Edisi Digital Terkini | Berita Aktual & Terpercaya

Recent Posts

Bukan Tak Mau Punya Rumah, Ini Alasan Gen Z Menunda Beli Rumah

 


Keinginan memiliki rumah ternyata belum hilang dari benak anak muda, meski sebagian memilih menunda pembelian dan lebih dulu menikmati penghasilan untuk kebutuhan lain. Di tengah gaya hidup You Only Live Once atau YOLO yang berarti "hidup cuma sekali", keputusan anak muda untuk makan di luar, bepergian, menikmati konser, atau menekuni hobi kerap dianggap sebagai alasan mereka belum memiliki rumah. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, kondisi tersebut tidak tepat jika langsung dibaca sebagai perubahan keinginan generasi muda yang kini lebih memilih menyewa atau menikmati hidup dibandingkan memiliki rumah. Menurut Ferry, yang berubah justru waktu pembelian, lokasi hunian, dan tipe rumah yang dianggap realistis untuk dibeli.

"Generasi muda ini sebenarnya mereka itu tidak kehilangan keinginan untuk memiliki rumah. Yang berubah itu adalah kapan mereka bisa, kemudian lokasinya di mana, dan rumah seperti apa yang realistis yang bisa mereka beli," kata Ferry saat dihubungi Kompas.com, Jumat (2/10/2026). Ia mengingatkan agar fenomena generasi muda yang memilih menyewa atau tinggal bersama orang tua tidak langsung disimpulkan sebagai tanda bahwa Gen Z tidak tertarik memiliki rumah. Ferry merujuk data BP Tapera yang menunjukkan 62 persen dari 278.000 penerima FLPP pada 2025 berusia 19-30 tahun. Menurut dia, dominannya kelompok usia muda dalam penyaluran KPR subsidi justru menunjukkan bahwa ketika produk dan pembiayaan sesuai dengan kemampuan, keinginan memiliki rumah tetap ada. Di sisi lain, Ferry juga mengutip survei Ray yang menunjukkan 36 persen responden Gen Z memilih menyewa, terutama karena belum siap secara finansial.

Dalam survei tersebut, hanya 5 persen responden yang menyatakan siap membeli rumah dalam waktu kurang dari satu tahun. Karena itu, Ferry melihat keputusan menunda pembelian rumah lebih tepat dipahami sebagai respons terhadap keterjangkauan atau affordability, bukan perubahan aspirasi. Bagi pekerja muda di Jakarta, persoalan rumah bahkan tidak berhenti pada harga jual. Rumah yang masih berada dalam kemampuan mereka sering kali berada jauh dari tempat kerja dan pusat aktivitas. Sebaliknya, rumah yang berada di lokasi strategis umumnya memiliki harga yang semakin sulit dijangkau.

"Kalau anak-anak di kota besar seperti Jakarta, beli rumah itu sekarang juga merupakan trade-off antara kemampuan, affordability, dan lokasi," kata Ferry. Menurut dia, harga rumah primer secara nasional belakangan memang tidak meningkat terlalu tinggi. Mengacu pada survei harga properti residensial Bank Indonesia, indeks harga properti residensial tumbuh 0,69 persen secara tahunan. Namun, penjualan rumah primer masih terkontraksi 2,36 persen secara tahunan, meskipun membaik dibandingkan kontraksi 25,7 persen pada kuartal I 2026. Kondisi itu, menurut Ferry, menunjukkan persoalan kepemilikan rumah tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat harga rumah naik dalam satu tahun terakhir.

Ada akumulasi kenaikan harga tanah dan properti dalam jangka panjang yang membuat harga awal rumah relatif tinggi dibandingkan dengan kemampuan pendapatan sebagian masyarakat. "Persoalan utamanya itu adalah affordability atau kemampuan membeli," ujar dia. Di Jakarta, persoalan tersebut menjadi lebih kompleks karena harga tanah yang mahal. Akibatnya, rumah yang masih berada dalam kemampuan pekerja muda semakin banyak bergeser ke wilayah penyangga. Selain harga rumah, calon pembeli harus menyiapkan uang muka atau DP, menghitung cicilan KPR, mempertimbangkan suku bunga, sekaligus memenuhi biaya hidup dan transportasi.

Ferry menyebut sekitar 70 persen rumah penduduk masih menggunakan KPR. Artinya, kemampuan membayar cicilan bulanan menjadi faktor penting dalam keputusan membeli rumah. "Affordability atau kemampuan ini sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai perbandingan harga rumah dengan gaji. Tetapi juga kemampuan rumah tangga untuk menyediakan DP. Kemudian gimana mereka bisa mempertahankan cicilan dalam jangka waktu panjang tanpa mereka mengorbankan kebutuhan hidup lainnya," jelas Ferry.

Perubahan pilihan tempat tinggal pun tidak selalu berarti anak muda meninggalkan cita-cita memiliki rumah. Sebagian memilih menyewa terlebih dahulu di Jakarta atau dekat tempat kerja. Bagi Ferry, menyewa dapat menjadi solusi sementara agar pekerja muda tetap dekat dengan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.

Sebagian lainnya memilih unit yang lebih kecil atau membeli rumah tapak di wilayah penyangga seperti Tangerang dan Bekasi. Rumah di pinggiran, menurut Ferry, lebih mudah diterima jika memiliki konektivitas transportasi yang baik, misalnya dekat KRL, LRT, jalan tol, atau transportasi publik lainnya. "Ada tiga kemungkinan yang berkembang. Pertama adalah mereka menyewa dulu di lokasi strategis, kemudian atau mereka membeli unit yang lebih kompak atau membeli rumah tapak di wilayah di luar Jakarta," ujar dia. Dalam lima hingga 10 tahun ke depan, Ferry menilai kepemilikan rumah di Jakarta akan semakin sulit bagi generasi muda jika harga tanah dan rumah terus meningkat lebih cepat daripada kemampuan pendapatan. Namun, hal itu tidak berarti generasi muda tidak akan memiliki rumah. Yang kemungkinan berubah adalah lokasi, ukuran, tipe hunian, dan skema pembiayaannya.

"Kalau kita mau lihat 5-10 tahun ke depan, kita mungkin akan melihat semakin banyak generasi muda yang membeli rumah pertama mereka itu di luar Jakarta. Tetapi tetap memprioritaskan keterhubungan dengan Jakarta lewat transportasi massal misalnya," kata Ferry. Di dalam Jakarta, menurut dia, hunian vertikal dengan ukuran yang lebih efisien juga memiliki peran yang semakin penting. Ferry menyebut tenor KPR hingga 30 tahun sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan masyarakat membeli rumah karena cicilan bulanan dapat menjadi lebih ringan. Selain itu, opsi rent-to-own, bantuan DP, maupun subsidi pembiayaan yang lebih terarah dapat membantu generasi muda masuk ke pasar perumahan. Namun, pembiayaan saja tidak cukup. "Kalau KPR-nya dibuat lebih mudah tapi produk yang tersedia tetap terlalu mahal atau terlalu jauh dari pusat pekerjaan, persoalan kemampuan atau affordability ini memang tidak sebetulnya bisa diselesaikan," tutur dia.

Karena itu, tantangan dalam lima hingga 10 tahun ke depan bukan hanya membuat anak muda mampu membeli rumah, tetapi menyediakan hunian dengan kombinasi harga, ukuran, lokasi, dan akses transportasi yang sesuai dengan kemampuan mereka. Pernah Kejar Rumah Sebelum Usia 30 Tahun Kondisi tersebut turut dirasakan Tika (30), karyawan swasta yang tinggal di Jakarta Pusat. Tika mengaku pernah memiliki target harus membeli rumah sebelum berusia 30 tahun. Saat itu, ia berusaha menyisihkan hampir seluruh bonus dan penghasilan tambahan untuk tabungan rumah. Namun, target tersebut justru membuatnya merasa tertekan. "Setiap kali mau membeli sesuatu, saya merasa bersalah. Mau pergi liburan juga mikir, 'uang ini seharusnya masuk tabungan rumah'," kata Tika saat dihubungi melalui Threads.

Seiring waktu, Tika mulai mengubah cara pandangnya. Ia tetap menabung, tetapi memberikan porsi tertentu untuk menikmati hidup. Bentuknya pun tidak selalu berupa perjalanan mahal. Sesekali ia makan enak, ngopi bersama teman, menonton konser, atau pergi ke luar kota. Menurut Tika, pengalaman tersebut tetap memiliki nilai bagi dirinya. "Buat saya pengalaman itu juga bentuk investasi emosional. Saya bisa mengingat pernah pergi dengan teman, pernah melihat musisi favorit, pernah mengunjungi tempat tertentu," ujar dia. Keputusan menunda rumah juga bukan semata-mata karena ingin menikmati hidup. Tika sudah pernah melakukan survei sejumlah rumah. Setelah dihitung, biaya yang harus disiapkan ternyata tidak berhenti pada harga jual.

Ada DP, cicilan, biaya notaris, pajak, renovasi, hingga furnitur. Rumah yang sesuai dengan keinginannya memiliki harga yang tinggi. Jika dipaksakan, cicilan akan mengambil porsi besar dari penghasilan bulanannya. "Saya akhirnya berpikir, untuk apa saya punya rumah tetapi setiap bulan hidup saya tertekan karena cicilan?" kata dia. Tika masih memiliki kekhawatiran bahwa harga properti akan semakin sulit dijangkau jika terlalu lama menunda. Namun, ia tidak ingin membeli rumah hanya karena takut ketinggalan. Salah satu pilihan yang dipertimbangkannya adalah mencari rumah di luar Jakarta atau menunggu sampai kondisi keuangan benar-benar lebih siap. "Saya masih ingin punya rumah, cuma definisinya sekarang berubah. Dulu saya membayangkan rumah sebagai pencapaian. Sekarang saya melihatnya lebih sebagai tempat tinggal yang harus sesuai dengan kemampuan," ujar Tika.

Mengejar Penghasilan Sebelum Mengejar Rumah Cerita berbeda datang dari Miftah (24), pekerja kreatif di Jakarta Selatan. Dengan penghasilan sekitar Rp 5 juta per bulan, Miftah belum menjadikan membeli rumah sebagai target dalam waktu dekat. Penghasilannya diprioritaskan untuk kebutuhan sehari-hari, membantu keluarga, dan menabung. Jika masih ada sisa, barulah digunakan untuk hiburan. Ia mengaku suka ngopi dan nongkrong, tetapi tidak selalu menghabiskan banyak uang. Menurut Miftah, mengendalikan pengeluaran memang penting. Namun, persoalan rumah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengurangi pengeluaran kecil. "Saya lebih fokus meningkatkan penghasilan dulu. Kalau penghasilan saya tetap Rp 5 juta, saya mau menabung sebanyak apa pun rasanya tetap berat," kata Miftah.

Ia melihat generasinya memasuki dunia kerja dalam kondisi yang berbeda. Ketika orang tuanya dahulu berbicara mengenai rumah, harga rumah dan penghasilan mungkin masih lebih seimbang. Kini, ketika baru mulai bekerja, harga rumah yang dilihat sudah berada pada angka yang tinggi. Karena itu, rumah baginya merupakan target jangka panjang. "Mungkin yang harus saya kejar bukan hanya mengurangi ngopi, tetapi bagaimana pendapatan saya bisa naik," ujar dia. Media sosial tetap memiliki pengaruh terhadap gaya hidup Miftah. Melihat orang lain bepergian, menghadiri konser, atau makan di restoran tertentu kadang membuatnya berpikir, "Kapan lagi?".

Namun, ia menyadari kondisi finansial setiap orang berbeda.

Ia pun tidak selalu mengikuti tren yang muncul di media sosial. Bagi Miftah, rumah tetap menjadi sesuatu yang ingin dimiliki suatu hari nanti, terutama ketika sudah berkeluarga. Namun, ia tidak ingin menjadikan rumah sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. "Kalau saya bisa punya tabungan, investasi, pekerjaan yang saya suka, bisa membawa orangtua jalan-jalan, dan suatu saat punya rumah, menurut saya itu sudah cukup," kata Miftah.

Menikmati Hidup Tanpa Mengabaikan Masa Depan Perencana keuangan Melvin Mumpuni mengatakan kecenderungan anak muda menikmati penghasilan saat ini dapat dijelaskan melalui fenomena present bias.

Fenomena tersebut membuat seseorang cenderung memberikan bobot lebih besar terhadap manfaat yang diterima sekarang dibandingkan dengan manfaat yang baru diperoleh pada masa depan. Ngopi Rp 50.000, makan enak, konser, traveling, atau nongkrong bersama teman memberikan kepuasan yang langsung dirasakan. Sebaliknya, menabung Rp 5 juta untuk DP rumah mungkin baru menghasilkan rumah beberapa tahun kemudian. "Present bias, kita cenderung memberikan bobot lebih besar kepada manfaat yang diterima sekarang dibanding manfaat yang baru diterima di masa depan," kata Melvin saat dihubungi. Target rumah juga dapat terasa semakin jauh ketika seseorang melihat harga rumah Rp 1 miliar, sementara tabungannya baru Rp 50 juta.

Dari sana dapat muncul pola pikir, "Kalau sekarang juga belum mungkin beli rumah, sekalian menikmati hidup." Menurut Melvin, pola tersebut dapat menjadi self-fulfilling prophecy. Karena tidak mulai menyiapkan dana, beberapa tahun kemudian posisi finansial seseorang tidak banyak berubah. Di sisi lain, generasi muda juga melihat kepemilikan rumah bukan satu-satunya bentuk keberhasilan. Pengalaman seperti traveling, kuliner, konser, hobi, dan lifestyle menjadi bagian dari cara mereka menikmati hidup. Melvin mengatakan prinsip YOLO tidak otomatis menjadi persoalan. Masalah muncul ketika YOLO berubah menjadi "hidup sekarang, urusan masa depan nanti". Ia lebih menyarankan konsep Healthy YOLO, yakni menikmati hidup sekarang karena kebutuhan masa depan sudah disiapkan.

"Saya menikmati hidup sekarang karena saya sudah menyiapkan kebutuhan masa depan," ujar dia. Menurut Melvin, YOLO seharusnya menjadi anggaran untuk menikmati hidup, bukan alasan untuk merusak masa depan. Ia tidak menyarankan satu persentase pembagian penghasilan yang berlaku untuk semua orang. Kondisi seseorang yang baru bekerja berbeda dengan orang yang sudah menikah, memiliki anak, atau sedang mengejar DP rumah. Melvin menyarankan agar seseorang menentukan prioritas terlebih dahulu. "Begitu pegang uang, langsung sedekah, investasi dan sisanya dibelanjain," kata dia. Investasi juga dapat dilakukan secara rutin dan otomatis jika memungkinkan, kemudian disertai anggaran serta evaluasi berkala.

Sementara mengenai rumah, Melvin melihat ada faktor lain yang menentukan keputusan seseorang, yakni urgency. Ketika kebutuhan memiliki rumah menjadi mendesak, misalnya karena akan menikah, memiliki anak, atau mempersiapkan masa pensiun, seseorang secara naluriah akan mencari pilihan yang paling realistis, termasuk dari sisi harga properti. Setelah itu, barulah muncul upaya mencari cara untuk mencapainya. Persoalannya, bagi sebagian anak muda, rumah belum menjadi kebutuhan yang mendesak. Mereka masih bisa tinggal bersama orang tua, berharap suatu saat mendapatkan warisan atau bantuan orang tua, maupun memilih menyewa. "Selama tidak ada motivasi kuat atau urgency, tidak akan ada gerakan," ujar Melvin. Pada akhirnya, pilihan menikmati hidup saat ini tidak selalu berlawanan dengan keinginan memiliki rumah. Bagi sebagian anak muda, keduanya hanya memiliki waktu yang berbeda. Rumah tetap menjadi tujuan, tetapi tidak harus dibeli secepat mungkin. Sementara pengalaman dan kebutuhan hidup tetap ingin dinikmati selagi mereka memiliki kesempatan.

SPREI FATA 180 T30 YOLANDA




Arab Saudi Bantah Ada Bom Bunuh Diri di Masjidil Haram

 


Arab Saudi membantah laporan mengenai adanya pelaku bom bunuh diri di Masjidil Haram, Mekkah. Sebelumnya, klaim yang beredar di media sosial menyebutkan seorang terduga pelaku bom bunuh diri diamankan oleh petugas saat mendekati Ka'bah. Klaim itu menyebut pria tersebut mengenakan rompi berisi bahan peledak.

Otoritas Arab Saudi membenarkan bahwa pihaknya menangkap seorang pria. Akan tetapi, penangkapan tersebut dilakukan karena karena mengganggu orang yang melintas dan menimbulkan kepanikan. Penangkapan tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan ancaman bunuh diri, sebagaimana dilansir Anadolu via Antara, Jumat (2/10/2026).

"Pihak keamanan di ibu kota suci telah menangkap seseorang karena mengganggu orang yang melintas serta menebarkan ketakutan dan kepanikan di antara mereka, dan orang tersebut segera ditangani," kata otoritas Arab Saudi dalam pernyataan di platform X. "Otoritas keamanan menegaskan bahwa tidak ada kebenaran dalam klaim yang beredar terkait insiden tersebut," lanjutnya. Pernyataan tersebut tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai identitas atau kondisi pria yang ditangkap.

BEDCOVER EMILIA 160 FLAT EIFEEL BLUE



SUMBER : https://www.kompas.com/global/read/2026/10/02/170100470/arab-saudi-bantah-ada-bom-bunuh-diri-di-masjidil-haram

SPREI LADY ROSE 120 T30 FLAMBA

Baca Juga :

Nasi Disimpan di Kulkas, Aman atau Berbahaya? Ini Jawaban Dokter

 


Menyimpan nasi sisa di kulkas menjadi kebiasaan bagi sebagian rumah tangga. Selain praktis, cara ini dianggap dapat membuat nasi lebih awet dan tidak cepat basi. Namun, apakah menyimpan nasi matang di kulkas benar-benar aman bagi kesehatan? Pertanyaan lain yang kerap muncul adalah apakah nasi yang sudah didinginkan lebih sehat, bisa membantu menjaga gula darah, atau justru kehilangan kandungan gizi setelah dipanaskan kembali. Untuk meluruskan anggapan tersebut, Kompas.com menghubungi dokter dan ahli gizi masyarakat, dr. Tan Shot Yen, Jumat (2/10/2026). Ia menjelaskan cara menyimpan nasi yang aman, berapa lama nasi boleh disimpan di kulkas, hingga fakta mengenai resistant starch atau pati resisten.

Amankah menyimpan nasi matang di kulkas? Menyimpan nasi matang di kulkas pada dasarnya aman, selama cara penyimpanannya tepat. Menurut dr. Tan, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan. Pertama, jangan membiarkan nasi matang berada di suhu ruang terlalu lama. "Jangan biarkan nasi matang berada di suhu ruang lebih dari 2 jam. Nasi yang terlalu lama di suhu ruang berisiko ditumbuhi bakteri Bacillus cereus, bakteri yang bisa memicu keracunan makanan dengan gejala muntah dan diare," jelasnya. Kedua, nasi sebaiknya disimpan dalam wadah kedap udara. Cara ini bertujuan mencegah nasi menjadi kering, mengurangi risiko kontaminasi silang, termasuk menyerap bau makanan lain di dalam kulkas, serta menjaga kebersihannya.

Berapa lama boleh disimpan? Nasi matang idealnya hanya disimpan selama satu hingga dua hari di dalam kulkas. Dr. Tan mengingatkan, suhu penyimpanan juga harus diperhatikan. Suhu kulkas sebaiknya konstan di bawah 4 derajat Celsius. Jika kulkas sering dibuka-tutup atau suhunya tidak stabil, masa simpan nasi menjadi lebih pendek.

Lantas, apakah menyimpan nasi di kulkas membuat kandungan gizinya berubah?

Menurut dr. Tan, jumlah kalori dan karbohidrat dasar pada nasi panas dan nasi dingin tidak berbeda. "Tidak berbeda. Nasi panas dan nasi dingin memiliki jumlah kalori dan karbohidrat dasar yang sama," jelasnya. Perubahan yang lebih terasa justru pada tekstur nasi yang menjadi lebih pera serta meningkatnya kadar pati resisten. Pati resisten inilah yang membuat indeks glikemik nasi dingin lebih rendah dibandingkan nasi panas yang baru matang dan bertekstur pulen.

Benarkah nasi dingin lebih baik untuk gula darah? Kandungan pati resisten pada nasi yang telah didinginkan memang kerap dikaitkan dengan manfaat terhadap gula darah.

Pati resisten merupakan jenis pati yang lebih sulit dicerna tubuh. Karena itu, nasi yang telah didinginkan dapat membantu memperlambat kenaikan gula darah dibandingkan nasi panas. Namun, menurut dr. Tan, efek tersebut tidak bisa dilihat hanya dari kondisi nasinya.

"Tidak terlalu efektif, sebab tergantung juga lauknya apa. Jika dimakan dengan semur berkecap tentu kadar gula darah masih melejit," tegas dr. Tan. Artinya, mengonsumsi nasi dingin tidak serta-merta membuat suatu makanan menjadi lebih sehat atau menjamin gula darah tetap terkendali. Jenis lauk, kandungan gula dan lemak, serta porsi makan secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.

Cara memanaskan nasi yang benar Selain cara menyimpan, proses memanaskan kembali nasi juga perlu diperhatikan. Nasi yang baru dikeluarkan dari kulkas sebaiknya tidak hanya dihangatkan sebentar. Dr. Tan merekomendasikan nasi dipanaskan dengan cara dikukus. "Kukus api menyala 10 sampai 15 menit dengan panas merata," ujarnya. Pemanasan dengan panas yang merata membantu membunuh bakteri yang mungkin berkembang selama penyimpanan. Selain itu, cara tersebut juga dapat membuat tekstur nasi kembali lebih pulen dan nyaman dikonsumsi. Dengan begitu, menyimpan nasi matang di kulkas dapat dilakukan, tetapi tetap perlu memperhatikan waktu nasi berada di suhu ruang, wadah penyimpanan, suhu kulkas, lama penyimpanan, serta cara memanaskannya kembali.


BEDCOVER AKIKO 180 FLAT HORIZON


SUMBER : https://www.kompas.com/tren/read/2026/10/03/060000465/nasi-disimpan-di-kulkas-aman-atau-berbahaya-ini-jawaban-dokter?page=2


SPREI CALIFORNIA 180 FALLON

Baca Juga :

Batik Rp 50.000 Vs Jutaan Rupiah, Apa yang Membuat Harganya Berbeda?

 


Harga batik di pasaran memiliki rentang yang cukup jauh. Kain atau pakaian bermotif batik dapat ditemukan dengan harga sekitar Rp 50.000, sementara batik tertentu dapat dibanderol hingga jutaan rupiah. Perbedaan harga tersebut tidak semata-mata ditentukan oleh motif yang digunakan. Ada sejumlah faktor yang turut memengaruhi harga dan nilai sebuah batik, mulai dari bahan kain, teknik pembuatan, hingga proses pembatikannya.

Dosen pengajar Program Studi Kriya Tekstil atau Desain Kriya Universitas Sebelas Maret (UNS), Dra. Tiwi Bina Affanti, M.Sn., mengatakan, jenis bahan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga batik. Menurut Tiwi, terdapat berbagai jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat batik, mulai dari kain mori, rayon, sutra, hingga bemberg. Selain bahan, teknik pembuatan juga berpengaruh terhadap harga batik. Batik dapat dibuat menggunakan teknik tulis, cap, maupun kombinasi keduanya.

"Teknik tulis yang butuh waktu lama, cap lebih singkat, dan kombinasi. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk visualisasinya, semakin butuh biaya lebih banyak," ujar Tiwi saat dihubungi Kompas.com pada Jumat (2/10/2026).

Proses pembuatan turut menentukan harga Tiwi menjelaskan, proses pembuatan batik juga sangat beragam. Hal ini mencakup proses pewarnaan, baik menggunakan pewarna alami maupun sintetis, serta jumlah tahapan pewarnaan yang dilakukan. Ada batik yang melalui satu kali proses pewarnaan, tetapi ada pula yang dibuat melalui beberapa lapisan atau tahapan. Masing-masing proses membutuhkan tingkat kesulitan dan waktu pengerjaan yang berbeda. Dengan demikian, teknik pembuatan tidak hanya berkaitan dengan cara motif dibuat, tetapi juga berhubungan dengan waktu dan tingkat kerumitan dalam menghasilkan kain batik.

"Teknik pembuatan batik jelas memengaruhi nilai sebuah karya batik," kata Tiwi. Ia mencontohkan batik tulis dengan motif yang rumit atau ngrawit. Batik tersebut dikerjakan dengan teknik yang membutuhkan ketelitian dan waktu lama, seperti pada batik tradisi dengan teknik tulis-kerokan. Proses yang lebih panjang dan rumit tersebut dapat membuat sebuah kain batik memiliki nilai yang tinggi sehingga harganya pun menjadi lebih tinggi.

Namun, bukan berarti seluruh batik tulis selalu memiliki harga mahal.

Menurut Tiwi, batik tulis dengan motif yang sederhana dan lugas dapat memiliki harga yang jauh lebih rendah dibandingkan batik tulis dengan motif yang rumit.

Artinya, teknik pembuatan memang menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan harga, tetapi masih ada faktor lain yang perlu diperhatikan.

Cara membedakan batik tulis, cap, dan printing Bagi masyarakat awam, membedakan batik tulis, batik cap, dan kain bermotif batik yang dibuat dengan teknik printing mungkin tidak selalu mudah. Tiwi menjelaskan, salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah pengulangan motif pada kain. Pada batik tulis, pengulangan motif tidak akan benar-benar sama persis karena seluruh prosesnya dikerjakan menggunakan tangan.

"Wujud pewarnaannya, baik permukaan maupun kain sebaliknya sama, karena dilakukan dengan sistem pencelupan," jelas Tiwi. Sementara itu, pada batik cap, pengulangan motif biasanya tampak lebih rapi dan sama. Terlebih jika proses pengecapan dilakukan oleh pembatik cap yang sudah ahli.

Seperti batik tulis, pewarnaan pada batik cap juga dapat terlihat pada permukaan dan bagian belakang kain karena proses pewarnaannya dilakukan dengan sistem pencelupan. Berbeda dengan teknik printing. Motif yang dihasilkan umumnya terlihat rapi, tetapi pewarnaan pada bagian belakang kain cenderung tidak sebagus bagian permukaannya. Hal tersebut berkaitan dengan proses pembuatannya yang menggunakan teknik cetak.

Batik murah belum tentu berkualitas rendah Lantas, apakah harga dapat menjadi patokan kualitas sebuah batik? Tiwi mengatakan, harga memang dapat menjadi salah satu patokan, tetapi masyarakat tetap perlu melihat material, teknik, dan proses yang digunakan.

Batik dengan harga murah, misalnya, dapat dibuat menggunakan material, teknik, dan proses yang berbeda. Bahkan, menurut Tiwi, ada produk yang cenderung merupakan batik tiruan. Karena itu, harga tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan kualitas sebuah batik. Selain memperhatikan harga, konsumen dapat melihat bahan yang digunakan, teknik pembuatannya, tingkat kerumitan motif, serta proses pewarnaannya.

Dengan memahami faktor-faktor tersebut, masyarakat dapat mengetahui alasan sebuah batik memiliki harga yang berbeda dengan batik lainnya. Di sisi lain, penggunaan batik kini juga tidak lagi terbatas pada acara formal. Tiwi mengatakan, batik memang sering kali memiliki kesan formal sehingga banyak dikenakan untuk menghadiri acara resmi. Namun, perkembangan model pakaian membuat batik dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. Saat ini, batik juga banyak diwujudkan dalam model pakaian yang lebih kasual sehingga dapat dikenakan anak muda untuk kegiatan santai maupun hangout.

SPREI EMILIA 180 EIFEEL PINK



"Mama, Aku Gagal Jadi Ibu", Jeritan Ibu di Depok Usai Bayinya Meninggal dan Rahim Diangkat

 


"Mama, Indri gagal jadi seorang perempuan, jadi seorang ibu." Kalimat itu masih terngiang di telinga Edeh, warga RT 02 RW 12, Tapos, Depok, Jawa Barat, selama sepekan terakhir. Di tengah kondisi putrinya yang belum pulih pascaoperasi, Edeh harus menyaksikan sang anak bergulat dengan kesedihan setelah kehilangan bayi yang dikandungnya sekaligus rahimnya. Indri (31) merupakan ibu yang mengalami masalah saat proses persalinan di Puskesmas Tapos dan RSIA Setya Bhakti, Depok, pada 23-24 September lalu. Bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan meninggal dunia saat proses persalinan, sementara rahimnya terpaksa harus diangkat karena pendarahan akibat robek.

Bagi Edeh, kejadian tersebut bukan hanya meninggalkan luka fisik bagi putrinya. Dampak emosionalnya juga masih terasa hingga kini.

Edeh mengatakan, Indri masih takut bertemu orang lain, terlebih jika ada yang menanyakan kejadian yang dialaminya. Oleh karena itu, Edeh membatasi orang-orang yang datang menjenguk putrinya. Ia tidak ingin Indri terus-menerus mengingat pengalaman yang membuatnya terpukul.

"Jadi dia takut ketemu orang, takut ditanya-tanya gimana kejadiannya. Pasti kan mereka pengin tahu kejadiannya itu. Makanya saya tuh selalu jaga untuk dia bertemu dengan orang, dia juga enggak mau," ujarnya saat ditemui di Puskesmas Tapos, Depok, Kamis (1/10/2026). "Dari awal tuh dia teriak 'Mama, Indri gagal jadi seorang perempuan, jadi seorang ibu!' Kita kan gak sampai hati ya jadi orang tua. Ya Allah cuma bisanya bilang, 'Sabar, Ndri, sabar,"," ucapnya menirukan suara anaknya. Masih Trauma Indri tak kuasa menahan tangis ketika ia dan keluarga menghadiri pertemuan dengan Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, dan pengurus Puskesmas Tapos di Puskesmas Tapos pada siang tadi.

Baru sekitar 15 menit pertemuan dimulai, Indri langsung keluar ruangan rapat dalam keadaan menangis. "Enggak kuat saya di sini (Puskesmas Tapos), rasanya masih trauma," ujar IN sembari sesenggukan. Wajahnya tampak sembab dan terlihat kelelahan. Tangannya gemetar ketika mengambil tisu yang Kompas.com sodorkan kepadanya. Anak pertama Indri yang semula sedang duduk di luar ruangan bersama seorang keluarga langsung menghampiri ibunya.

Menunggu Penjelasan Pihak Rumah Sakit Edeh mengaku masih menyimpan banyak pertanyaan mengenai proses persalinan Indri, terutama terkait kondisi yang membuat rahim putrinya harus diangkat.

Menurutnya, selama masa kehamilan, Indri rutin menjalani pemeriksaan, termasuk ultrasonografi (USG) di Puskesmas Tapos. Hasil pemeriksaan juga tidak pernah menunjukkan adanya masalah pada kondisi bayi maupun rahim Indri. Namun, situasi berubah ketika Indri menjalani persalinan pada Rabu (23/9/2026). Indri mulai masuk Puskesmas Tapos sekitar pukul 15.00 WIB. Ketuban kemudian dipecahkan oleh bidan sekitar pukul 21.00 WIB lantaran kepala janin tidak masuk ke jalur lahir.

Setelah itu, ia dirujuk ke RSIA Setya Bhakti pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB.

Sesampainya di RSIA Setya Bhakti, Indri tidak langsung ditangani untuk operasi. Sekitar pukul 04.00 WIB, perawat memeriksa detak jantung anak Indri dan masih terdengar bunyinya.

Setelah itu, operasi caesar baru dilakukan sekitar pukul 05.00 WIB.

Edeh mengingat betul bagaimana putrinya mengeluhkan rasa sakit selama menunggu tindakan di rumah sakit. "Dia teriak, 'Sakit, Mama! Panas, Mama! Perih, Mama!'," kata Edeh menirukan suara anaknya. Edeh mempertanyakan mengapa tindakan operasi baru dilakukan beberapa jam setelah IN tiba di rumah sakit.

Bagi Edeh, waktu yang berlalu selama proses tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang sulit dilupakan keluarga. "Penanganannya sih maksimal, cuma kelalaian kurang cepat. Bayangin dari dia masuk itu jam 15.00 ya. Terus pertama dia tuh ngerujuk jam 23.00, mungkin dokternya belum ada diganti lagi ke jam 01.00. Jam 01.00 itu langsung dioper ke Rumah Sakit Setya Bhakti," jelasnya. "Tapi kenapa pas di situ dokternya belum ada di tempat? Harusnya kita mau rujuk itu dokter sudah ada di tempat, mungkin langsung penanganan. Ini kita dari jam 01.00 sampai jam 05.00 baru ditangani," sambungnya. Tak Ingin Tragedi Serupa Terulang Meski masih menyimpan kekecewaan, Edeh mengatakan keluarga tidak ingin pengalaman yang dialami anaknya hanya menjadi persoalan mereka sendiri. Ia berharap kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi fasilitas pelayanan kesehatan, terutama dalam menangani ibu yang membutuhkan pertolongan persalinan darurat.

"Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi kepada orang lain," kata Edeh.

Keluarga kini menunggu hasil audit yang akan dilakukan Dinas Kesehatan Kota Depok untuk menelusuri penanganan Indri, baik saat berada di Puskesmas Tapos maupun ketika dirujuk ke RSIA Setya Bhakti. Edeh mengatakan, keluarga juga mempertimbangkan langkah hukum apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya kelalaian dalam penanganan putrinya. "Jangan sampai kejadian seperti ini lagi, cukup dengan anak saya. Tapi yang saya sayangkan itu ya rahim ya, dia masih muda. Mungkin kalau anak meninggal ya memang sudah nasib, meski memang tidak ada gejala apa-apa anak saya. Kenapa sampai rahimnya tuh rusak, sampai diangkat? Nah itu apa penyebabnya? Saya orang awam, saya enggak ngerti," tuturnya. Namun, untuk saat ini, ia masih berusaha mendampingi Indri melewati masa sulit setelah kehilangan bayi dan rahimnya. Di tengah proses pemulihan itu, Edeh berharap putrinya perlahan dapat kembali menjalani kehidupan tanpa terus dibayangi pengalaman persalinan yang menyakitkan.

SPREI ROSANNA VITO B4 180 CHEALSEA





Sejarah Hari Batik Nasional 2 Oktober dan Perjalanannya Setelah Diakui UNESCO

 


Setiap 2 Oktober, Indonesia memperingati Hari Batik Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap batik, yang diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2009. Namun, pengakuan itu bukanlah garis akhir. Tradisi membatik hanya akan bertahan jika pengetahuan dan keterampilannya terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sejarah Hari Batik Nasional Tanggal 2 Oktober tidak muncul begitu saja. Melansir Kompas.com (2/10/2025), perjalanannya bermula pada 4 September 2008, ketika Indonesia mendaftarkan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda kepada UNESCO. Pengajuan itu diterima pada 9 Januari 2009. Setelah melewati proses tersebut, batik Indonesia masuk ke daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada 2009. Pencatatan ini menjadi salah satu tonggak penting bagi batik sebagai warisan budaya yang diakui di tingkat internasional.

Puncaknya terjadi pada 2 Oktober 2009. Di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, sidang Komite Antar-Pemerintah UNESCO secara resmi mengakui batik Indonesia. Pengakuan itu merujuk pada batik sebagai tradisi dengan teknik, simbol, dan nilai budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Tanggal pengakuan itulah yang kemudian dipilih menjadi Hari Batik Nasional. Pemerintah Indonesia menetapkannya melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009, yang terbit pada 17 November 2009. Sejak itu, 2 Oktober tidak hanya menandai pengakuan batik di tingkat internasional. Tanggal ini juga menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia untuk mengenali dan menjaga batik sebagai bagian dari kebudayaan mereka.

Batik setelah diakui UNESCO Pengakuan UNESCO menjadi bab penting dalam perjalanan batik. Seiring waktu, batik tidak lagi hanya hadir sebagai pakaian tradisional. Ia melangkah ke dunia fesyen dan industri kreatif, dan kini dapat ditemukan dalam beragam pakaian serta produk kreatif. Perkembangan ini menunjukkan bahwa batik mampu menyesuaikan diri dengan selera masyarakat yang terus berubah tanpa meninggalkan identitas budayanya.

Meski begitu, zaman yang bergerak juga membawa tantangan. Alfadwa dan Sunarya (2026) menjelaskan bahwa modernisasi mengubah keberadaan batik. Globalisasi, kemajuan teknologi, tren fesyen, dan kemunculan batik printing menjadi ujian bagi batik tradisional. Batik printing dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan harga lebih terjangkau, sementara batik tulis dan batik cap menempuh proses pengerjaan yang berbeda. Perubahan itu membuat pelestarian batik tidak cukup dijawab dengan membuat masyarakat tetap memakai batik. Masyarakat juga perlu memahami perbedaan proses dan nilai yang tersimpan di dalamnya. Di sisi lain, modernisasi membuka ruang bagi perajin dan desainer untuk berinovasi, sehingga batik dapat terus digunakan dan dikenal generasi muda.

Keberlanjutan tradisi membatik Menjaga batik bukan sekadar mempertahankan kain dan motifnya. Yang juga harus dijaga adalah proses, teknik, pengetahuan, dan makna yang hidup dalam tradisi membatik.

Hal ini tampak pada tradisi batik Nitik di Yogyakarta. Penelitian Zuhro (2021) menjelaskan bahwa batik Nitik memiliki karakteristik, proses pembuatan, dan makna filosofis yang menjadi bagian dari identitas tradisinya. Penelitian itu juga mencatat berbagai upaya pelestarian oleh perajin, penggiat batik, dan masyarakat. Pelestarian ternyata tidak berhenti pada menjaga motif yang sudah ada. Pengembangan motif dan proses regenerasi turut dijalankan agar budaya membatik tetap lestari bagi generasi muda. Dengan begitu, tradisi dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan pengetahuan dan nilai yang menjadi fondasinya. Dari sini terlihat bahwa keberlanjutan batik membutuhkan pewarisan pengetahuan secara langsung. Bila yang dikenal hanya kain dan motifnya, sementara proses pembuatannya makin jarang dipelajari, sebagian pengetahuan yang membentuk tradisi itu berpotensi tidak diteruskan.

Regenerasi pembatik Di titik inilah generasi muda mengambil peran. Melestarikan batik tidak cukup dengan mengenakannya. Pelestarian juga bisa dilakukan lewat proses belajar dan keterlibatan langsung.

Penelitian Rahmawati, Hariyadi, dan Widyastuti (2026) tentang Generasi Z di Kampoeng Djadhoel Semarang menunjukkan bahwa anak muda dapat terlibat melalui kegiatan edukasi, digital, sosial, dan pengelolaan kegiatan budaya. Keterlibatan itu tidak berhenti pada menggunakan produk budaya, tetapi juga berupa partisipasi dalam kegiatan yang berkaitan langsung dengan pelestarian tradisi. Keterlibatan ini penting karena keberlangsungan tradisi membatik bergantung pada proses pewarisan. Pengetahuan tentang penggunaan alat, teknik, proses pembuatan, hingga pemaknaan motif perlu terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Di tengah teknologi yang berkembang dan tren yang berganti, pewarisan itu juga dapat dilakukan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda. Edukasi, kegiatan membatik secara langsung, dan pemanfaatan media digital dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan batik sekaligus pengetahuan di balik proses pembuatannya.

Pengakuan UNESCO memang menjadi bagian penting dalam sejarah batik Indonesia, tetapi bukan akhir dari upaya pelestarian. Keberlanjutan tradisi membatik tetap membutuhkan pewarisan pengetahuan, teknik, dan keterampilan kepada generasi berikutnya. Hari Batik Nasional dapat menjadi momentum untuk tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga mengenal proses dan nilai di balik pembuatannya. Dengan begitu, batik tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya. Tradisi membatik di dalamnya pun dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan.

Alfadwa, I. N., & Sunarya, I. K. (2026). Batik sebagai warisan budaya di tengah modernisasi. Cilpa: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Rupa, 11(2). DOI: 10.30738/cilpa.v11i2.22710. Kompas.com. (2025, 2 Oktober). Sejarah Hari Batik Nasional, Diperingati Setiap 2 Oktober. Penulis: Fatimah Az Zahra | Editor: Ahmad Naufal Dzulfaroh. Rahmawati, I., Hariyadi, & Widyastuti, T. R. (2026). Partisipasi Generasi Z dalam pelestarian tradisi membatik berbasis edukasi di Kampoeng Djadhoel Semarang: Suatu kajian fenomenologis. NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 13(8), 2208–2221. Zuhro, A. R. (2021). Tradisi Nitik: Karakteristik, proses, dan makna batik Nitik Yogyakarta. Jurnal Penelitian Humaniora, 26(2), 76–88. DOI: 10.21831/hum.v26i2.40586.

SPREI LADY ROSE 120 T30 FLAMBA

SUMBER : https://www.kompas.com/stori/read/2026/10/01/200000279/sejarah-hari-batik-nasional-2-oktober-dan-perjalanannya-setelah-diakui?page=2

SPREI FATA 180 T30 YOLANDA

Baca Juga :

Kemensos Arahkan Penerima Bansos Registrasi Ulang di Perlinsos, Ini Caranya

 


Kementerian Sosial (Kemensos) mengarahkan penerima bantuan sosial (bansos) untuk melakukan registrasi ulang melalui aplikasi atau portal Perlinsos. Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengatakan, proses pendaftaran penerima bansos akan memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI). "Digitalisasi bansos ini untuk meregistrasi ulang dan memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk bisa mendaftar kalau memang menginginkan mendapatkan bansos," kata dia dikutip dari Kompas.com, Rabu (30/9/2026).

"Jadi meregistrasi ulang penerima bansos sebelum-sebelumnya karena ditengarai sebagian tidak tepat sasaran," imbuhnya.

Bagi masyarakat yang merasa berhak menerima bansos seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), diminta untuk melakukan pendaftaran ulang lewat situs web resmi Kemensos. "Ini memberikan kesempatan luas kepada masyarakat untuk mendaftarkan dirinya jika memang memerlukan bansos dalam rangka perlindungan sosial," tutur Saifullah Yusuf.

Cara daftar penerima bansos di Perlinsos Sebagai informasi, registrasi penerima bansos 2027 melalui Perlinsos Digital diperpanjang hingga 31 Desember 2026. Dilansir dari KompasTV, Kamis (1/10/2026), masyarakat dapat melakukan registrasi penerima bansos 2027 melalui Portal Perlinsos Digital secara mandiri. Sebelum mendaftar, siapkan NIK pada KTP, nomor ID pelanggan atau meter PLN, serta perangkat yang mendukung proses verifikasi wajah.

Berikut cara melakukan pendaftaran penerima bansos di Perlinsos: Akses laman resmi Perlinsos Kemensos melalui browser pada perangkat yang digunakan Pilih opsi “Masuk/Login” menggunakan IKD Masukkan NIK dan PIN IKD yang telah diaktivasi Lakukan verifikasi wajah (liveness detection/face recognition) sesuai petunjuk yang muncul pada layar Pilih menu “Daftar Bantuan” Tentukan jenis bantuan yang ingin diajukan, seperti PKH, BPNT, atau keduanya Lengkapi data pendukung yang diminta, termasuk nomor ID pelanggan PLN Periksa kembali seluruh data yang telah diisi untuk memastikan informasinya sesuai Berikan persetujuan terhadap penggunaan data pribadi Klik Ajukan Bantuan untuk menyelesaikan proses registrasi.

Masyarakat yang mengalami kesulitan melakukan pendaftaran secara mandiri juga dapat memperoleh pendampingan dalam proses registrasi. Pemerintah melibatkan Agen Perlinsos untuk membantu masyarakat mengakses layanan dan melakukan pendaftaran. Pendamping PKH, pengurus RT/RW maupun warga sekitar yang menjadi Kawan Perlinsos dapat membantu masyarakat yang membutuhkan pendampingan.

Meski demikian, pendampingan tersebut hanya untuk membantu proses registrasi. Penentuan apakah seseorang memenuhi syarat sebagai penerima bansos tetap dilakukan berdasarkan hasil verifikasi data dan ketentuan program yang berlaku. Oleh karena itu, masyarakat yang ingin menjadi calon penerima bansos 2027 sebaiknya memastikan data yang didaftarkan sudah benar dan sesuai dengan kondisi sebenarnya.

SPREI BONITA 180 T25 VALAS


Nyeri Kaki Saat Berjalan dan Hilang Saat Istirahat, Waspada Penyakit Arteri Perifer

 


Nyeri pada kaki yang muncul saat berjalan dan kemudian mereda setelah beristirahat mungkin kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Namun, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada pembuluh darah kaki. Spesialis jantung dan pembuluh darah dari RSJPD Harapan Kita, dr. Ruth Grace Aurora, Sp.JP, menjelaskan bahwa keluhan pada kaki, seperti nyeri dan kesemutan, dapat disebabkan oleh berbagai kondisi.

Penyebabnya tidak selalu berkaitan dengan pembuluh darah, tetapi juga dapat berasal dari saraf maupun otot.

“Kalau yang penyebabnya adalah masalah pembuluh darah, umumnya sih bisa berhubungan,” ujar dr. Ruth dalam Talkshow Keluarga Sehat, dikutip dari Instagram @kemenkes, Kamis (1/10/2026), Salah satu gangguan pembuluh darah yang dapat menimbulkan keluhan tersebut adalah penyakit arteri perifer atau peripheral artery disease (PAD).

Nyeri muncul saat berjalan Dokter Ruth menjelaskan, salah satu ciri yang dapat mengarah pada gangguan pembuluh darah kaki adalah nyeri yang muncul atau semakin terasa ketika seseorang melakukan aktivitas, terutama berjalan. Keluhan tersebut kemudian dapat mereda ketika kaki digunakan untuk beristirahat. “Kalau dipakai berjalan, di mana langkah atau jarak walking distance-nya lebih tinggi, keluhannya akan memberat atau makin nyata. Tapi kalau dia beristirahat, keluhan kakinya mereda,” jelas dr. Ruth.

Kondisi tersebut dikenal sebagai klaudikasio. Jarak berjalan sebelum munculnya nyeri juga dapat semakin pendek apabila gangguan aliran darah semakin berat. Sebagai contoh, seseorang yang sebelumnya baru merasakan nyeri setelah berjalan cukup jauh dapat mengalami keluhan setelah berjalan dalam jarak yang lebih pendek. Pada kondisi yang lebih berat, nyeri bahkan dapat muncul ketika seseorang sedang beristirahat.

Kenali gejala lain Selain nyeri saat berjalan, terdapat sejumlah gejala lain yang perlu diperhatikan. Dokter Ruth mengatakan, ujung jari kaki dapat terasa lebih dingin, disertai berkurangnya sensasi atau rasa baal. Perubahan pada kondisi kulit juga dapat terjadi. Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah munculnya luka pada kaki atau ujung jari yang tidak kunjung sembuh. “Paling berat lagi gambarannya adalah luka. Jadi hati-hati juga kalau ada luka di daerah kaki atau daerah ujung-ujung kaki,” kata dr. Ruth.

Luka tersebut dapat semakin besar dan sulit sembuh karena gangguan aliran darah membuat oksigen dan nutrisi tidak tersalurkan dengan baik hingga ke bagian tubuh yang mengalami gangguan. Dokter Ruth menjelaskan, aliran darah membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh. Ketika aliran tersebut terganggu, kondisi jaringan di bagian ujung kaki juga dapat ikut terdampak. Tidak hanya dialami lansia Penyakit arteri perifer sebelumnya lebih banyak dikenal sebagai penyakit yang berkaitan dengan usia lanjut.

Namun, menurut dr. Ruth, perubahan gaya hidup turut membuat penyakit pembuluh darah dapat ditemukan pada usia yang lebih muda. Salah satu faktor risiko yang paling banyak ditemukan adalah kebiasaan merokok. Selain itu, diabetes melitus, hipertensi, kadar kolesterol tinggi, serta berat badan berlebih juga dapat meningkatkan risiko. “Nomor satu sih merokok,” ujar dr. Ruth. Ia menambahkan, penyakit arteri perifer juga dapat berkaitan dengan kondisi lain, termasuk penyakit autoimun dan gangguan pembekuan darah. Namun, sebagian besar kasus yang ditemui berkaitan dengan adanya penyakit penyerta atau komorbid lain.

Kaki dan jantung memiliki kaitan Gangguan pembuluh darah di kaki juga tidak dapat dipandang sebagai masalah yang hanya terjadi pada bagian tubuh tersebut. Dokter Ruth menjelaskan, penyempitan pembuluh darah pada kaki dapat berkaitan dengan kondisi pembuluh darah di bagian tubuh lainnya. Pasien yang mengalami penyempitan pembuluh darah koroner atau pembuluh darah karotis, misalnya, juga dapat mengalami gangguan pada pembuluh darah kaki maupun tangan.

Hal ini berkaitan dengan sistem pembuluh darah yang mengalirkan darah ke berbagai bagian tubuh. Karena itu, keberadaan keluhan pada kaki, terutama pada seseorang yang memiliki faktor risiko penyakit pembuluh darah, perlu diperhatikan dan diperiksa lebih lanjut. Jangan abaikan keluhan Dokter Ruth mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan luka, kesemutan, maupun nyeri pada kaki, terutama jika memiliki faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, atau kebiasaan merokok.

Pemeriksaan lebih awal dapat membantu mengetahui kondisi pembuluh darah dan faktor risiko yang mungkin menyertainya. “Sedini mungkin dicari komorbid-komorbid yang berpotensi menyebabkan penyempitan pembuluh darah kaki, pembuluh darah koroner juga,” ujar dr. Ruth. Selain melakukan pemeriksaan, pengendalian faktor risiko juga penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah, termasuk berhenti merokok serta mengontrol diabetes dan kadar kolesterol.

SPREI KINTAKUN DELUXE 120 T25 ADELINA




Bolehkah Perusahaan Tahan Ijazah Asli Saat Mulai Kerja? Ini Aturan Kemenaker

 


Praktik penahanan ijazah oleh perusahaan masih menjadi persoalan yang kerap dibicarakan dalam hubungan kerja. Ijazah asli terkadang diminta saat proses penerimaan karyawan dengan alasan sebagai jaminan agar pekerja tidak mengundurkan diri atau meninggalkan perusahaan sebelum masa kerja tertentu berakhir. Padahal, ijazah merupakan dokumen pribadi penting yang dibutuhkan untuk berbagai keperluan, termasuk ketika seseorang ingin melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan lain. Lantas, bolehkah perusahaan menahan ijazah asli saat mulai bekerja?

Bolehkah perusahaan menahan ijazah asli saat mulai kerja? Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menegaskan bahwa pada prinsipnya pemberi kerja dilarang mensyaratkan dan/atau menahan ijazah maupun dokumen pribadi milik pekerja sebagai jaminan untuk bekerja. Namun, terdapat pengecualian terbatas. Penyerahan ijazah atau sertifikat kompetensi dapat dilakukan apabila dokumen tersebut diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan yang dibiayai pemberi kerja dan didasarkan pada perjanjian kerja tertulis.

Karena itu, pekerja perlu memahami alasan dan dasar permintaan perusahaan sebelum menyerahkan ijazah atau dokumen pribadi. Kemenaker mengingatkan setidaknya ada empat hal yang perlu diperhatikan: 1. Apa tujuannya? Pastikan penyerahan dokumen bukan sekadar dijadikan jaminan agar pekerja tetap bertahan di perusahaan.

2. Ada perjanjian tertulis Baca dan pahami isi perjanjian kerja, terutama ketentuan mengenai penyerahan dan penyimpanan dokumen. 3. Siapa yang bertanggung jawab? Pastikan pihak yang menyimpan dokumen bertanggung jawab atas keamanan dan keutuhannya. 4. Ada bukti penyerahan Jika dokumen memang harus diserahkan, pastikan ada bukti bahwa ijazah atau dokumen tersebut telah diterima perusahaan.

Ketentuan tersebut mengacu pada Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/5/HK.04.00/V/2025 tentang Larangan Penahanan Ijazah dan/atau Dokumen Pribadi Milik Pekerja/Buruh oleh Pemberi Kerja. Surat edaran tersebut ditetapkan pada 20 Mei 2025 dan saat ini berstatus berlaku. "Jadi, cek dulu alasan dan dasar pemintaannya ya. Jangan karena takut kehilangan kesempatan kerja, langsung menyerahkan dokumen penting," tulis Kemenaker dalam unggahannya di Instagram @kemnaker pada Selasa (29/9/2026).

Dokumen yang tidak boleh ditahan perusahaan Selain ijazah, SE Menaker Nomor M/5/HK.04.00/V/2025 juga mengatur sejumlah dokumen pribadi lain yang tidak boleh ditahan pemberi kerja sebagai jaminan untuk bekerja. Kemenaker menyebut dokumen pribadi tersebut antara lain: Sertifikat kompetensi Paspor Akta kelahiran Buku nikah Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) Poin penting aturan penahanan ijazah Dilansir dari Kompas.com (21/5/2025), terdapat sejumlah poin penting dalam SE Menaker Nomor M/5/HK.04.00/V/2025 yang perlu diketahui pekerja, yaitu:

Perusahaan atau pemberi kerja dilarang menahan ijazah dan/atau dokumen pribadi milik pekerja/buruh sebagai jaminan untuk bekerja. Dokumen pribadi sebagaimana telah disebutkan di atas. Perusahaan/pemberi kerja dilarang menghalangi atau menghambat para pekerja untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Calon pekerja dan pekerja/buruh perlu mencermati dan memahami isi perjanjian kerja, terutama jika ada ketentuan penyerahan ijazah ataupun dokumen pribadi. Dalam hal adanya kepentingan mendesak yang dibenarkan secara hukum untuk persyaratan penyerahan ijazah dan/atau sertifikat kompetensi milik pekerja/buruh kepada pemberi kerja, hanya dapat dilakukan dengan dua ketentuan: Ijazah ataupun sertifikat kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan yang dibiayai oleh perusahaan/pemberi kerja berdasarkan perjanjian kerja tertulis. Perusahaan/pemberi kerja wajib menjamin keamanan ijazah ataupun sertifikat kompetensi yang disimpan dan memberikan ganti rugi kepada pekerja apabila dokumen tersebut rusak atau hilang. Penahanan ijazah atau dokumen pribadi dapat membatasi akses pekerja terhadap peluang pengembangan diri dan pekerjaan lain. Ketika dokumen penting tersebut berada di tangan perusahaan, pekerja dapat mengalami kesulitan saat membutuhkan ijazah untuk melanjutkan pendidikan, mengikuti proses rekrutmen, atau memenuhi persyaratan administrasi lainnya.


SELIMUT BEDCOVER AKIKO 190 MARLON

SUMBER : https://www.kompas.com/tren/read/2026/10/01/070000765/bolehkah-perusahaan-tahan-ijazah-asli-saat-mulai-kerja-ini-aturan-kemenaker?page=2


SPREI ROSANNA VITO B4 180 CHEALSEA


Baca Juga :

Usai Lari Jarak Jauh, Ice Bath Bisa Jadi Pilihan Recovery

 


Lari jarak jauh membuat tubuh menerima beban fisik yang lebih besar, terlebih bagi orang yang belum terbiasa berlari. Karena itu, pelari perlu memperhatikan kondisi tubuh setelah menyelesaikan latihan atau perlombaan, bukan hanya mengejar jarak yang ingin dicapai. Salah satu metode recovery yang dapat digunakan adalah ice bath, terutama setelah tubuh menerima impact yang cukup besar selama berlari. Race Director dari Indonesia Muda Road Runner (IMRR), Satrio Guardian, mengatakan kebutuhan recovery perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing pelari.

Saat Tubuh Menerima “Too Much Impact” Satrio mencontohkan kondisi pelari yang sebelumnya belum pernah berlari, tetapi tiba-tiba menyelesaikan sebuah lari dengan beban yang cukup berat.

“Kalau mungkin too much impact buat tubuh, misalnya belum pernah lari terus tiba-tiba langsung jauh itu too much impact,” ujar Satrio dalam konferensi pers perilisan Guardian Run 2026 di Senayan Park, Jakarta, Selasa (29/9/2026). Menurut dia, ketika tubuh menerima beban seperti itu, pelari membutuhkan upaya untuk membantu proses recovery, termasuk melalui metode tertentu ataupun suplemen yang sesuai dengan kebutuhannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa recovery tidak bisa disamaratakan karena kondisi tubuh dan kebutuhan setiap pelari berbeda. Satrio juga mengingatkan bahwa penggunaan suplemen sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan karena kebutuhan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh. Ice Bath Jadi Salah Satu Pilihan Recovery Salah satu metode recovery yang disebut Satrio adalah ice bath, terutama ketika otot terasa terlalu kencang setelah berlari. “Recovery after lari yang pertama adalah biasanya ada apa namanya ice bath, ice bath itu salah satu recovery juga,” kata Satrio. Ia menjelaskan, ice bath dapat digunakan pada bagian tubuh yang terasa mengalami ketegangan setelah aktivitas lari. “Biasanya sih kaki ya, mainnya kalau lari kan kaki pasti yang dia apa namanya kerama atau apa, salah satunya itu ice bath,” ujar Satrio. Menurut Satrio, metode tersebut juga digunakan oleh atlet setelah menyelesaikan latihan, sehingga ice bath menjadi salah satu pilihan recovery yang dapat dilakukan setelah aktivitas fisik.

Selain ice bath, ia menyebut suplemen tertentu dapat membantu mempercepat recovery ketika tubuh menerima terlalu banyak impact.

Meski begitu, jenis suplemen yang dibutuhkan tidak bisa disamakan untuk semua orang karena bergantung pada kondisi tubuh dan program latihan. “Kebutuhannya apa, memang itu kita enggak bisa menyamakan, ini suplemennya ini, tapi kita harus cek dulu kebutuhan tubuh kita apa,” kata Satrio.

Satrio kemudian menyinggung pengalamannya mengenai atlet yang berlatih keras tetapi tidak mendapatkan nutrisi dan suplemen yang menurutnya sesuai dengan kebutuhan tubuh. Ia mengatakan kondisi tersebut pernah dikaitkan dengan atlet yang mengalami “pengapuran” sebelum memasuki masa emasnya, meski pernyataan tersebut merupakan pengalaman dan penjelasan dari Satrio dalam konteks pembahasan nutrisi atlet. Karena itu, ia menekankan pentingnya mengetahui kebutuhan tubuh sebelum menentukan bentuk dukungan pemulihan yang akan digunakan.

“Berbeda program, berbeda latihan itu berbeda suplemen,” ujar Satrio.

Bedcover Bonita Rumbai Folix



SUMBER : https://lifestyle.kompas.com/read/2026/09/30/210100820/usai-lari-jarak-jauh-ice-bath-bisa-jadi-pilihan-recovery-?page=2

SELIMUT ROSANNA VITO 160 LEVI

Baca Juga :

Tak Terima Alasan Murid Soal Baju Lurik, Eks Kepsek SMPN 18 Malang Akui Terpancing Emosi hingga Menampar

 


Kasus dugaan kekerasan yang menyeret mantan Kepala SMP Negeri 18 Kota Malang, Jawa Timur, Mohammad Amrozi Hamidi, memasuki babak baru. Setelah resmi diberhentikan dari jabatannya oleh Pemerintah Kota Malang, Amrozi akhirnya buka suara mengenai motif di balik aksinya menampar sejumlah siswa yang viral di media sosial. Amrozi secara terbuka mengaku bahwa tindakannya terpicu oleh emosi saat menegakkan aturan kedisiplinan sekolah. Ia merasa tidak bisa menerima berbagai alasan yang disampaikan para siswa ketika kedapatan tidak mengenakan pakaian adat Jawa bermotif lurik.

Alasan Murid Dinilai Tak Sesuai Hati Nurani Amrozi menjelaskan, kebijakan penggunaan seragam pakaian adat lurik setiap hari Kamis sebenarnya telah disosialisasikan sejak awal Tahun Ajaran 2026/2027. Pihak sekolah bahkan telah memberikan masa toleransi selama kurang lebih satu bulan agar para siswa dapat menyesuaikan diri. Namun, saat penegakan aturan di lapangan, Amrozi masih mendapati sejumlah murid yang tidak memakai baju lurik dengan beragam alasan, seperti pakaian belum dibeli, sedang dicuci, hingga hilang. Dalih-dalih inilah yang tidak dapat diterima oleh Amrozi. "Alasan itu bagi saya gak sesuai dengan hati nurani saya. Kenapa kok seperti itu? Kalau dibiarkan itu bisa berdampak buruk. Sehingga saat itu terpancing (emosi) sehingga akhirnya tindakan itu terjadi," ungkap Amrozi, Rabu (30/9/2026).

Kendati demikian, Amrozi membantah memiliki niat awal untuk menyakiti atau menganiaya para siswanya. Ia berkali-kali menyebut penamparan tersebut sebagai bentuk kekhilafan emosional saat menjalankan fungsi pembinaan disiplin.

"Jadi sekali lagi, saya meminta mohon maaf kepada semua korban, yang merasa korban penganiayaan dari saya. Tapi tak ada niatan untuk menyakiti dan seterusnya," kata Amrozi. "Tidak ada niatan, itu kekhilafan saya, emosional sesaat yang kemudian terjadi peristiwa itu. Tidak ada niatan lain kecuali anak-anak saya itu menjadi baik," tambahnya lagi. Ia juga menjadikan peristiwa yang memicu kegaduhan publik ini sebagai bahan introspeksi diri. Pengakuan Orang Tua Korban: Ditempeleng 3 Kali hingga Diintimidasi Insiden dugaan kekerasan tersebut terjadi pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 07.00 WIB dan mendadak viral di media sosial pada Jumat (25/9/2026). Berita ini langsung memicu aksi demonstrasi dari para siswa di SMPN 18 Kota Malang. Mediasi pun sempat digelar pada Jumat pagi dengan dihadiri oleh wali murid, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Suwarjana, serta Pj Sekretaris Daerah Kota Malang Dandung Julharjanto. Salah satu orang tua korban, Ruli, menceritakan bahwa anaknya yang berinisial W (kelas 8) menjadi salah satu korban pemukulan. W saat itu tidak mengenakan baju lurik karena seragamnya sedang dijahit akibat sobek.

"Kan masih dijahit karena sobek. Terus anak saya ditempeleng tiga kali, dicubit di bagian perut satu kali, sama dijambak," terang Ruli. Akibat kejadian tersebut, W sempat mengalami pusing. Ruli menilai pukulan yang mendarat di tubuh anaknya cukup keras. Tak hanya dugaan kekerasan fisik, Ruli juga mengungkap adanya ucapan verbal yang tidak pantas dari pelaku.

"Ada perkataan, 'Ayahmu enggak punya uang tah?' begitu," ungkap Ruli.

Ruli mengaku baru mengetahui kejadian itu dari rekaman video yang beredar luas karena sang anak takut untuk bercerita. "Saya tahunya pas lihat video itu. Anak saya enggak ngomong. Setelah saya tanya, dia bilang takut, takut diintimidasi," jelasnya. Meski W masih berkeinginan untuk tetap bersekolah, Ruli mengaku khawatir anaknya mengalami trauma jangka panjang. Ia pun memutuskan untuk membawa kasus ini ke jalur hukum dengan melapor ke Polresta Malang Kota.

Kuasa Hukum Siap Hadapi Proses Hukum Menanggapi perkembangan kasus ini, kuasa hukum Amrozi, Soeko Hariyanto SH MH, menyatakan pihaknya menghormati keputusan Pemkot Malang yang telah memberhentikan kliennya dari jabatan Kepala SMPN 18 Malang. Pihaknya juga menghargai langkah hukum yang ditempuh keluarga korban. "Kami juga tidak pernah bermaksud menghalangi ataupun menekan pihak pelapor atau korban dalam menggunakan hak hukumnya," ujar Soeko.

Soeko meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum proses hukum tuntas secara objektif. "Setiap dugaan tindak pidana harus dibuktikan berdasarkan fakta dan alat bukti yang sah serta dinilai secara objektif oleh aparat penegak hukum," paparnya. Meski tetap membuka ruang komunikasi dan perdamaian kekeluargaan, pihak Amrozi menyatakan siap menghadapi seluruh tahapan hukum apabila pelapor memilih untuk melanjutkan kasus ini. "Namun apabila pihak pelapor memilih untuk melanjutkan proses hukum, kami juga menghormati pilihan tersebut dan akan menghadapi proses itu," tegas Soeko.

Asesmen Dinsos: Total 20 Korban, 10 Siswa Dapat Pendampingan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3APKB) Kota Malang turun tangan melakukan penanganan terhadap para siswa. Berdasarkan asesmen yang dilakukan terhadap siswa dan orang tua pada Senin (28/9/2026), teridentifikasi total ada 20 siswa yang menjadi korban. Dari total 20 korban, sebanyak 10 siswa (seluruhnya laki-laki) bersedia menerima layanan pendampingan. Sementara 10 siswa lainnya (1 perempuan dan 9 laki-laki) memilih menolak. Kepala Dinsos P3APKB Kota Malang, Sailendra, mengonfirmasi data pendampingan tersebut. "Total korban SMP 18 Malang berdasarkan dampingan pada Senin, 28 September 2026, total 20 korban. 10 korban menolak layanan dan 10 korban mendapatkan dampingan medikolegal maupun psikososial," kata Sailendra, Rabu (30/9/2026). Kepala UPT PPA Dinsos P3APKB Kota Malang, Fulan Diana Kusumawati, menjelaskan penolakan layanan oleh sebagian orang tua bukan berarti menormalisasi tindakan kekerasan tersebut.

"Menolak itu alasannya karena tidak ingin diperpanjang dan sudah terwakili dilaporkan. Bukan berarti mereka menormalisasi kelakuan itu, tapi mereka menjaga anaknya supaya tidak ditanya berulang-ulang, kan memicu (trauma)," terang Fulan.

Fulan menuturkan, saat asesmen sebagian anak terlihat ceria dan mengaku tidak merasa sakit secara fisik, namun menyimpan beban emosional. "Kalau dibilang trauma tentu anak-anak punya ketahanan sendiri-sendiri. Saya sempat tanya, 'Sakit, Mas?' Mereka menjawab tidak, tapi malu, sakit hati," tuturnya. Untuk 10 siswa yang menerima bantuan, Dinsos P3APKB menyediakan dua bentuk layanan: Medikolegal: Bantuan pembiayaan visum untuk pemeriksaan medis. Psikososial: Konseling langsung oleh psikolog yang mendatangi rumah korban. Pendampingan dijadwalkan setiap hari Sabtu agar tidak mengganggu jam sekolah. Layanan konseling diberikan sesuai standar operasional prosedur (SOP) sebanyak maksimal 6 kali dengan durasi 1–2 jam per sesi, dan dapat diperpanjang jika kasus tergolong berat. Pendampingan psikologis resmi dimulai pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

SELIMUT JOVANKA POLOS 160 BLUE DENIM


SUMBER : https://surabaya.kompas.com/read/2026/10/01/080000978/tak-terima-alasan-murid-soal-baju-lurik-eks-kepsek-smpn-18-malang-akui?page=3


SPREI CALIFORNIA 180 FALLON

Baca Juga :


Follow us on facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Contact Us

Blog Archive

Cari Blog Ini

Arsip Koran



Labels

Labels

Recent Posts

Social Media

About

BTemplates.com

Blogroll

Find Us