This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Sabtu, 01 Maret 2025
STOK PRODUK WONGPASAR GROSIR MALANG 1/03/2025
Dedi Mulyadi Ubah Jam Kerja ASN Jabar selama Ramadhan: Masuk 06.30 WIB
Punya Gaji Besar, Kenapa Pejabat Masih Korupsi?
Kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang yang menyeret sejumlah petinggi Pertamina, menjadi sorotan publik. Hingga kini, sudah ada sembilan orang yang ditetapkan tersangka, termasuk Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Direktur Feedstock and Product Optimization Pertamina, dan Direktur Utama PT Pertamina International Shipping. Publik pun tak luput menyoroti gaji para petinggi Pertamina yang menjadi tersangka. Berdasarkan Laporan Keuangan PT Pertamina Patra Niaga 2023, gaji direktur utama per bulan diperkirakan mencapai Rp 1,82 miliar. Lantas, mengapa orang dengan gaji tinggi masih bisa melakukan korupsi?
Faktor psikologis
Psikolog sekaligus dosen di Fakultas Psikologi Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo mengatakan, korupsi dapat dipahami sebagai upaya untuk mengatasi kecemasan atau kematian, sebagaimana teori June Abraham. "Logikanya, orang melakukan korupsi mungkin merasa mereka dapat mengabadikan hidupnya melalui kekuasaan. Ibaratnya, kalau meninggal tidak lagi mengkhawatirkan keturaunannya karena sudah terjamin," ungkap Ratna, kepada Kompas.com, Kamis (27/2/2025).
Sementara, berdasarakan teori Abraham Maslow, seseorang melakukan korupsi demi memenuhi kebutuhan yang bertingkat. Ratna menerangkan, kebutuhan manusia dibagi menjadi beberapa tingkatan, mulai dari yang paling dasar, yaitu sandang, pangan, papan, lalu keinginan dicintai, serta kebutuhan akan pengakuan. Semakin besar pendapatan yang dimiliki, akan semakin banyak kebutuhan yang ingin dipenuhi. "Meski orang sudah punya miliaran pendapatan, tapi semakin besar pendapatan, kebutuhan biasanya semakin banyak, termasuk membeli yang bukan kebutuhan (dasar) lagi, tapi pengakuan," ungkapnya.
Faktor sosiologis
Sementara itu, sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Drajat Tri Kartono mengungkapkan, pendapatan bisa memengaruhi konsumsi seseorang. "Jadi, konsumsi itu naik searah dengan pendapatan. Tapi kalau pendapatan turun, belum tentu ikut turun karena ada penahannya, yaitu status atau nilai simbol," paparnya, saat dihubungi secara terpisah, Kamis. Drajat mencontohkan, nilai simbol yang dimaksud adalah seseorang merasa dihormati atau bangga saat menggunakan mobil mewah. Artinya, barang tersebut memiliki makna tertentu dan tidak hanya sekadar fungsi. Ketika nilai simbol ini turun, akan memberikan tekanan emosi yang besar sehingga orang akan berusaha mempertahankannya.
Dalam ilmu Sosiologi, hal ini dikenal dengan istilah conspicuous consumption, yaitu tindakan membeli barang untuk memamerkan kekayaan dan mendapat status sosial di masyarakat. "Jadi, bagaimana konsumsi itu terus meningkat sampai pada level leisure class, yaitu kelas yang nampak bagi semua orang bahwa dia itu uangnya sudah berlebih," kata Drajat. Mereka yang termasuk ke dalam kelas ini, biasanya bukan lagi bekerja mencari uang, melainkan peluang. Dia menambahkan, menjamurnya korupsi juga dipicu oleh iklim kerja yang bersifat kapitalistik atau penuh persaingan hingga tak segan mengabaikan moral.
SUMBER: https://www.kompas.com/tren/read/2025/03/01/080000665/punya-gaji-besar-kenapa-pejabat-masih-korupsi-
Jumat, 28 Februari 2025
STOK PRODUK WONGPASAR GROSIR MALANG 28/02/2025
MAU IKUT GABUNG GROUP.... SILAHKAN KLIK GAMBAR DI BAWAH INI !!
Whatsapp admin 1 : 08-1945-155-144Whatsapp admin 4 : 0818-0408-1983
SHOPEE
SHOPEE
Shopee : https://shopee.co.id/grosirpspreiShopee : https://shopee.co.id/tokowongpasarShopee : https://shopee.co.id/wongpasargrosir
ikuti juga Info Produk kami di Line / Facebook / Telegram / Instagram / Twitter
MORE VIDEOS ►
Subscribe for More Youtube :
ikuti juga Info Produk kami di Line / Facebook / Telegram / Instagram / TwitterFollow WP : https://twitter.com/TokoWongpasarWP Instagram : https://www.instagram.com/wongpasarbesar/
MORE CHAT ► Telegram : https://t.me/tokowongpasar
MORE BLOG ►
KONTAK KAMI UNTUK PENDAFTARAN RESELLER
Sindrom Yo-yo: Dampak Diet Ekstrem yang Bisa Ganggu Kesehatan Jantung
Dokter spesialis gizi klinik lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Mulianah Daya, M.Gizi, Sp.GK, mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dengan diet yang salah kaprah atau terlalu ekstrem, karena dapat berisiko menimbulkan sindrom Yo-yo. Dikutip dari Antara, Kamis (27/2/2025), dr. Mulianah menjelaskan bahwa sindrom Yo-yo merujuk pada fluktuasi berat badan yang tidak stabil, naik turun dalam waktu singkat. "Yo-yo itu artinya dalam waktu 1 tahun itu akan ada kaitan berat badan, berat naik 5 kilo turun naik 5 kilo dalam waktu kurang dari 3 bulan dan itu terjadi 2-3 kali. Itu kategorinya namanya Yo-yo," jelas dr. Mulianah.
Sebagai contoh, dr. Mulianah menjelaskan bagaimana fenomena Yo-yo terjadi pada seseorang dengan berat badan awal 60 kilogram, yang kemudian naik menjadi 80 kilogram dengan peningkatan lemak tubuh dari 20 kilogram menjadi 40 kilogram. Namun, setelah penurunan berat badan kembali ke angka 60 kilogram, yang berkurang hanya ukuran lemaknya, bukan jumlahnya.
"Jadi sel itu sel lemak bisa terjadi hipertrofi (peningkatan ukuran sel) dan juga hiperplasia (penambahan jumlah sel) naik jumlah dan naik ukuran. Ini yang seram pada Yo-yo," ujarnya
Dr. Mulianah menambahkan, lemak dalam tubuh bisa mengendap di berbagai organ, terutama di area perut. Lemak visceral, yang merupakan lemak yang berada di dalam organ seperti liver dan pankreas, menjadi salah satu yang paling berbahaya apabila tidak dikendalikan. "Semakin kita Yo-yo atau semakin kita naik berat badan, dietnya tidak dijaga, berat badannya nggak dijaga, kita bukan cuma numpuk lemak, tapi lemak-lemak menurunkannya susah (lemak dalam)," kata dr. Mulianah.
Lebih lanjut, dr. Mulianah juga mengungkapkan bahwa beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengalami sindrom Yo-yo berisiko lebih tinggi terkena penyakit jantung. "Pasien yang mengalami Yo-yo atau penimbunan massa lemak yang cenderung berlebih, hipertrofi dan hiperplasia lemak, risiko kardiovaskular-nya bisa 1,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan yang tidak Yo-yo," ungkapnya. Dokter Mulianah menekankan pentingnya menjalani diet yang sehat dan terkontrol untuk menghindari dampak negatif dari sindrom Yo-yo, yang tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga kesehatan jangka panjang.
"BBM Tidak Berkualitas Bikin Komponen Ini Cepat Rusak"
Menggunakan bahan bakar minyak (BBM) yang tidak berkualitas atau tidak sesuai spesifikasi bisa berdampak buruk pada berbagai komponen mobil, terutama pada sistem pembakaran dan bahan bakar. Kualitas BBM menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesempurnaan pembakaran di dalam mesin. Ketika pembakaran tak sempurna terjadi, emisi karbon akan semakin tinggi. Iwan, pemilik bengkel mobil Iwan Motor Solo mengatakan sisa pembakaran yang lebih pekat akan menghasilkan residu lebih, sehingga dapat merusak beberapa komponen yang bersinggungan.
“Seperti busi, karena sisa pembakaran yang pekat, penghasil bunga api ini bisa lebih cepat rusak, sehingga durasi penggantian bisa lebih sering, salah satu penyebabnya pemakaian BBM tak sesuai,” ucap Iwan kepada Kompas.com, Kamis (27/2/2025).
Selain busi, Iwan mengatakan, sensor oksigen juga bisa mengalami kerusakan lebih cepat karena sisa pembakaran yang lebih pekat. Dampaknya, sensor ini tak mampu membaca kandungan gas buang dengan akurat. “Kotoran akan menumpuk pada area sensor, dan membuatnya tak mampu mengirimkan angka dengan akurat kepada electric control unit (ECU), akibatnya mesin bisa pincang,” ucap Iwan.
Iwan juga mengatakan, residu pada gas buang akibat pemakaian BBM tak sesuai bisa membuat catalytic converter cepat rusak. “Residu akan membuat luang-lubang kecil pada catalytic converter kotor, dan akhirnya pampat, jika terus dibiarkan performa mesin akan menjadi loyo,” ucap Iwan. Hardi Wibowo, pemilik bengkel mobil Aha Motor Yogyakarta mengatakan pemakian BBM tak sesuai bisa mempercepat penumpukan kerak karbon pada ruang bakar.
“BBM dengan nilai oktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan, dan kotoran dalam BBM, bisa meninggalkan deposit karbon yang mengganggu kinerja mesin, seperti memicu terjadinya knocking atau ngelitik,” ucap Hardi kepada Kompas.com, Kamis (27/2/2025). Hardi mengatakan, BBM tidak murni atau tercampur zat lain bisa menyumbat injektor, menyebabkan semprotan bahan bakar tidak optimal dan tenaga mesin berkurang. “BBM kotor juga bisa mempercepat keausan pompa bahan bakar, membuat mesin sulit dinyalakan atau bahkan mati mendadak, karena aliran suppali BBM terganggu,” ucap Hardi.
Jadi, menggunakan BBM berkualitas buruk bisa mempercepat kerusakan komponen mesin, menurunkan performa, boros BBM, dan bahkan meningkatkan risiko perbaikan komponen mobil. Sebaiknya, gunakan BBM sesuai rekomendasi pabrikan untuk menjaga kesehatan mesin dalam jangka panjang.




















