Kenapa Beli Barang Mahal Justru Bikin Lega?
Pernahkah kamu merasa sangat lega sekaligus bersalah setelah membeli segelas matcha kekinian seharga Rp 60.000 di saat kondisi keuangan sedang menipis? Sensasi campur aduk ini ternyata bukanlah sekadar urusan dompet, melainkan pertarungan sengit yang sedang terjadi di dalam struktur otak manusia. Ketika seseorang dihadapkan pada pilihan untuk membeli kemewahan kecil (affordable luxury), sistem saraf akan memproses rentetan sinyal yang memengaruhi pengambilan keputusan. Sering kali, tameng logika yang rasional justru runtuh oleh kuatnya dorongan emosi sesaat. Pakar Neurosains, dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D., menjelaskan, kepuasan berbelanja sangat dipengaruhi oleh sistem limbik yang mengatur emosi manusia. Bagian ini selalu bekerja berlawanan arah dengan korteks prefrontal yang berfungsi sebagai pusat kendali untuk berpikir secara logis. "Ketika emotional state-nya sangat aktif, pada saat itu otak depan untuk berpikir logisnya jadi turun," jelas dr. Edmi kepada Kompas.com, Jumat (24/7/2026).
Pertarungan logika dan emosi Jebakan dopamin di balik sensasi kepuasan sesaat Sensasi bahagia saat membeli barang impian berawal dari sistem penghargaan otak. Area tegmental ventral (VTA) memproduksi hormon dopamin yang kemudian dikirim ke otak depan untuk memproses rasa puas. Namun, psikiater dari Siloam Hospitals Mampang, dr. Karina Kalani Firdaus, Sp.KJ., meluruskan bahwa dopamin sebenarnya bukan penghasil rasa puas, melainkan sebatas sinyal antisipasi. "Dopamin itu lebih ke sinyal antisipasi dan memprediksi kita akan dapat reward. Makanya orang lebih tinggi rasa senangnya pas saat baru mau beli, pas lagi window shopping," jelas dr. Karina kepada Kompas.com, Senin (27/7/2026). Kepuasan yang sesungguhnya justru diatur oleh sistem opioid. Masalahnya, kepuasan manusia bersifat adaptif.
Dokter Edmi mengatakan, seiring berjalannya waktu, otak akan menuntut jumlah dopamin yang jauh lebih besar untuk mencapai tingkat kepuasan yang sama. "Karena basis motivasinya murni untuk kepuasan (satisfaction) bukan untuk bertahan hidup (survive), maka siklus ini akan terus berputar," ucap dia. "Sampai akhirnya terjadi banjir dopamin yang menyebabkan braking system (sistem pengereman) di otak depan rusak. Manusia tak lagi bisa berpikir logis rasional," imbuh dr. Edmi. Menurut dr. Karina, hal ini memicu toleransi pada sistem opioid, di mana seseorang membutuhkan porsi belanja yang lebih ekstrem untuk merasa senang.
Jika sistem pengereman di korteks prefrontal tidak dilatih, kebiasaan ini perlahan akan mengarah pada fase adiktif atau kompulsif.
Sesuatu menjadi patologis ketika kemampuan kontrol itu semakin menurun dan ia tak lagi bisa menahan impulsnya," tegas dr. Karina.
Ilusi terapi belanja dan munculnya disonansi kognitif Di masyarakat modern, banyak orang yang melegitimasi pengeluarannya dengan dalih self-reward atau terapi belanja (retail therapy). Dokter Edmi menuturkan, mekanisme ini berkaitan erat dengan pemulihan harga diri. Ketika merasa tertekan, seseorang akan membeli kemewahan kecil demi mengembalikan validasinya.
"Yang dikejar adalah value asosiasi. Mereka membeli sesuatu untuk menunjukkan status atau power-nya kembali," tutur dr. Edmi.
Ia menambahkan, kebutuhan akan pengakuan inilah yang membuat seseorang memaksakan diri mencari kemewahan kecil demi membuktikan bahwa ia sanggup dan sudah berada di level yang berbeda. Secara psikologis, dr. Karina membenarkan bahwa hal itu memberikan sensasi kendali diri. Namun, ia membantah anggapan bahwa belanja bisa menurunkan hormon stres secara klinis.
"Sejauh ini belum ada dasar bukti yang kuat bahwa belanja memengaruhi biomarker stres (kortisol) secara objektif. Itu lebih ke efek psikologis yang bersifat sementara," terang dia. Euforia ini pada akhirnya akan cepat memudar akibat proses adaptasi hedonik. Realitas beban finansial yang tersisa justru akan memperburuk emosi negatif dan rentan memicu penyesalan pasca-pembelian (buyer's remorse). Konflik antara niat awal untuk berhemat dan tindakan belanja impulsif inilah yang pada akhirnya melahirkan fenomena disonansi kognitif di dalam pikiran konsumen. "Term ini digunakan ketika seseorang punya belief yang kontradiktif, di mana tindakan sama nilainya bertabrakan. Itu ambivalensi yang sebenarnya normal," terang dr. Karina.
Pentingnya mengambil jeda Untuk mencegah stres berubah menjadi siklus belanja kompulsif, kedua pakar sepakat bahwa kunci utamanya ada pada kemampuan menciptakan jarak dan waktu. Dokter Edmi sangat menyarankan penerapan aturan 48 jam sebelum memutuskan untuk membayar barang tersier. Jarak waktu ini sangat esensial untuk menurunkan dominasi emosi di sistem limbik agar logika kembali mengambil alih.
"Satu-satunya cara untuk menekan impulsif, hanyalah jarak waktu dan tempat. Kalau dalam waktu 48 jam lupa, artinya memang tidak penting," saran dr. Edmi. Selain itu, secara anatomis, pusat emosi (amigdala) dan pusat memori (hipokampus) terletak berdempetan. "Inilah alasannya kenapa sangat mudah mengingat barang yang memiliki unsur emosional. Memberi jarak waktu akan membantu memutus ikatan memori dan emosi sesaat tersebut," lanjut dr. Edmi.
Senada dengan hal tersebut, dr. Karina juga menganjurkan jeda untuk membiarkan dorongan belanja tersebut menurun perlahan.
Ia juga mengingatkan pentingnya memiliki mekanisme koping stres yang lebih beragam, seperti olahraga di ruang publik, bersosialisasi di taman, atau memastikan kualitas tidur terpenuhi. Selama jeda dr. Karina merekomendasikan untuk melakukan teknik grounding atau mindfulness untuk menata kembali isi kepala.
SELIMUT JOVANKA POLOS 160 DUSTY PINK
BEDCOVER MY LOVE 180 RUMBAI ATHEA
Baca Juga :

Komentar
Posting Komentar