This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Selasa, 19 Mei 2026
STOK PRODUK WONGPASAR GROSIR MALANG 19/05/2026
Pasien Rehab Narkoba Kabur Mengaku Disiksa, Yayasan Sebut Pasien Emosi
Sebanyak 7 pria pasien rehabilitasi narkoba di Yayasan Rehabilitasi Rindung, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, melarikan diri dan mengaku tak tahan menerima siksaan. Dari 7 pria pasien rehab mandiri yang kabur, 6 orang diantaranya secara bersama sama membuat pernyataan dan diunggah melalui salah satu akun di media sosial. “Kami kabur dari sana (Rehabilitasi) karena banyak penyiksaan. Nggak etis itu tempatnya, ini buktinya kami semua di rantai, kami Napza (pasien rehab Narkoba) bukan ODGJ,” ujar salah seorang pasien.
Saat ditemui di Yayasan Rehabilitasi Rindung, Jalan Rindung Ujung, Kelurahan Tanjung Pinggir, Siantar Martoba, Sekretariat Yayasan Eka Fransiska Purba membenarkan 7 pasien kabur. Namun Eka membantah adanya penyiksaan terhadap pasien. Ia mengatakan, insiden itu terjadi pada Sabtu (16/5/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Mulanya pihak yayasan mengantar salah satu pasien ke klinik dokter jiwa.
Sementara di komplek rehabilitasi dijaga oleh satu orang. Para pasien saat sedang berada diluar ruangan mengikuti kegiatan. Saat penjaga hendak memasukkan pasien ke ruangan, ia tiba tiba digebuki para pelaku.
Menurut Eka, para pasien telah berencana kabur menunggu situasi lengah. Ia mengakui kondisi 7 pasien rehab yang kabur masih mengalami emosi tinggi saat dalam perawatan. Para pasien kabur tanpa membawa apapun. “Habis digebuki penjaga mereka mendorong gerbang sampai rusak lalu kabur. Kalau kami dibilang melakukan penyiksaan itu tidak benar, justru penjaga yang dipukuli,” ucap Eka saat ditemui di Rehabilitasi Rindung, Senin (18/5/2026) petang. Eka melanjutkan, para pasien kabur sedang dalam proses pemulihan kesehatan dari kecanduan narkoba dengan rentan waktu 1 sampai 2 tahun di rehabilitasi tersebut.
Namun ia memastikan seluruh penanganan terhadap pasien berjalan sesuai SOP dan atas persetujuan dari pihak keluarga masing masing. Adapun pasien kabur berinisial E dan DP asal Pematangsiantar, AH dan RG asal Kota Medan, R asal Kabupaten Batubara, R asal Aek Nabara dan HM asal Pekanbaru. Eka mengungkapkan, salah satu pasien merupakan bekas pelarian dari rehabilitasi lain lalu diserahkan oleh pihak ke keluarga ke Yayasan Rindung.
“Satu pasien itu pernah kabur dari Rehabilitasi Mercusuar menyiram petugasnya pakai lada. Istrinya sudah minta supaya dia dicari dan kembali ke rehab," kata Eka. Hingga saat ini, kata Eka, keluarga pasien meminta para pasien kabur dipulangkan ke rehabilitasi untuk menjalani pemulihan seperti sediakala. “Harapan kami mereka dikembalikan. Pihak keluarga sudah menghubungi kami, meminta agar mereka kembali ke rehabilitasi,” ujar Eka.
Ketua Yayasan Rehabilitasi Rindung, Rizal Damanik, mengaku telah melihat video pernyataan pasien kabur dan membantah tudingan adanya penyiksaan. Menurutnya, ada pasien rehab yang dirantai dilakukan atas persetujuan dari pihak keluarga. Ia mengatakan, dari 6 pasien yang ditampilkan dalam video viral tersebut, 1 diantaranya berinisial DP belum diketahui keberadaannya hingga saat ini.
“Jadi mereka semua satu ruangan, pasien Napza semua. Nggak digabung (dengan ODGJ),” kata Rizal. “Memang dirantai, tapi itu atas persetujuan keluarga. Itu untuk memperlambat (gerakan) dan nggak ada disiksa," katanya.
Yayasan Rehabilitasi Rindung berdiri sejak 2016, kini merawat 54 orang pasien, terdiri dari pasien dengan kecanduan narkoba, pasien ODGJ serta orang terlantar yang dititipkan oleh Dinas Sosial Pematangsiantar.
"Mereka benci dengan pihak Yayasan. Gimana lah, pihak keluarga belum mau menampungnya. Kalau atas persetujuan keluarga, ya, kami pulangkan,” kata Rizal.
Bahaya Makanan Ultra Proses Menurut Ahli, Bikin Lemak Menumpuk di Otot Paha
Sering makan sereal sarapan, minuman ringan, minuman energi, pizza beku, dan makanan siap saji lainnya? Makanan ultra proses (ultra-processed food atau UPF) tersebut bisa membahayakan otot paha, menurut penelitian terbaru. "Terlepas dari jenis kelamin, konsumsi UPF yang tinggi pada individu yang berisiko mengalami osteoartritis lutut (KOA) dikaitkan dengan kadar lemak otot yang lebih tinggi pada hasil pemindaian MRI paha," tulis para peneliti, dilansir dari laman Radiological Society of North America (RSNA), Selasa (19/5/2026).
Bahaya makanan ultra proses UPF untuk otot paha Lemak menumpuk dalam otot paha dan risiko osteoartritis lutut
Makanan ultra proses biasanya dibuat agar tahan lama sehingga praktis, tapi tetap punya rasa yang kuat. Komposisinya sering kali memadukan gula, lemak, garam, dan karbohidrat rafinasi. Studi terbaru menunjukkan, konsumsi makanan ultra proses yang tinggi berkaitan dengan penumpukan lemak di dalam otot paha. Hal ini terjadi pada orang yang berisiko terkena radang sendi lutut atau osteoartritis lutut
Hubungan tersebut tidak berubah bahkan setelah memperhitungkan asupan kalori, asupan lemak, dan aktivitas fisik juga sudah diperhitungkan. Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Radiology, terbitan dari Radiological Society of North America (RSNA). "Selama beberapa dekade terakhir, seiring dengan meningkatnya prevalensi obesitas dan osteoartritis lutut, penggunaan bahan-bahan alami dalam pola makan kita terus berkurang dan digantikan oleh makanan dan minuman yang diproses secara industri, diberi perasa buatan, pewarna, dan dimodifikasi secara kimiawi, yang diklasifikasikan sebagai makanan ultra proses," kata penulis utama studi ini, Zehra Akkaya, M.D., dikutip dari SciTechDaily. Dr. Akkaya juga merupakan peneliti dan konsultan di kelompok Clinical & Translational Musculoskeletal Imaging di Universitas California, San Francisco, Amerika Serikat.
Para peneliti melibatkan 615 peserta yang berasal dari Osteoarthritis Initiative. Pada awal penelitian, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda osteoartritis pada pemindaian gambar. Proyek Osteoarthritis Initiative ini disponsori oleh National Institutes of Health (NIH). Proyek nasional di Amerika Serikat ini fokus pada pencegahan dan pengobatan radang sendi lutut. Peserta penelitian ini terdiri dari 275 laki-laki dan 340 perempuan, dengan usia rata-rata 60 tahun. Secara rata-rata, para peserta memiliki berat badan berlebih, dengan Indeks massa tubuh atau BMI mereka berada di angka 27. Sekitar 41 persen makanan yang mereka konsumsi selama setahun sebelumnya adalah makanan ultra proses. Para peneliti menemukan, konsumsi makanan ultra proses yang lebih tinggi berhubungan dengan peningkatan lemak intramuskular pada paha. Hal ini terjadi tanpa memandang total asupan kalori. Pemindaian MRI menunjukkan adanya degenerasi lemak di dalam otot. Garis-garis lemak secara bertahap menggantikan serat otot sehingga kualitas otot paha akan menurun. "Selain meneliti hubungan antara kualitas pola makan modern kita dengan komposisi otot paha, dalam penelitian ini kami menggunakan MRI standar yang mudah diakses sehingga pendekatan kami menjadi praktis dan dapat diterapkan dalam praktik klinis sehari-hari serta penelitian di masa mendatang," kata Dr. Akkaya. "MRI ini tidak memerlukan teknologi canggih atau mahal, yang berarti dapat dengan mudah diintegrasikan ke dalam praktik diagnostik standar," tambah dia.
Kualitas makanan lebih penting dibanding sekadar kalori
Riset ini menegaskan peran penting nutrisi bagi kualitas otot dalam konteks radang sendi lutut. "Mengatasi obesitas merupakan tujuan utama dan langkah pengobatan awal untuk osteoartritis lutut, tapi temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas pola makan perlu mendapat perhatian lebih besar, dan program penurunan berat badan harus mempertimbangkan kualitas pola makan di luar sekadar pembatasan kalori dan olahraga," jelas Dr. Akkaya.
Menurut para peneliti, mengurangi konsumsi makanan ultra proses bisa membantu menjaga kualitas otot paha. Langkah ini juga bisa mengurangi sebagian beban yang terkait dengan penyakit radang sendi lutut.















