This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Rabu, 25 Juni 2025
STOK PRODUK WONGPASAR GROSIR MALANG 25/6/2025
Cerita Bocah Kelas 5 SD Sempat Koma 3 Hari Akibat Diabetes, Keluarga: Kebiasaan Jajan Makanan Instan
Karena penyakit gulanya itu, Regina Felicia Zahra (12), bocah asal Kediri, Jawa Timur, mengalami koma selama 3 hari. Sehingga saat ini Regina menjalani perawatan di rumah sakit di Malang, Jawa Timur. Pihak rumah sakit maupun keluarga, terus mengupayakan tindakan terbaik baginya.
Seiring berjalannya waktu, kondisinya berangsur membaik dan mulai tersadar dari komanya. Selama perawatannya itu, pihak rumah sakit mulai melakukan tracking asal usul penyebab gulanya. Namun dari keluarga yakni kedua orang tuanya, Supriyanto (59) dan Tianah (54), tidak mempengaruhi riwayat genetis gula
“Bapak dan ibu gak ada yang punya penyakit gula,” ujar Desi Purnamasari, kakak kandung Regina, Selasa (24/6/2025).
Penelusuran, Purnamasari menambahkan, terus dilakukan dan lebih meluas hingga menemukan hasil. Penyakit gula yang menimpa adiknya itu diakibatkan oleh faktor gaya hidup. “Adik saya kena diabetes bukan karena genetis, tapi karena faktor gaya hidup. Yaitu diabetes tipe 1,” Purnamasari menambahkan.
Hal itu, masih kata Purnamasari, selaras dengan temuan penelusuran kebiasaan hidup yang juga dilakukan oleh pihak keluarganya. Terutama saat Regina tidak di rumah, yakni kebiasaan hidup saat di lingkungan sekolah. Bahwa di sekolah, kebiasaan adiknya adalah mengkonsumsi jajanan maupun minuman instan. Yaitu minuman sachet rasa manis dengan aneka pilihan rasa-rasa. “Ternyata kata teman-temannya di sekolah, hampir setiap hari adik saya minum minuman instan itu. Padahal kalau di rumah, tidak begitu dan ke sekolah juga dibekali minum air putih,” lanjut dia.
Asal usul penyebab gulanya sudah ditemukan dan kini rumah sakit fokus pada mengembalikan kesehatan Regina. Setelah beberapa pekan menjalani perawatan, Regina sudah kembali mendapatkan staminanya. Dia pun diperbolehkan pulang dari RS. Namun sepulang dari rumah sakit itu Regina harus mulai beradaptasi dengan kebiasaan barunya. Yaitu mengkonsumsi insulin, sehari empat kali, untuk mengatasi tingginya kadar gula. “Menurut dokter insulin itu lebih disarankan untuk anak-anak daripada obat jenis lainnya. Apalagi untuk jangka panjang seterusnya,” kata Purnamasari.
Akibat kondisi itu, kehidupan Regina berubah total. Banyak penyesuaian yang dilakukannya. Termasuk pembatasan pola makan dan aktivitas hariannya. Begitu juga kehidupannya di lingkungan sekolah yakni SDN Kencong 2 di Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Semua civitas mendorong dan menyemangatinya. Wali Kelas 5 SDN Kencong II, Diaz Alwi Nala Praya mengatakan, dia juga berupaya terus mendampingi Regina. Bahkan sejak saat masih dalam perawatan rumah sakit. “Pas sakitnya ananda, itu saya pas diangkat jadi wali kelas. Saat itu juga saya turut ke Malang untuk menjenguknya,” ujar Diaz, panggilan akrabnya. Baik keluarga, lingkungan, maupun pihak sekolah bekerja sama untuk memberikan penyemangat bagi Regina.
Sebelumnya diberitakan, Regina Felicia Zahra, seorang bocah asal lereng Gunung Kelud di Desa Kencong, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi penyintas diabetes. Sejak setahun ini, dia mengelola dan hidup dengan diabetes tipe 1 yang diidapnya. Setiap hari dia suntik insulin sebanyak empat kali.
Bertahun-Tahun Warga Kepulauan Sumenep Hidup Tanpa Air yang Layak
Krisis air bersih untuk konsumsi masih terjadi di sejumlah desa di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Kondisi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan hingga kini belum mendapatkan solusi yang memadai. Desa-desa yang terdampak antara lain Dusun Saredeng Kecil dan Saredeng Besar di Desa Saseel, Dusun Pulau Sitabok di Desa Sapeken, Pulau Salarangan di Desa Paliat, serta Pulau Sadulang Kecil di Desa Sadulang Besar. "Warga di wilayah itu memang tidak memiliki akses air bersih yang layak dikonsumsi," kata Nasrul, warga Desa Sapeken, Rabu (25/6/2025).
Air sumur yang tersedia di desa itu, menurut Nasrul, cenderung payau, sehingga tidak bisa langsung diminum.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa menempuh perjalanan laut menggunakan perahu nelayan menuju pulau lain hanya untuk membeli air. “Setiap satu jerigen harganya sekitar Rp 3.000 hingga Rp 4.000. Itu pun harus dibawa pulang dengan perahu,” imbuh dia. Saat musim penghujan, warga biasanya memanfaatkan air hujan yang ditadah menggunakan wadah seadanya. Air tersebut kemudian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, dan mencuci. Sedangkan untuk kebutuhan memasak dan konsumsi tetap mengandalkan air yang mereka beli. "Harapannya, ada perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat untuk memberikan solusi jangka panjang, air minum gratis," jelas dia.
Camat Pulau Sapeken, Aminullah, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan bahwa krisis air bersih untuk konsumsi sudah berlangsung sejak lama, bahkan turun temurun. "Persoalan air bersih ini bukan hal baru. Sudah terjadi sejak lama dan bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kepulauan. Kayaknya ini turun-temurun,” tutur Aminullah kepada Kompas.com. Menurutnya, pemerintah pernah memberikan bantuan berupa armada pengangkut air bersih, namun bantuan tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga secara maksimal. “Dulu pernah ada (bantuan pengangkut air bersih), tapi itu belum bisa penuhi kebutuhan yang ada,” jelasnya. Pihaknya berharap ada solusi jangka panjang dan terintegrasi dari pemerintah, seperti pembangunan instalasi pengolahan air atau sistem penampungan air hujan berskala besar.




















