Tak Bisa Melihat, 33 Tahun Rachmat Ajari Anak-anak Tunanetra Baca Al Quran Braille

 


Sudah menjadi rutinitas bagi Rachmat Hadi sejak pagi buta, bersiap-siap menyusuri jalan dari kediamannya di Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, menuju Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Jember. Dengan bantuan saudara, atau lebih sering dengan transportasi online yang dipesan, ia berangkat menunaikan tugas mulia sebagai seorang tenaga pendidik yang telah ditekuninya selama 33 tahun. Tidak ada yang istimewa dari rutinitas itu, kecuali satu hal, Rachmat Hadi tidak bisa melihat dunia secara utuh. Namun keterbatasan itu tidak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti mengajar. Justru sebaliknya, ia membagikan ilmu lebih dari sekadar mata pelajaran di sekolah. Di luar pelajaran formal, Rachmat mengajarkan anak-anak tunanetra membaca Al Quran dengan huruf Braille.

Sejak tahun 1993, Rachmat mengajarkan baca dan tulis Al Quran braille kepada murid-muridnya yang tunanetra. Bukan karena ada program Pemerintah terkait insentif guru ngaji. Tapi karena ia percaya bahwa membaca Al Quran adalah hak dan kewajiban setiap Muslim, termasuk mereka yang tidak bisa melihat dan mengandalkan indra perabanya. "Membaca Al Quran itu hak semua umat Islam, termasuk anak-anak netra. Itu adalah hak dan kewajiban. Maka kewajiban kita yang tahu harus memberikan," ujar dia penuh keyakinan, Jumat (20/02/2026) lalu. Di kelas, ia mengajar hingga empat peserta didik sekaligus, masing-masing dengan kemampuan berbeda dan kelas yang berbeda pula. Ada kelas tunanetra dengan disabilitas lain (MDVI), kelas kecil, dan kelas besar. Setidaknya, di luar pembelajaran formal yang dimulai pukul 07.00-13.00 WIB, ia melanjutkan pembelajaran Al Quran hingga sore hari menjelang, setiap hari kerja sebagai tenaga pendidik di SLB.

Tidak ada kesulitan yang berarti bagi Rachmat dalam menyalurkan ilmunya, karena menurut dia, setiap anak mempunyai laju belajarnya sendiri. Di sisi lain, bagi Rachmat, pendidikan adalah hal yang utama. Bersama istrinya, ia membesarkan dua buah hatinya hingga perguruan tinggi. Saat ini, anak sulung Rachmat tengah menempuh pendidikan tinggi di Program Studi Psikologi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Sedangkan putra lainnya menempuh Pendidikan Luar Biasa di Universitas PGRI Argopuro Jember.

Al Quran braille tak murah Satu hal yang sering luput dari perhatian publik adalah biaya. Al Quran braille bukan barang murah.

Satu juz setara dengan satu buku tebal. Untuk 30 juz, dibutuhkan sekitar 30 buku, dengan biaya cetak antara Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. Melalui organisasi yang ia geluti, Rachmat dan rekan-rekannya berupaya menghimpun wakaf Al Quran Braille.

"Alhamdulillah, hampir semua anak-anak Jember netra yang ikut itu bisa mengaji dan sudah punya Quran sendiri," kata dia. Namun perjuangan belum selesai. Dari sekitar 140-150 orang dengan penyandang tunanetra yang terdata di Jember, baru sekitar 30 persen yang bisa mengakses pengajaran Al Quran. Lalu dari angka itu, belum semuanya mampu membaca dengan lancar. "Perjuangan kita masih panjang," ujar Rachmat.

Oleh karena itu, berbagai upaya telah ia lakukan bersama rekan-rekan di komunitasnya. Rachmat tidak berhenti di ruang kelas. Bersama Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) cabang Jember, ia menggelar tadarus rutin setiap malam Jumat via dalam jaringan (daring).

Pertemuan virtual itu menjadi jembatan bagi peserta didik yang tersebar, agar tetap bisa membaca Al Qur'an bersama meski dari rumah masing-masing. Lebih dari itu, kini ia tengah merintis program kaderisasi murid-murid yang sudah lancar membaca Al Quran, dilatih menjadi pengajar bagi adik-adik di bawah mereka. Sebuah ekosistem kecil yang tumbuh dari bawah, tanpa anggaran Pemerintah. Di luar mengajar, waktu Rachmat banyak tersita untuk dua organisasi, yaitu Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dan ITMI. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni bergerak di ranah sosial, namun dengan fokus berbeda.

Pertuni memiliki cakupan yang lebih luas, dengan berfokus pada advokasi, perlindungan hukum, dan pendidikan untuk semua kalangan tanpa memandang agama. Sementara, ITMI lebih spesifik dalam memastikan penyandang tunanetra Muslim mendapatkan akses terhadap Al Quran Braille, seperti pengajaran agama hingga bimbingan pernikahan secara syariat.


SUMBERhttps://surabaya.kompas.com/read/2026/02/24/033000978/tak-bisa-melihat-33-tahun-rachmat-ajari-anak-anak-tunanetra-baca-al-quran?page=2

Tak Bisa Melihat, 33 Tahun Rachmat Ajari Anak-anak Tunanetra Baca Al Quran Braille Tak Bisa Melihat, 33 Tahun Rachmat Ajari Anak-anak Tunanetra Baca Al Quran Braille Reviewed by wongpasar grosir on 08.33 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.