Namanya terdengar ringan dan estetik. Bahkan, kemasannya pun identik dengan dunia kuliner. Namun, di balik tabung kecil bernama Whip Pink, tersimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele. Belakangan ini, Whip Pink ramai diperbincangkan di media sosial dan pemberitaan media massa di Indonesia. Spesialis paru di RS Kemenkes Surabaya, dr. Claudia Herda Asyari, Sp.P, menjelaskan bahwa Whip Pink merupakan tabung berisi gas N2O (Nitrous Oxide). Gas tersebut lazim digunakan dalam pembuatan whipped cream agar krim mengembang cepat dengan tekstur lembut. “Sebenarnya selain di dunia kuliner, Nitrous Oxide ini juga digunakan di dunia medis oleh dokter anestesi. Digunakan sebagai anestesi ringan, tentunya pengunaan dengan pengawasan dan dosis terkontrol oleh dokter anestesi,” katanya kepada Kompas.com, Kamis (12/2/2026) malam. Dalam praktik medis, gas ini diberikan secara terukur dan diawasi ketat. Sehingga permasalahan muncul ketika penggunaannya keluar dari konteks yang semestinya. Namun, kini gas tersebut dikaitkan dengan tren gaya hidup berisiko di kalangan anak muda lantaran produk bertuliskan Whip Pink. Fenomena ini pun memicu kekhawatiran tenaga medis.
Efek Euforia hingga Disebut “Gas Tawa”, Dampak Serius pada Saraf, Jantung, dan Pernapasan Menurut Claudia, Nitrous Oxide memiliki efek tertentu pada sistem saraf yang membuatnya kerap disalahgunakan. “Seperti rasa senang, euforia, halusinasi, sering disebut ‘gas tawa’. Efek ini yang disalahgunakan oleh anak muda jaman now (sekarang),” kata dr. Claudia Herda Asyari, Sp.P. Sensasi sesaat itulah yang membuat sebagian orang tergoda untuk mencoba. Padahal, Claudia menyebut, penggunaan berulang dan dalam jumlah besar dapat menimbulkan dampak serius bagi tubuh. “Misalnya di saraf, N2O mendeaktivasi kobalt dalam B12 menjadi inaktif tidak berfungsi. Tanpa B12, saraf mengalami demielinisasi, menyebabkan kesemutan, mati rasa, kelemahan otot, hingga kelumpuhan,” ujarnya. Tidak hanya itu, dokter yang juga praktek di Rumah Sakit Marinir Ewa Pangalila dan Rumah Sakit Umum Surabaya Medical Service itu mengatakan, gas ini juga memengaruhi sistem kardiovaskular terkait pembuluh darah dan jantung
Claudia menjelaskan, N2O menekan aktivitas miokardial (otot jantung) serta konstriksi atau pembuluh darah mengecil.
Akibatnya, gangguan juga terjadi pada sistem pernapasan yang seharusnya Hemoglobin berikatan dengan Oksigen (O2) dalam darah dan beredar ke seluruh tubuh, tetapi bila menghirup N2O Hemoglobin tidak mampu mengikat Oksigen optimal. “Kondisi tersebut menyebabkan kulit tampak kebiruan dan jaringan tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia),” pungkas dr. Claudia Herda Asyari, Sp.P.
Tidak ada komentar: