Recent Posts

Labels

Follow us on facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Contact Us

Blog Archive

Arsip Koran

Labels

Labels

Blogroll

Find Us

Alasan di Balik Anjuran Tanam Satu Embrio Saja saat Bayi Tabung

Sabtu, 29 Agustus 2026

 


 Program bayi tabung menjadi harapan besar bagi pasangan suami istri yang menanti buah hati. Dalam perjalanannya, tidak sedikit pasien yang memandang prosedur medis ini sebagai jalan pintas untuk langsung mendapatkan bayi kembar dua maupun kembar tiga. Anggapan untung-untungan ini membuat mereka sering kali meminta dokter untuk menanamkan lebih dari satu embrio ke dalam rahim. Di balik keinginan untuk langsung meramaikan rumah, ada risiko medis tingkat tinggi yang mengintai sang ibu dan bayi. Kendati demikian, dunia kedokteran justru sangat berhati-hati dan cenderung menghindari kehamilan multipel karena tantangan fisik dan bayang-bayang persalinan prematur yang sangat berbahaya.

Risiko medis di balik kehamilan kembar bayi tabung 1. Beban fisik ekstra bagi ibu hamil Banyak pasangan menganggap bahwa menjalani satu kali proses kehamilan untuk mendapatkan dua atau tiga anak sekaligus adalah sebuah efisiensi. Pola pikir ini sangat lumrah ditemui oleh para tenaga medis di klinik fertilitas. Terkait fenomena tersebut, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, membagikan pengalamannya. "Kadang-kadang triplet, hamil kembar tiga. Buy one get three lah, buy one get two, cuma kalau dia hamilnya bagus, alhamdulillah, bisa sampai 9 bulan," ujar dr. Budi dalam acara media gathering untuk memperingati lima tahun kehadiran RS Pondok Indah IVF Centre di Jakarta, Kamis (27/8/2026). Kehamilan kembar menuntut stamina dan pengorbanan fisik yang luar biasa dari seorang ibu. Tubuh harus beradaptasi untuk menopang berat badan janin yang jauh melebihi ukuran kehamilan tunggal. "Saya pernah triplet rekor sampai 38 minggu, bayinya 2500 gram, 2500 gram, dan 2500 gram. Bayangin. Ibu hamil itu membawa 7,5 kilogram bayi. Berat, kasihan," papar dr. Budi.

2. Ancaman persalinan prematur ekstrem Rahim perempuan memiliki kapasitas ruang yang terbatas. Ketika dipaksakan untuk membesarkan lebih dari satu janin, risiko terjadinya kontraksi dini meningkat drastis.

Ibu hamil kembar sangat rentan mengalami kelahiran prematur ekstrem di saat organ bayi belum berkembang sempurna. Meski teknologi perawatan intensif neonatal saat ini sudah sangat maju, merawat bayi dengan bobot sangat rendah tetap membutuhkan perjuangan panjang. 3. Tagihan miliaran dan anjuran tanam satu embrio Bayi prematur ekstrem tidak bisa langsung dibawa pulang dan membutuhkan observasi ketat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) selama berbulan-bulan.

Hal ini otomatis memicu lonjakan biaya rumah sakit yang bisa menguras habis tabungan keluarga, terutama jika rumah sakit tempatmu melahirkan terkenal cukup mahal.

"Di NICU tiga bulan berapa miliar tagihannya? Artinya, dari sisi cost (perlu dipertimbangkan), belum kualitas bayinya, dan segala macam," terang dr. Budi.

Melihat tingginya ancaman keselamatan bayi, serta risiko pasien mengeluarkan biaya yang sangat mahal, pihak klinik selalu menyarankan pendekatan yang paling aman. Dokter akan mendorong pasien untuk melakukan Single Embryo Transfer atau penanaman satu embrio saja. "Jadi challenging. Makanya kita tidak pernah menganjurkan tanam dua embrio, atau apalagi tiga. Kita anjurkan satu embrio," kata dr. Budi. Peluang kehamilan kembar memang selalu ada dalam prosedur bayi tabung. Akan tetapi, risikonya bisa ditekan jika sejak awal dokter hanya memasukkan satu bibit terbaik ke dalam rahim.

SPREI AKIKO POLOS 90 MARON


SUMBERhttps://lifestyle.kompas.com/read/2026/08/28/200300320/alasan-di-balik-anjuran-tanam-satu-embrio-saja-saat-bayi-tabung?page=2


SELIMUT ROSANNA VITO 160 LEVI

SPREI LADY ROSE 120 T30 DALILA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar