Tangan terasa kaku ketika baru bangun tidur kerap dianggap sebagai hal biasa. Kondisi ini sering dikaitkan dengan posisi tidur, kelelahan, atau aktivitas yang dilakukan sehari sebelumnya. Namun, kekakuan yang berlangsung cukup lama, terjadi berulang, disertai nyeri dan pembengkakan pada kedua tangan perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu tanda penyakit autoimun yang menyerang sendi, seperti rheumatoid arthritis (RA). Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Sandra Sinthya Langow, mengatakan kekakuan pada kedua tangan yang terasa lama setiap pagi dan disertai pembengkakan dapat mengarah pada rheumatoid arthritis atau reumatik autoimun kronis. Menurut dia, nyeri dan kekakuan sendi yang berlangsung lama sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai keluhan biasa karena penyebabnya perlu diketahui untuk menentukan penanganan yang tepat.
"Nyeri sendi yang berkepanjangan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai keluhan biasa. Kita perlu mengetahui penyebabnya karena setiap penyakit memiliki penanganan yang berbeda," kata Sandra, Rabu (12/8/2026), dikutip dari Antara. Ia menjelaskan, masih banyak masyarakat yang menganggap nyeri sendi sebagai keluhan ringan akibat kelelahan, aktivitas berlebih, atau cedera. Padahal, nyeri dan kekakuan sendi yang berlangsung lama, terutama pada pagi hari, dapat menjadi tanda adanya penyakit reumatik yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Ciri tangan kaku yang perlu diperhatikan Sandra menjelaskan, salah satu ciri yang dapat mengarah pada reumatik autoimun kronis adalah nyeri dan kekakuan yang terutama dirasakan pada tangan. Kekakuan biasanya lebih terasa pada pagi hari dan dapat berkurang setelah tubuh mulai bergerak atau beraktivitas. Sendi yang paling sering terkena antara lain jari dan pergelangan tangan. Keluhan juga dapat muncul secara simetris, yakni terjadi pada tangan kanan dan kiri. Pada tahap awal, gejalanya bisa terlihat sederhana. Seseorang mungkin merasa kesulitan menggerakkan tangan ketika bangun tidur dan membutuhkan waktu sebelum dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Jari-jari juga dapat terasa lebih bengkak sehingga cincin yang biasanya longgar menjadi terasa lebih ketat pada pagi hari.
"Karena keluhan dapat membaik setelah mandi atau mulai beraktivitas, kondisi ini sering kali dianggap sebagai bagian dari kelelahan sehari-hari," kata Sandra.
Jika peradangan terus berlangsung, penyakit dapat berkembang dan menyerang lebih banyak sendi, termasuk lutut, bahu, siku, dan pergelangan kaki. Pada kondisi yang terlambat ditangani, kerusakan sendi bahkan dapat menyebabkan perubahan bentuk hingga kecacatan permanen. Tidak cukup melihat satu gejala Sandra mengatakan, rheumatoid arthritis tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu gejala atau satu hasil pemeriksaan laboratorium. Dokter akan mempertimbangkan riwayat keluhan, melakukan pemeriksaan fisik, serta menggunakan pemeriksaan penunjang sesuai kondisi pasien. Pemeriksaan dapat mencakup penilaian tanda peradangan pada sendi dan tes darah, seperti rheumatoid factor (RF) serta anti-citrullinated protein antibody (ACPA), termasuk anti-CCP. Pemeriksaan pencitraan juga dapat dilakukan bila diperlukan. Ia menegaskan, hasil pemeriksaan autoimun yang negatif tidak otomatis berarti seseorang tidak mengalami rheumatoid arthritis.
Ada kondisi yang disebut rheumatoid arthritis seronegatif, sehingga diagnosis tetap perlu ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala klinis, pemeriksaan dokter, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Waspadai obat tradisional tanpa kejelasan kandungan Masyarakat juga diingatkan untuk berhati-hati menggunakan obat alami atau tradisional yang tidak memiliki bukti keamanan dan efektivitas yang jelas. Sandra mengatakan, beberapa produk dapat mengandung obat seperti kortikosteroid atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang tidak dicantumkan secara jelas pada kemasan. Penggunaan obat tersebut tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan efek samping. Bagi masyarakat yang mengalami nyeri dan kekakuan sendi dengan kecurigaan penyakit reumatik autoimun, pemeriksaan oleh dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi atau rheumatologist dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai. Pentingnya diagnosis dan penanganan sejak dini Diagnosis dan terapi sejak dini menjadi bagian penting dalam pengelolaan rheumatoid arthritis. Semakin cepat penyakit dikenali, semakin cepat pula dokter dapat menentukan strategi pengobatan untuk mengendalikan penyakit dan mencegah kerusakan sendi. Setelah diagnosis RA ditegakkan, rheumatologist akan menentukan terapi berdasarkan kondisi masing-masing pasien. Pengobatan tidak hanya bertujuan mengurangi nyeri, tetapi juga mengendalikan penyakit, mempertahankan fungsi sendi, mencegah kecacatan permanen, dan meningkatkan kualitas hidup. Selain terapi medis, pengelolaan RA dapat mencakup edukasi, menjaga berat badan, mengatur pola makan, mencukupi waktu istirahat, mengelola stres, serta melakukan olahraga sesuai kondisi pasien. "Tujuan pengobatan rheumatoid arthritis bukan sekadar menghilangkan rasa nyeri. Kita perlu mengendalikan penyakit dan mencegah kerusakan sendi agar pasien tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik," ujar Sandra.
BEDCOVER AKIKO 180 FALT THANIA
| SPREI FATA 180 T30 EZENSA |
Baca Juga :
- Kopi Instan Vs Kopi Filter, Mana yang Lebih Baik untuk Panjang Umur? Ini Kata Studi
- Kucing "Pengedar Narkoba" Ditangkap Saat Hendak Selundupkan Barang Terlarang ke Penjara Rusia, Ini Kronologinya







0 komentar:
Posting Komentar