Jumat, 14 Agustus 2026

Benarkah Semua Penyakit Berasal dari Pikiran? Ini Penjelasan Psikiater

 


Ungkapan bahwa semua penyakit berasal dari pikiran masih cukup sering terdengar. Seseorang yang mengalami sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga penyakit tertentu terkadang langsung dikaitkan dengan stres atau masalah emosional. Memang, kondisi mental dan kesehatan fisik memiliki hubungan yang erat. Namun, bukan berarti seluruh penyakit yang dialami seseorang disebabkan oleh pikiran.

Psikiater bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, mengatakan, kesehatan mental dapat memengaruhi kondisi tubuh melalui berbagai mekanisme biologis. Meski demikian, hubungan tersebut tidak bisa disederhanakan dengan menganggap pikiran sebagai penyebab semua penyakit. “Emosi yang dipendam bukan penyebab langsung penyakit autoimun. Namun stres kronis memang dapat berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh,” ujar dr. Lahargo saat dihubungi Kompas.com, baru-baru ini.

Pikiran dan Tubuh Saling Terhubung Menurut dr. Lahargo, tubuh dan pikiran sebenarnya tidak bekerja secara terpisah. Ketika seseorang mengalami stres, otak akan mengaktifkan hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis dan sistem saraf simpatis. Aktivasi tersebut membuat tubuh menghasilkan berbagai hormon dan mediator stres, termasuk kortisol dan katekolamin.

Pada kondisi stres akut, respons tersebut merupakan mekanisme normal tubuh untuk menghadapi tekanan. Masalah dapat muncul ketika stres berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang. Pada stres kronis, regulasi kortisol dan sensitivitas reseptor glukokortikoid dapat berubah.

Keseimbangan sitokin juga dapat terganggu sehingga respons inflamasi maupun fungsi sel imun dapat mengalami disregulasi. Secara sederhana, stres dapat memengaruhi otak, kemudian sistem hormonal dan saraf, hingga sistem kekebalan tubuh.

Inilah salah satu alasan mengapa kondisi psikologis dapat memberikan dampak nyata terhadap kesehatan fisik.

Bukan Berarti Semua Penyakit Disebabkan Stres Meski stres dapat memengaruhi berbagai proses di dalam tubuh, hal tersebut tidak berarti setiap penyakit memiliki akar penyebab psikologis. Penyakit dapat muncul karena berbagai faktor, bergantung pada jenis dan kondisi masing-masing. Dalam kasus penyakit autoimun misalnya, penyebab utamanya belum diketahui secara pasti dan bersifat multifaktorial. Faktor yang dapat berperan meliputi genetik, jenis kelamin dan hormonal, infeksi tertentu, lingkungan, kebiasaan merokok, mikrobioma, epigenetik, serta faktor psikososial. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan seseorang mengalami penyakit autoimun hanya karena stres atau terlalu banyak memendam masalah. “Penyakit autoimun adalah penyakit biologis kompleks. Kondisi psikologis memang dapat memengaruhi kesehatan tubuh, tetapi pasien tidak boleh dianggap menciptakan penyakitnya sendiri karena pikiran atau emosinya,” jelas dr. Lahargo.




Stres Bisa Menjadi Salah Satu Faktor Pada orang yang memiliki kerentanan tertentu, stres psikologis berat dan berkepanjangan dapat menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan aktivitas penyakit atau munculnya gejala pada beberapa kondisi. Namun, stres bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Pada penyakit autoimun, misalnya, gejala atau kekambuhan juga dapat dipengaruhi oleh infeksi, obat-obatan, perubahan hormonal, paparan lingkungan, kebiasaan merokok, kualitas tidur, hingga karakteristik penyakit itu sendiri. “Stres lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari puzzle, bukan satu-satunya penyebab,” kata dr. Lahargo. Artinya, hubungan antara pikiran dan tubuh memang ada, tetapi sifatnya kompleks dan melibatkan banyak mekanisme.

Lalu, Mengapa Kesehatan Mental Tetap Penting? Meski tidak semua penyakit berasal dari pikiran, menjaga kesehatan mental tetap penting. Stres merupakan bagian normal dari kehidupan. Yang perlu dikembangkan adalah kemampuan tubuh dan pikiran untuk menghadapi tekanan sekaligus pulih setelahnya. Beberapa kebiasaan yang dapat membantu antara lain menjaga tidur cukup dan teratur, melakukan aktivitas fisik sesuai kondisi kesehatan, menerapkan pola makan seimbang, menjaga hubungan sosial, menyediakan waktu untuk beristirahat, serta belajar mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat. Teknik seperti latihan pernapasan, relaksasi, mindfulness, journaling, atau berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat membantu sebagian orang mengelola stres.

Jika stres sudah menyebabkan gangguan tidur berkepanjangan, kecemasan atau kesedihan berat, mengganggu pekerjaan dan hubungan, atau sulit dikendalikan sendiri, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan. Pada saat yang sama, keluhan fisik tetap perlu diperiksa secara medis. Jangan sampai seseorang mengabaikan gejala penyakit dan hanya menganggapnya sebagai akibat stres.

SPREI MONALISA WATERPROOF 180 PINK TUA MOTIF


SUMBERhttps://lifestyle.kompas.com/read/2026/08/13/200000320/benarkah-semua-penyakit-berasal-dari-pikiran-ini-penjelasan-psikiater?page=2


SPREI FATA POLOS 12O GOLDEN


Handuk Mutia Besar

0 komentar:

Posting Komentar