Bolehkah Ibu Menyusui saat Terkena Kanker Payudara?
Melahirkan buah hati seharusnya menjadi momen yang dipenuhi kebahagiaan bagi seorang perempuan. Sayangnya, kegembiraan tersebut bisa beriringan dengan ketakutan luar biasa apabila sang ibu berhadapan dengan diagnosis kanker payudara di sekitar fase kehamilan hingga persalinan. Deputy Medical Director Parkway Cancer Centre (PCC), dr. Khoo Kei Siong, mengungkapkan, salah satu kecemasan terbesar yang langsung muncul di benak pasien adalah persoalan memberikan air susu ibu (ASI). Banyak perempuan menahan diri untuk menyusui bayi mereka karena dihantui oleh mitos yang beredar luas. Ketakutan bahwa sel tumor ganas akan berpindah ke tubuh bayi membuat para ibu memilih untuk mengambil jarak fisik dari buah hatinya.
"Sel kanker tidak dapat diturunkan ke janin melalui rahim, dan Anda juga tidak mungkin menularkan kanker kepada bayi melalui proses menyusui," tegas dr. Khoo dalam acara media gathering di Jakara, Jumat (25/9/2026)
Sebab, secara fisiologis, sel kanker yang bersarang di payudara tidak memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam saluran kelenjar susu dan mengalir bersama nutrisi yang diisap oleh bayi. Kanker payudara dan kelancaran proses menyusui Dampak langsung pada volume susu Meski proses menyusui itu sendiri terbukti aman dan tidak menularkan penyakit, keberadaan tumor aktif memengaruhi kondisi fisik payudara sang ibu. Kelancaran produksi nutrisi alami bagi sang bayi akan mengalami hambatan secara teknis di area yang ditumbuhi massa kanker. "Pada sisi payudara yang terdampak kanker dan belum diobati, Anda kemungkinan tidak bisa menyusui karena produksi susunya akan menjadi sangat sedikit," ungkap dr. Khoo. Penurunan volume cairan ini terjadi akibat rusaknya jaringan sehat di sekitar tumor yang seharusnya bertugas memproduksi ASI. Kendati demikian, payudara di sisi sebelahnya yang sehat dan tidak tersentuh sel kanker tetap mampu menjalankan fungsinya dengan normal untuk menghasilkan susu. Jendela waktu sempit usai persalinan Walaupun pemberian ASI masih sangat memungkinkan dari segi medis, para pejuang kanker harus berhadapan dengan kendala waktu. Banyak pasien yang sebenarnya sangat ingin menyusui secara eksklusif, tetapi pelaksanaannya terbentur oleh urgensi penyelamatan nyawa sang ibu.
"Ibu sebenarnya bisa menyusui setelah pengobatan kanker payudara, namun jendela waktunya menjadi sangat pendek," tutur dr. Khoo. Singkatnya periode pemberian ASI ini sangat terasa pada ibu yang kankernya sudah ditangani sejak masa kehamilan. Begitu proses persalinan selesai, dokter harus segera mengebut jadwal pengobatan mematikan sel kanker yang sebelumnya sempat tertunda. "Tepat setelah melahirkan, selalu ada perawatan lanjutan yang menanti sehingga tindakan medis tersebut harus mengambil prioritas utama," ucap dr. Khoo. Berdasarkan pertimbangan tenggat waktu medis tersebut, transisi asupan menuju susu formula menjadi solusi yang paling tepat. Keputusan ini diambil untuk memastikan gizi bayi tetap optimal, sementara sang ibu bisa langsung berkonsentrasi memulihkan fisiknya. Penyesuaian medis sejak masa kandungan Tenggat waktu perawatan pascapersalinan yang begitu ketat merupakan bagian dari peta jalan pengobatan panjang yang disusun oleh dokter. Bagi pasien yang kankernya ditemukan saat hamil, tim medis harus sangat berhati-hati merancang pengobatan agar ibu bisa mencapai fase persalinan dengan selamat. "Keputusan pengobatan ini sangat bergantung pada momen kanker tersebut ditemukan, apakah pada awal atau pertengahan masa kehamilan," kata dr. Khoo. Apabila penyakit ditemukan pada trimester pertama, kemoterapi tidak mungkin diberikan karena berisiko merusak pembentukan organ janin, sehingga penghentian kehamilan kerap menjadi pertimbangan.
Namun, situasinya menjadi lebih terkendali apabila diagnosis maupun penanganan bisa dilakukan pada trimester kedua. "Terdapat jenis kemoterapi tertentu yang aman diberikan pada trimester kedua tanpa berdampak buruk pada janin, dan hal ini telah dibuktikan dalam banyak uji klinis," ujar dr. Khoo. Obat tersebut akan terus diberikan hingga usia kandungan mencapai 34 atau 35 minggu. Setelah itu, tim dokter akan menghentikan kemoterapi sementara agar pasien siap menghadapi operasi caesar pada minggu ke-38. Setelah bayi lahir, siklus perawatan keras itulah yang harus langsung dilanjutkan, sehingga menyita waktu ibu untuk menyusui.
| SELIMUT BEDCOVER AKIKO 190 MARLON |
SUMBER : https://health.kompas.com/read/26I29072134368/bolehkah-ibu-menyusui-saat-terkena-kanker-payudara
SPREI AKIKO POLOS 90 MARON
|
Komentar
Posting Komentar