"Mama, Aku Gagal Jadi Ibu", Jeritan Ibu di Depok Usai Bayinya Meninggal dan Rahim Diangkat
"Mama, Indri gagal jadi seorang perempuan, jadi seorang ibu." Kalimat itu masih terngiang di telinga Edeh, warga RT 02 RW 12, Tapos, Depok, Jawa Barat, selama sepekan terakhir. Di tengah kondisi putrinya yang belum pulih pascaoperasi, Edeh harus menyaksikan sang anak bergulat dengan kesedihan setelah kehilangan bayi yang dikandungnya sekaligus rahimnya. Indri (31) merupakan ibu yang mengalami masalah saat proses persalinan di Puskesmas Tapos dan RSIA Setya Bhakti, Depok, pada 23-24 September lalu. Bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan meninggal dunia saat proses persalinan, sementara rahimnya terpaksa harus diangkat karena pendarahan akibat robek.
Bagi Edeh, kejadian tersebut bukan hanya meninggalkan luka fisik bagi putrinya. Dampak emosionalnya juga masih terasa hingga kini.
Edeh mengatakan, Indri masih takut bertemu orang lain, terlebih jika ada yang menanyakan kejadian yang dialaminya. Oleh karena itu, Edeh membatasi orang-orang yang datang menjenguk putrinya. Ia tidak ingin Indri terus-menerus mengingat pengalaman yang membuatnya terpukul.
"Jadi dia takut ketemu orang, takut ditanya-tanya gimana kejadiannya. Pasti kan mereka pengin tahu kejadiannya itu. Makanya saya tuh selalu jaga untuk dia bertemu dengan orang, dia juga enggak mau," ujarnya saat ditemui di Puskesmas Tapos, Depok, Kamis (1/10/2026). "Dari awal tuh dia teriak 'Mama, Indri gagal jadi seorang perempuan, jadi seorang ibu!' Kita kan gak sampai hati ya jadi orang tua. Ya Allah cuma bisanya bilang, 'Sabar, Ndri, sabar,"," ucapnya menirukan suara anaknya. Masih Trauma Indri tak kuasa menahan tangis ketika ia dan keluarga menghadiri pertemuan dengan Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, dan pengurus Puskesmas Tapos di Puskesmas Tapos pada siang tadi.
Baru sekitar 15 menit pertemuan dimulai, Indri langsung keluar ruangan rapat dalam keadaan menangis. "Enggak kuat saya di sini (Puskesmas Tapos), rasanya masih trauma," ujar IN sembari sesenggukan. Wajahnya tampak sembab dan terlihat kelelahan. Tangannya gemetar ketika mengambil tisu yang Kompas.com sodorkan kepadanya. Anak pertama Indri yang semula sedang duduk di luar ruangan bersama seorang keluarga langsung menghampiri ibunya.
Menunggu Penjelasan Pihak Rumah Sakit Edeh mengaku masih menyimpan banyak pertanyaan mengenai proses persalinan Indri, terutama terkait kondisi yang membuat rahim putrinya harus diangkat.
Menurutnya, selama masa kehamilan, Indri rutin menjalani pemeriksaan, termasuk ultrasonografi (USG) di Puskesmas Tapos. Hasil pemeriksaan juga tidak pernah menunjukkan adanya masalah pada kondisi bayi maupun rahim Indri. Namun, situasi berubah ketika Indri menjalani persalinan pada Rabu (23/9/2026). Indri mulai masuk Puskesmas Tapos sekitar pukul 15.00 WIB. Ketuban kemudian dipecahkan oleh bidan sekitar pukul 21.00 WIB lantaran kepala janin tidak masuk ke jalur lahir.
Setelah itu, ia dirujuk ke RSIA Setya Bhakti pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB.
Sesampainya di RSIA Setya Bhakti, Indri tidak langsung ditangani untuk operasi. Sekitar pukul 04.00 WIB, perawat memeriksa detak jantung anak Indri dan masih terdengar bunyinya.
Setelah itu, operasi caesar baru dilakukan sekitar pukul 05.00 WIB.
Edeh mengingat betul bagaimana putrinya mengeluhkan rasa sakit selama menunggu tindakan di rumah sakit. "Dia teriak, 'Sakit, Mama! Panas, Mama! Perih, Mama!'," kata Edeh menirukan suara anaknya. Edeh mempertanyakan mengapa tindakan operasi baru dilakukan beberapa jam setelah IN tiba di rumah sakit.
Bagi Edeh, waktu yang berlalu selama proses tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang sulit dilupakan keluarga. "Penanganannya sih maksimal, cuma kelalaian kurang cepat. Bayangin dari dia masuk itu jam 15.00 ya. Terus pertama dia tuh ngerujuk jam 23.00, mungkin dokternya belum ada diganti lagi ke jam 01.00. Jam 01.00 itu langsung dioper ke Rumah Sakit Setya Bhakti," jelasnya. "Tapi kenapa pas di situ dokternya belum ada di tempat? Harusnya kita mau rujuk itu dokter sudah ada di tempat, mungkin langsung penanganan. Ini kita dari jam 01.00 sampai jam 05.00 baru ditangani," sambungnya. Tak Ingin Tragedi Serupa Terulang Meski masih menyimpan kekecewaan, Edeh mengatakan keluarga tidak ingin pengalaman yang dialami anaknya hanya menjadi persoalan mereka sendiri. Ia berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi fasilitas pelayanan kesehatan, terutama dalam menangani ibu yang membutuhkan pertolongan persalinan darurat.
"Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi kepada orang lain," kata Edeh.
Keluarga kini menunggu hasil audit yang akan dilakukan Dinas Kesehatan Kota Depok untuk menelusuri penanganan Indri, baik saat berada di Puskesmas Tapos maupun ketika dirujuk ke RSIA Setya Bhakti. Edeh mengatakan, keluarga juga mempertimbangkan langkah hukum apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya kelalaian dalam penanganan putrinya. "Jangan sampai kejadian seperti ini lagi, cukup dengan anak saya. Tapi yang saya sayangkan itu ya rahim ya, dia masih muda. Mungkin kalau anak meninggal ya memang sudah nasib, meski memang tidak ada gejala apa-apa anak saya. Kenapa sampai rahimnya tuh rusak, sampai diangkat? Nah itu apa penyebabnya? Saya orang awam, saya enggak ngerti," tuturnya. Namun, untuk saat ini, ia masih berusaha mendampingi Indri melewati masa sulit setelah kehilangan bayi dan rahimnya. Di tengah proses pemulihan itu, Edeh berharap putrinya perlahan dapat kembali menjalani kehidupan tanpa terus dibayangi pengalaman persalinan yang menyakitkan.
| SPREI ROSANNA VITO B4 180 CHEALSEA |
| KARMUT CALIFORNIA 150 ADELIO Baca Juga : |
Komentar
Posting Komentar