat terlalu tinggi. Mengacu pada survei harga properti residensial Bank Indonesia, indeks harga properti residensial tumbuh 0,69 persen secara tahunan. Namun, penjualan rumah primer masih terkontraksi 2,36 persen secara tahunan, meskipun membaik dibandingkan kontraksi 25,7 persen pada kuartal I 2026. Kondisi itu, menurut Ferry, menunjukkan persoalan kepemilikan rumah tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat harga rumah naik dalam satu tahun terakhir.
Ada akumulasi kenaikan harga tanah dan properti dalam jangka panjang yang membuat harga awal rumah relatif tinggi dibandingkan dengan kemampuan pendapatan sebagian masyarakat. "Persoalan utamanya itu adalah affordability atau kemampuan membeli," ujar dia. Di Jakarta, persoalan tersebut menjadi lebih kompleks karena harga tanah yang mahal. Akibatnya, rumah yang masih berada dalam kemampuan pekerja muda semakin banyak bergeser ke wilayah penyangga. Selain harga rumah, calon pembeli harus menyiapkan uang muka atau DP, menghitung cicilan KPR, mempertimbangkan suku bunga, sekaligus memenuhi biaya hidup dan transportasi.
Ferry menyebut sekitar 70 persen rumah penduduk masih menggunakan KPR. Artinya, kemampuan membayar cicilan bulanan menjadi faktor penting dalam keputusan membeli rumah. "Affordability atau kemampuan ini sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai perbandingan harga rumah dengan gaji. Tetapi juga kemampuan rumah tangga untuk menyediakan DP. Kemudian gimana mereka bisa mempertahankan cicilan dalam jangka waktu panjang tanpa mereka mengorbankan kebutuhan hidup lainnya," jelas Ferry.
Perubahan pilihan tempat tinggal pun tidak selalu berarti anak muda meninggalkan cita-cita memiliki rumah. Sebagian memilih menyewa terlebih dahulu di Jakarta atau dekat tempat kerja. Bagi Ferry, menyewa dapat menjadi solusi sementara agar pekerja muda tetap dekat dengan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
Sebagian lainnya memilih unit yang lebih kecil atau membeli rumah tapak di wilayah penyangga seperti Tangerang dan Bekasi. Rumah di pinggiran, menurut Ferry, lebih mudah diterima jika memiliki konektivitas transportasi yang baik, misalnya dekat KRL, LRT, jalan tol, atau transportasi publik lainnya. "Ada tiga kemungkinan yang berkembang. Pertama adalah mereka menyewa dulu di lokasi strategis, kemudian atau mereka membeli unit yang lebih kompak atau membeli rumah tapak di wilayah di luar Jakarta," ujar dia. Dalam lima hingga 10 tahun ke depan, Ferry menilai kepemilikan rumah di Jakarta akan semakin sulit bagi generasi muda jika harga tanah dan rumah terus meningkat lebih cepat daripada kemampuan pendapatan. Namun, hal itu tidak berarti generasi muda tidak akan memiliki rumah. Yang kemungkinan berubah adalah lokasi, ukuran, tipe hunian, dan skema pembiayaannya.
"Kalau kita mau lihat 5-10 tahun ke depan, kita mungkin akan melihat semakin banyak generasi muda yang membeli rumah pertama mereka itu di luar Jakarta. Tetapi tetap memprioritaskan keterhubungan dengan Jakarta lewat transportasi massal misalnya," kata Ferry. Di dalam Jakarta, menurut dia, hunian vertikal dengan ukuran yang lebih efisien juga memiliki peran yang semakin penting. Ferry menyebut tenor KPR hingga 30 tahun sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan masyarakat membeli rumah karena cicilan bulanan dapat menjadi lebih ringan. Selain itu, opsi rent-to-own, bantuan DP, maupun subsidi pembiayaan yang lebih terarah dapat membantu generasi muda masuk ke pasar perumahan. Namun, pembiayaan saja tidak cukup. "Kalau KPR-nya dibuat lebih mudah tapi produk yang tersedia tetap terlalu mahal atau terlalu jauh dari pusat pekerjaan, persoalan kemampuan atau affordability ini memang tidak sebetulnya bisa diselesaikan," tutur dia.
Karena itu, tantangan dalam lima hingga 10 tahun ke depan bukan hanya membuat anak muda mampu membeli rumah, tetapi menyediakan hunian dengan kombinasi harga, ukuran, lokasi, dan akses transportasi yang sesuai dengan kemampuan mereka. Pernah Kejar Rumah Sebelum Usia 30 Tahun Kondisi tersebut turut dirasakan Tika (30), karyawan swasta yang tinggal di Jakarta Pusat. Tika mengaku pernah memiliki target harus membeli rumah sebelum berusia 30 tahun. Saat itu, ia berusaha menyisihkan hampir seluruh bonus dan penghasilan tambahan untuk tabungan rumah. Namun, target tersebut justru membuatnya merasa tertekan. "Setiap kali mau membeli sesuatu, saya merasa bersalah. Mau pergi liburan juga mikir, 'uang ini seharusnya masuk tabungan rumah'," kata Tika saat dihubungi melalui Threads.
Seiring waktu, Tika mulai mengubah cara pandangnya. Ia tetap menabung, tetapi memberikan porsi tertentu untuk menikmati hidup. Bentuknya pun tidak selalu berupa perjalanan mahal. Sesekali ia makan enak, ngopi bersama teman, menonton konser, atau pergi ke luar kota. Menurut Tika, pengalaman tersebut tetap memiliki nilai bagi dirinya. "Buat saya pengalaman itu juga bentuk investasi emosional. Saya bisa mengingat pernah pergi dengan teman, pernah melihat musisi favorit, pernah mengunjungi tempat tertentu," ujar dia. Keputusan menunda rumah juga bukan semata-mata karena ingin menikmati hidup. Tika sudah pernah melakukan survei sejumlah rumah. Setelah dihitung, biaya yang harus disiapkan ternyata tidak berhenti pada harga jual.
Ada DP, cicilan, biaya notaris, pajak, renovasi, hingga furnitur. Rumah yang sesuai dengan keinginannya memiliki harga yang tinggi. Jika dipaksakan, cicilan akan mengambil porsi besar dari penghasilan bulanannya. "Saya akhirnya berpikir, untuk apa saya punya rumah tetapi setiap bulan hidup saya tertekan karena cicilan?" kata dia. Tika masih memiliki kekhawatiran bahwa harga properti akan semakin sulit dijangkau jika terlalu lama menunda. Namun, ia tidak ingin membeli rumah hanya karena takut ketinggalan. Salah satu pilihan yang dipertimbangkannya adalah mencari rumah di luar Jakarta atau menunggu sampai kondisi keuangan benar-benar lebih siap. "Saya masih ingin punya rumah, cuma definisinya sekarang berubah. Dulu saya membayangkan rumah sebagai pencapaian. Sekarang saya melihatnya lebih sebagai tempat tinggal yang harus sesuai dengan kemampuan," ujar Tika.
Mengejar Penghasilan Sebelum Mengejar Rumah Cerita berbeda datang dari Miftah (24), pekerja kreatif di Jakarta Selatan. Dengan penghasilan sekitar Rp 5 juta per bulan, Miftah belum menjadikan membeli rumah sebagai target dalam waktu dekat. Penghasilannya diprioritaskan untuk kebutuhan sehari-hari, membantu keluarga, dan menabung. Jika masih ada sisa, barulah digunakan untuk hiburan. Ia mengaku suka ngopi dan nongkrong, tetapi tidak selalu menghabiskan banyak uang. Menurut Miftah, mengendalikan pengeluaran memang penting. Namun, persoalan rumah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengurangi pengeluaran kecil. "Saya lebih fokus meningkatkan penghasilan dulu. Kalau penghasilan saya tetap Rp 5 juta, saya mau menabung sebanyak apa pun rasanya tetap berat," kata Miftah.
Ia melihat generasinya memasuki dunia kerja dalam kondisi yang berbeda. Ketika orang tuanya dahulu berbicara mengenai rumah, harga rumah dan penghasilan mungkin masih lebih seimbang. Kini, ketika baru mulai bekerja, harga rumah yang dilihat sudah berada pada angka yang tinggi. Karena itu, rumah baginya merupakan target jangka panjang. "Mungkin yang harus saya kejar bukan hanya mengurangi ngopi, tetapi bagaimana pendapatan saya bisa naik," ujar dia. Media sosial tetap memiliki pengaruh terhadap gaya hidup Miftah. Melihat orang lain bepergian, menghadiri konser, atau makan di restoran tertentu kadang membuatnya berpikir, "Kapan lagi?".
Namun, ia menyadari kondisi finansial setiap orang berbeda.
Ia pun tidak selalu mengikuti tren yang muncul di media sosial. Bagi Miftah, rumah tetap menjadi sesuatu yang ingin dimiliki suatu hari nanti, terutama ketika sudah berkeluarga. Namun, ia tidak ingin menjadikan rumah sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. "Kalau saya bisa punya tabungan, investasi, pekerjaan yang saya suka, bisa membawa orangtua jalan-jalan, dan suatu saat punya rumah, menurut saya itu sudah cukup," kata Miftah.
Menikmati Hidup Tanpa Mengabaikan Masa Depan Perencana keuangan Melvin Mumpuni mengatakan kecenderungan anak muda menikmati penghasilan saat ini dapat dijelaskan melalui fenomena present bias.
Fenomena tersebut membuat seseorang cenderung memberikan bobot lebih besar terhadap manfaat yang diterima sekarang dibandingkan dengan manfaat yang baru diperoleh pada masa depan. Ngopi Rp 50.000, makan enak, konser, traveling, atau nongkrong bersama teman memberikan kepuasan yang langsung dirasakan. Sebaliknya, menabung Rp 5 juta untuk DP rumah mungkin baru menghasilkan rumah beberapa tahun kemudian. "Present bias, kita cenderung memberikan bobot lebih besar kepada manfaat yang diterima sekarang dibanding manfaat yang baru diterima di masa depan," kata Melvin saat dihubungi. Target rumah juga dapat terasa semakin jauh ketika seseorang melihat harga rumah Rp 1 miliar, sementara tabungannya baru Rp 50 juta.
Dari sana dapat muncul pola pikir, "Kalau sekarang juga belum mungkin beli rumah, sekalian menikmati hidup." Menurut Melvin, pola tersebut dapat menjadi self-fulfilling prophecy. Karena tidak mulai menyiapkan dana, beberapa tahun kemudian posisi finansial seseorang tidak banyak berubah. Di sisi lain, generasi muda juga melihat kepemilikan rumah bukan satu-satunya bentuk keberhasilan. Pengalaman seperti traveling, kuliner, konser, hobi, dan lifestyle menjadi bagian dari cara mereka menikmati hidup. Melvin mengatakan prinsip YOLO tidak otomatis menjadi persoalan. Masalah muncul ketika YOLO berubah menjadi "hidup sekarang, urusan masa depan nanti". Ia lebih menyarankan konsep Healthy YOLO, yakni menikmati hidup sekarang karena kebutuhan masa depan sudah disiapkan.
"Saya menikmati hidup sekarang karena saya sudah menyiapkan kebutuhan masa depan," ujar dia. Menurut Melvin, YOLO seharusnya menjadi anggaran untuk menikmati hidup, bukan alasan untuk merusak masa depan. Ia tidak menyarankan satu persentase pembagian penghasilan yang berlaku untuk semua orang. Kondisi seseorang yang baru bekerja berbeda dengan orang yang sudah menikah, memiliki anak, atau sedang mengejar DP rumah. Melvin menyarankan agar seseorang menentukan prioritas terlebih dahulu. "Begitu pegang uang, langsung sedekah, investasi dan sisanya dibelanjain," kata dia. Investasi juga dapat dilakukan secara rutin dan otomatis jika memungkinkan, kemudian disertai anggaran serta evaluasi berkala.
Sementara mengenai rumah, Melvin melihat ada faktor lain yang menentukan keputusan seseorang, yakni urgency. Ketika kebutuhan memiliki rumah menjadi mendesak, misalnya karena akan menikah, memiliki anak, atau mempersiapkan masa pensiun, seseorang secara naluriah akan mencari pilihan yang paling realistis, termasuk dari sisi harga properti. Setelah itu, barulah muncul upaya mencari cara untuk mencapainya. Persoalannya, bagi sebagian anak muda, rumah belum menjadi kebutuhan yang mendesak. Mereka masih bisa tinggal bersama orang tua, berharap suatu saat mendapatkan warisan atau bantuan orang tua, maupun memilih menyewa. "Selama tidak ada motivasi kuat atau urgency, tidak akan ada gerakan," ujar Melvin. Pada akhirnya, pilihan menikmati hidup saat ini tidak selalu berlawanan dengan keinginan memiliki rumah. Bagi sebagian anak muda, keduanya hanya memiliki waktu yang berbeda. Rumah tetap menjadi tujuan, tetapi tidak harus dibeli secepat mungkin. Sementara pengalaman dan kebutuhan hidup tetap ingin dinikmati selagi mereka memiliki kesempatan.
| SPREI FATA 180 T30 YOLANDA |

