Edisi Digital Terkini | Berita Aktual & Terpercaya

Recent Posts

Beda dari Baby Blues, Apa Itu Psikosis Pascapersalinan?

 


Masa setelah melahirkan tidak selalu berjalan mudah bagi seorang ibu. Selain perubahan fisik dan hormonal, sebagian perempuan dapat mengalami gangguan kesehatan mental yang membutuhkan perhatian serius. Salah satunya adalah psikosis pascapersalinan atau postpartum psychosis (PPP).  Kondisi ini tergolong jarang, tetapi merupakan keadaan darurat psikiatri karena dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan membedakan kenyataan dan persepsi. Dilansir Stacker, Senin (24/8/2026),psikosis pascapersalinan dapat menyebabkan halusinasi, delusi, kebingungan berat, paranoia, hingga perubahan perilaku yang berlangsung cepat.

Mengenal psikosis pascapersalinan Psikosis pascapersalinan berbeda dari baby blues Psikosis pascapersalinan tidak sama dengan  atau depresi pascapersalinan. 

Kondisi ini ditandai dengan terputusnya seseorang dari realitas sehingga penilaian terhadap situasi di sekitarnya dapat terganggu. Seseorang yang mengalaminya dapat melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada, mempercayai sesuatu yang tidak sesuai kenyataan, atau merasa sangat curiga terhadap orang lain. Kondisi tersebut relatif jarang, yakni diperkirakan terjadi pada sekitar satu dari 1.000 kelahiran.  Gejala paling sering muncul dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, meski dapat berkembang dalam beberapa bulan setelah persalinan. Psikiater reproduksi yang berfokus pada kesehatan mental perinatal, Katrina Furey, MD mengatakan, perubahan kondisi yang naik-turun juga perlu diperhatikan. “Perubahan kondisi mental yang naik-turun ini sering disalahartikan sebagai tanda membaik, padahal sebenarnya merupakan tanda bahaya yang khas dari psikosis pascapersalinan,” kata Furey. Perubahan perilaku dan persepsi menjadi tanda yang perlu diperhatikan Gejala psikosis pascapersalinan dapat berkembang dan berubah dengan cepat.  Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat terlihat melalui gejala depresi, seperti merasa putus asa, mati rasa secara emosional, mudah menangis, cemas, menarik diri, kelelahan, atau kesulitan berkonsentrasi. Sebaliknya, gejala mania juga dapat muncul. Ibu mungkin menjadi sangat berenergi, berbicara jauh lebih cepat, memiliki banyak pikiran sekaligus, sulit tidur atau merasa tidak membutuhkan banyak tidur, serta bertindak impulsif.

Psikiater Radial Health, Greg Malzberg, MD menjelaskan, psikosis pascapersalinan dapat menyerupai episode berat dalam spektrum bipolar yang dipicu oleh persalinan.

“Psikosis pascapersalinan sering kali tidak terlihat seperti gangguan psikotik primer, melainkan lebih seperti episode berat dalam spektrum bipolar yang dipicu oleh persalinan, dengan mania, kondisi campuran, atau depresi yang disertai gejala psikotik,” ujar Malzberg.

Gejala yang paling mengkhawatirkan meliputi kebingungan berat, disorientasi, halusinasi, delusi, paranoia, perasaan tidak nyata, serta perilaku yang sangat berbeda dari biasanya. Pikiran terhadap bayi dan hilangnya kesadaran diri perlu diwaspadai Psikosis pascapersalinan juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya dan bayinya.  Orang yang mengalaminya sering kali tidak menyadari bahwa persepsi atau perilakunya sedang berubah sehingga mungkin tidak mencari pertolongan sendiri.

Delusi dapat berkaitan dengan bayi, misalnya keyakinan bahwa bayi berada dalam bahaya atau harus dilindungi dengan cara yang tidak biasa. Pikiran untuk menyakiti diri sendiri juga dapat muncul. Karena kondisi ini dapat berkembang menjadi situasi berisiko, pasangan dan keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang terjadi. 

Penanganan segera membantu menjaga keselamatan ibu dan bayi Psikosis pascapersalinan membutuhkan pertolongan medis segera. Penanganan dapat mencakup perawatan di rumah sakit, pemberian obat antipsikotik, penstabil suasana hati, atau obat tertentu untuk mengatasi agitasi, kecemasan, dan gangguan tidur. Pada kondisi berat, terapi elektrokonvulsif atau ECT juga dapat digunakan. Perawatan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, riwayat kesehatan, serta pertimbangan lain seperti menyusui. Yang terpenting, psikosis pascapersalinan bukanlah tanda bahwa seorang ibu tidak menyayangi bayinya. Kondisi tersebut merupakan gangguan medis yang membutuhkan perawatan. Jika setelah melahirkan muncul perubahan perilaku ekstrem, kebingungan, halusinasi, delusi, atau kondisi mental yang terasa sangat berbeda dari biasanya, pertolongan medis darurat perlu segera dicari.

SELIMUT EMILIA 160 MAHENDRA

SUMBER : https://lifestyle.kompas.com/read/2026/08/24/210200520/beda-dari-baby-blues-apa-itu-psikosis-pascapersalinan-?page=2

SELIMUT ROSANNA VITO 160 LEVI


Baca Juga :


Komentar

Follow us on facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Contact Us

Blog Archive

Cari Blog Ini

Arsip Koran



Labels

Labels

Recent Posts

Social Media

About

BTemplates.com

Blogroll

Find Us