Tim ilmuwan internasional berhasil mengidentifikasi spesies dinosaurus baru di Zimbabwe yang diperkirakan hidup pada zaman Trias akhir, sekitar 210 juta tahun lalu. Penemuan spesies bernama Musango matusadonaensis ini dinilai menjadi petunjuk awal dari potensi fosil yang melimpah dan belum tergali di Benua Afrika. Spesies baru tersebut resmi dinamai dan dipublikasikan dalam sebuah studi paleontologi pada Juli. Musango matusadonaensis merupakan dinosaurus berkaki dua (bipedal) yang tergolong dalam kelompok sauropodomorph, yaitu kerabat awal dari dinosaurus berleher panjang seperti Diplodocus. Dinosaurus ini dulunya melintasi kawasan sungai dan aliran air di superbenua kuno Gondwana.
Penemuan ini berawal dari ekskavasi dan analisis fosil intensif selama delapan tahun. Fosil pertama spesies ini ditemukan pada tahun 2018 di kawasan Danau Kariba, salah satu danau buatan manusia terbesar di dunia, dilansir dari CNN, Rabu (2/9/2026).
Profil dan karakteristik Musango matusadonaensis Berdasarkan analisis spesimen yang ditemukan, Musango matusadonaensis diperkirakan memiliki panjang tubuh sekitar 4,5 meter, setara dengan panjang mobil hatchback. Berat badannya diperkirakan mencapai 222 kilogram, sebanding dengan babi dewasa. Dinosaurus tersebut diperkirakan mati saat berusia sekitar delapan tahun dan sudah hampir dewasa sepenuhnya. Secara sifat, spesimen ini diperkirakan merupakan herbivora atau omnivora yang mengonsumsi tumbuh-tumbuhan di tepi perairan. Namun, kepastian mengenai pola makannya belum dapat dipastikan secara penuh karena bagian tengkoraknya belum ditemukan. Pemindaian lokasi ekskavasi sejauh ini berhasil mengangkat tulang belakang, tulang rusuk, lengan, kaki, hingga tulang telapak kaki. Dalam penelitian fosil, tengkorak merupakan bagian vital untuk mengetahui pola makan melalui struktur gigi dan rahang, serta fungsi indra melalui rongga mata dan telinga. "Mungkin hanya satu dari 100 spesimen yang kami temukan memiliki rangka yang utuh, dalam artian mati di tempat itu di dalam lumpur dan semua tulangnya lengkap. Dari jumlah itu, mungkin hanya satu dari 10 yang memiliki tengkorak," kata Profesor Biologi Komparatif dari University of the Witwatersrand di Johannesburg, Afrika Selatan, Jonah Choiniere. "Jadi sebagian besar yang kami lakukan adalah inferensi, membangun dari pengumpulan fosil selama ratusan tahun oleh orang-orang hingga kami memiliki cukup fosil untuk mengatakan, 'Hei, kami merasa sangat nyaman membuat inferensi ini tentang anatominya,'" lanjut Choiniere yang juga merupakan pemimpin ekspedisi dan salah satu penulis studi tersebut.
Tantangan ekspedisi di tengah satwa liar Nama Musango diambil dari bahasa lokal Shona yang berarti "hidup di semak-semak". Nama tersebut merujuk pada lokasi terpencil tempat fosil dinosaurus ini ditemukan sekaligus bentuk penghormatan kepada Steve Edwards, seorang pemandu wisata liar yang melindungi tim peneliti dari ancaman satwa di lokasi penelitian selama perjalanan dua minggu.
Steve Edwards, pemilik Musango Safari Camp di Taman Nasional Matusadona, lokasi yang menginspirasi nama spesies matusadonaensis, merupakan sosok kunci yang pertama kali memberi tahu para peneliti tentang potensi adanya fosil purba di area tersebut.
Ekspedisi yang beranggotakan ilmuwan asal Inggris, Afrika Selatan, dan Zimbabwe ini menjelajahi batas terluar taman nasional yang berjarak sekitar 50 kilometer dari kota terdekat. Tim memanfaatkan perahu sungai lokal sebagai laboratorium terapung sebelum berpindah ke perahu kecil untuk berlabuh di tepi danau. Proses pencarian fosil ini dibayangi risiko keberadaan ribuan buaya Nil dan kuda nil di dalam danau, serta gajah dan singa yang berpatroli di pesisir. "Saya belum pernah melihat kuda nil sebanyak ini seumur hidup saya," kenang Choiniere. "Agak menakutkan, tetapi juga menjadi pengalaman satwa liar yang luar biasa dan sesuatu yang biasanya tidak kami alami sebagai paleontolog."
Potensi paleontologi Afrika yang belum tergali Musango matusadonaensis merupakan penemuan dinosaurus besar kedua yang berhasil diungkap oleh tim tersebut di kawasan tersebut.
Sebelumnya, mereka menemukan spesies kerabat dekat bernama Musankwa sanyatiensis yang diumumkan pada 2024 dari hasil dua kali perjalanan pada 2017 dan 2018.
Kedua dinosaurus ini diperkirakan hidup berdampingan dengan ikan paru-paru (lungfish) dan phytosaur (kerabat purba mirip buaya) yang fosilnya juga ditemukan di sekitar lokasi.
Temuan ini dinilai sangat krusial untuk memahami periode transisi antara zaman Trias dan Jura, masa ketika dinosaurus mulai mendominasi ekosistem Bumi. Penelusuran periode ini tergolong sulit karena sedikit tempat di bumi yang menyimpan batuan setua itu lengkap dengan kandungan fosilnya. Wilayah Afrika bagian selatan seperti Danau Kariba kaya akan cekungan batuan sedimen yang menampung lumpur dan pasir, sehingga mampu mengawetkan tulang dinosaurus dengan lebih baik.
"Kami selalu mengasumsikan bahwa dinosaurus dari bagian dunia ini pada dasarnya akan sama dengan dinosaurus yang kami dapatkan di seluruh Afrika bagian selatan," ujar Kepala Vertebrata Fosil di Natural History Museum Inggris sekaligus penulis utama studi, Paul Barrett. "Ternyata, semakin kami meneliti, mereka justru semakin berbeda, ada potensi besar di sana yang masih belum dimanfaatkan secara penuh," tambah Barrett. Musango menjadi dinosaurus kelima yang pernah diberi nama secara resmi dari Zimbabwe.
Minimnya temuan terdahulu dipengaruhi oleh lokasi situs yang sangat terpencil serta dampak konflik perang kemerdekaan di Zimbabwe pada tahun 1964 hingga 1979 yang sempat menghentikan perkembangan ilmu paleontologi. "Afrika bagian selatan secara umum sangat penting untuk memahami asal-usul kelompok-kelompok besar (dinosaurus), dan itu mencakup rentang waktu yang sangat luas," kata Choiniere. "Masih ada banyak hal di luar sana yang menunggu untuk ditemukan, yang menjadikannya tempat yang sangat mendebarkan bagi saya dan saya pikir bagi semua kolaborator kami untuk bekerja. Namun tentu saja saya selalu berharap kita memiliki lebih banyak orang yang melakukannya," tuturnya. Tim peneliti berencana kembali ke Danau Kariba pada awal tahun 2027. Seluruh spesimen fosil purba yang ditemukan, termasuk Musango, nantinya akan disimpan dan dipamerkan di Natural History Museum of Zimbabwe untuk penelitian jangka panjang.
| SPREI FATA 180 T30 YOLANDA |
| SPREI ROSANNA VITO B4 180 CHEALSEA |
Baca Juga :
- Kopi Instan Vs Kopi Filter, Mana yang Lebih Baik untuk Panjang Umur? Ini Kata Studi
- Kucing "Pengedar Narkoba" Ditangkap Saat Hendak Selundupkan Barang Terlarang ke Penjara Rusia, Ini Kronologinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar