This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Senin, 30 Juni 2025
STOK PRODUK WONGPASAR GROSIR MALANG 30/6/2025
Racun Kalajengking Amazon Bisa Hancurkan Sel Kanker Payudara? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Para ilmuwan dari Brasil menemukan molekul dalam racun kalajengking Amazon yang menunjukkan potensi besar dalam pengobatan kanker payudara. Melansir Science Alert pada Kamis (27/6/2025), temuan penelitian ini dipresentasikan dalam konferensi kesehatan FAPESP Week France, yang menunjukkan bahwa senyawa dari spesies Brotheas amazonicus bisa menjadi senjata baru melawan kanker. Lonjakan kasus kanker akibat populasi global yang menua serta meningkatnya faktor risiko penyakit ini, mendorong para ilmuwan untuk mencari sumber pengobatan dari tempat yang tidak lazim, termasuk dari hewan kalajengking.
Dalam kasus ini, racun kalajengking dari hutan hujan Amazon menjadi perhatian utama para peneliti Brasil. Tim ilmuwan dari Universitas Sao Paulo menggunakan teknik canggih untuk mempercepat pencarian senyawa aktif.
Mereka menyisipkan gen tertentu ke dalam DNA organisme "pabrikan", seperti ragi, agar organisme ini bisa menghasilkan protein target. Protein-protein ini, termasuk yang terdapat dalam racun kalajengking, kemudian diuji untuk berbagai kegunaan medis. “Kami dapat mengidentifikasi molekul dalam spesies kalajengking Amazon ini yang mirip dengan yang ditemukan dalam racun kalajengking lain dan yang bekerja melawan sel kanker payudara," kata ahli farmakologi Universitas São Paulo, Eliane Candiani Arantes.
Mekanisme racun kalajengking berpotensi jadi obat kanker payudara Dalam penelitian ini, Arantes dan rekan-rekannya berhasil mengidentifikasi sebuah molekul yang disebut BamazScplp1 dari racun kalajengking Amazon. Molekul ini bekerja serupa dengan obat kemoterapi, yakni memicu proses nekrosis atau kematian sel pada sel kanker payudara. Akibatnya, sel-sel kanker mengalami kerusakan dan pecah.
Penemuan ini tidak lepas dari penerapan teknologi yang disebut ekspresi heterolog, yakni metode yang memungkinkan ilmuwan menciptakan molekul dari gen tertentu dalam organisme model seperti ragi atau bakteri. Teknik ini memungkinkan produksi molekul bioaktif dalam jumlah besar dan efisien di luar tubuh makhluk asalnya. Dalam eksperimen ini, para peneliti menggunakan spesies ragi Komagataella pastoris untuk memproduksi molekul dari racun kalajengking secara massal. Ini memungkinkan mereka meneliti struktur dan fungsi molekul tersebut secara mendalam, serta mengujicobakan mutasi yang berpotensi meningkatkan efektivitasnya
Potensi kegunaan racun kalajengking untuk pengobatan kanker payudara Meskipun riset ini masih berada pada tahap awal, teknik serupa juga berhasil digunakan untuk menghasilkan molekul lain dari racun ular dan komponen darah sapi, yang dapat mendorong pertumbuhan pembuluh darah baru. Artinya, potensi terapi dari racun-racun hewan ini sangat besar, tak hanya terbatas pada pengobatan kanker payudara saja. Peneliti utama menjelaskan bahwa kemampuan untuk memproduksi molekul tersebut dalam skala industri membuka peluang besar untuk pengembangan obat yang lebih luas.
Dengan pendekatan ini, dunia medis bisa menjelajahi lebih jauh khazanah alam yang sebelumnya belum tergali sepenuhnya. Penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa kekayaan alam, seperti spesies kalajengking dari hutan hujan Amazon, bisa menyimpan solusi untuk penyakit mematikan seperti kanker. Namun, potensi ini hanya bisa dimanfaatkan, jika kelestarian habitat binatang tersebut tetap dijaga.
Terungkap, Wajah Perempuan Zaman Batu Berusia 10.500 Tahun dari Belgia
Para ilmuwan berhasil menghadirkan kembali rupa seorang perempuan dari Zaman Batu yang hidup 10.500 tahun lalu di wilayah yang kini dikenal sebagai Belgia. Rekonstruksi wajah ini membuka jendela ke masa lalu dan mengungkap ciri-ciri mengejutkan dari perempuan pemburu-peramu yang dijuluki sebagai “Perempuan Margaux”. Rekonstruksi wajah ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Ghent di Belgia dan duo seniman kembar asal Belanda, Adrie dan Alfons Kennis, melalui proyek interdisipliner bertajuk ROAM (Regional Outlook on Ancient Migration). Tim ilmuwan dan seniman menggunakan data ilmiah dari kerangka tulang dan DNA purba untuk merekonstruksi sosok manusia purba ini secara mendetail. Menurut pernyataan resmi Universitas Ghent, mereka memindai tengkorak sang perempuan dan mencetak ulang dalam bentuk 3D. Dari situ, tim seniman membentuk otot dan kulit menggunakan standar anatomi sesuai dengan usia dan karakteristik populasi lokal kala itu. Hasilnya adalah gambaran wajah realistis dari seorang perempuan yang diperkirakan meninggal pada usia antara 35 hingga 60 tahun.
Ciri-Ciri yang Mengejutkan: Mata Cerah dan Warna Kulit Sedang Salah satu temuan paling menarik dari rekonstruksi ini adalah warna kulitnya. Menurut Prof. Isabelle De Groote, arkeolog dari Universitas Ghent sekaligus pemimpin proyek, perempuan Margaux kemungkinan memiliki warna kulit sedang—lebih terang dibandingkan individu lain dari periode Mesolitikum (Zaman Batu Tengah) di Eropa Barat. “Pigmentasi kulit perempuan Margaux menunjukkan adanya kompleksitas yang lebih tinggi dalam warna kulit populasi ini, dan bahwa keragaman tersebut sudah ada sejak lama,” ujar De Groote.
Warna matanya diperkirakan biru atau terang, serupa dengan Cheddar Man—individu terkenal dari Inggris yang hidup di zaman yang sama. Namun, Cheddar Man diyakini memiliki kulit lebih gelap, sehingga kombinasi kulit gelap dan mata cerah bukanlah hal yang asing di kalangan pemburu-peramu masa itu. Perbedaan ini menunjukkan bahwa keragaman genetik dan fisik sudah berkembang bahkan sejak masa pasca-Zaman Es, jauh sebelum migrasi besar-besaran dan penyebaran pertanian di Eropa.
Asal Usul Perempuan Margaux Kerangka perempuan Margaux ditemukan pertama kali pada tahun 1988 di Gua Margaux, wilayah Lembah Meuse dekat Dinant, Belgia. Pada masa itu, teknologi untuk melakukan analisis DNA purba belum tersedia. Baru-baru ini, melalui ekstraksi DNA dari bagian tengkoraknya, para ilmuwan dapat memperkirakan warna kulit dan mata serta karakteristik biologis lainnya. Tim peneliti juga mempertimbangkan kemungkinan pengaruh paparan sinar matahari dalam menentukan warna kulit, mengingat gaya hidup pemburu-peramu yang nomaden dan banyak menghabiskan waktu di luar ruangan.
Rekonstruksi Wajah: Antara Ilmu dan Interpretasi Meski rekonstruksi wajah ini dibuat berdasarkan metode ilmiah, perlu diingat bahwa beberapa elemen tetap bersifat interpretatif. “Warna kulit dan mata tidak bisa ditentukan secara pasti dari DNA purba,” jelas De Groote. “Tidak ada jawaban yang benar-benar mutlak.” Namun demikian, hasil rekonstruksi ini memberi gambaran yang sangat hidup tentang siapa kita di masa lalu. Ia bukan sekadar kerangka anonim di museum, melainkan seseorang dengan wajah, identitas, dan kisah hidup yang nyata.
Sabtu, 28 Juni 2025
STOK PRODUK WONGPASAR GROSIR MALANG 28/6/2025




















