Edisi Digital Terkini | Berita Aktual & Terpercaya

Recent Posts

Studi Ungkap Manfaat Tomat untuk Liver, Bantu Hati Membakar Lemak

 


Selama ini pigmen likopen (lycopene) dikenal sebagai nutrisi utama dalam buah tomat yang memberikan warna merah sekaligus khasiat kesehatan. Namun, studi terbaru peneliti Tufts University mengungkapkan keberadaan senyawa tak berwarna bernama fitoena (phytoene) yang terbukti ampuh mencegah dan meredakan penyakit hati berlemak (fatty liver). Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Molecular Nutrition & Food Research ini fokus pada penanganan metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), sebuah kondisi penyakit hati kronis yang diperkirakan mengintai hingga 38 persen populasi dewasa di Amerika Serikat. Penelitian ini menjawab teka-teki mengapa konsumsi bubuk tomat utuh secara eksperimental sering kali memberikan manfaat tomat untuk liver yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan pemberian ekstrak likopen murni secara terpisah, dilansir dari Scitech Daily, Jumat (4/9/2026).

Penyakit hati berlemak yang mengintai tanpa gejala Kondisi metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease bermula saat penumpukan lemak terjadi di dalam sel-sel organ hati. Pada tahap awal, penyakit hati berlemak kerap tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Namun, akumulasi lemak yang terus berlanjut berisiko memicu peradangan, merusak jaringan hati, hingga memicu pembentukan sirosis. Di Amerika Serikat, diperkirakan hingga 100 juta orang dewasa mengidap kondisi ini. Prevalensi penyakit ini bahkan melonjak hingga 75 persen pada penderita obesitas atau diabetes, dua kondisi metabolik yang mempercepat penumpukan lemak di organ hati. Gaya hidup dan pola makan menjadi faktor krusial. Buah tomat lama menjadi sorotan para peneliti karena berbagai uji coba pada hewan terus menunjukkan korelasi positif terhadap peningkatan kesehatan organ hati.

Mengapa likopen bukan satu-satunya kunci? Likopen selama ini mendominasi perhatian karena memberikan warna merah pada tomat matang dan bertindak sebagai zat antioksidan. Meski demikian, kinerja bubuk tomat utuh yang melampaui likopen murni dalam uji laboratorium mengindikasikan adanya sinergi dari beberapa senyawa dalam tomat. Fitoena kemudian menjadi kandidat utama. Senyawa ini merupakan bahan baku awal (precursor) yang digunakan tanaman untuk membentuk likopen serta jenis karotenoid lainnya. Berbeda dengan likopen yang berwarna merah menyala, fitoena merupakan senyawa tak berwarna.

"Likopen dan fitoena ditemukan dalam jumlah besar pada tomat dan produk olahan tomat," kata Na Youn Lee, penulis utama studi sekaligus kandidat Ph.D. di Gerald J. and Dorothy R. Friedman School of Nutrition Science and Policy, Tufts University. "Namun, kita tahu dari penelitian sebelumnya bahwa fitoena sebenarnya lebih mudah diserap oleh tubuh."

Dalam uji laboratorium, para peneliti memberi makan tikus uji dengan diet tinggi karbohidrat olahan selama enam bulan. Pola makan ini dirancang untuk meniru pola konsumsi makanan dan minuman manis yang memicu timbulnya penyakit hati berlemak pada manusia.

Separuh dari populasi tikus tersebut diberikan asupan fitoena dengan dosis harian yang setara dengan konsumsi manusia sebesar tiga hingga empat buah tomat mentah ukuran sedang, atau 100 gram (sekitar 3,5 ons) pasta tomat.

Fitoena mendorong hati membakar lemak Hasil analisis terhadap kesehatan hati, metabolisme, serta mikroflora usus menunjukkan bahwa tikus yang mendapat asupan fitoena mengalami penyakit hati berlemak yang jauh lebih ringan, meskipun tetap mengonsumsi makanan tidak sehat yang sama. Perubahan pada bakteri usus tidak terbukti menjadi penyebab perlindungan tersebut. Sebagai gantinya, fitoena mengaktifkan sejumlah protein yang mengontrol metabolisme hati. Aktivitas ini mengarahkan sel hati untuk membakar kelebihan lemak menjadi energi alih-alih membiarkannya menumpuk.

Eksperimen ini juga mengungkap mekanisme kerja fitoena.

Tikus yang dimodifikasi tanpa dua enzim pemproses karotenoid justru menumpuk fitoena dalam jumlah yang lebih besar di dalam tubuh, tetapi tidak mendapatkan efek perlindungan terhadap hati. Hal ini menunjukkan bahwa fitoena perlu dipecah menjadi metabolit yang lebih kecil agar dapat memberikan manfaat medis.

Faktor genetik dan jenis kelamin Variasi genetik pada enzim pemproses fitoena pada manusia dapat memengaruhi efektivitas senyawa ini. Identifikasi metabolit pelindung tersebut menjadi penting untuk memahami mengapa respons tubuh setiap individu bisa berbeda meski mengonsumsi jumlah fitoena yang sama dari makanan. Faktor jenis kelamin juga memegang peranan. Tikus betina mencatatkan akumulasi fitoena yang lebih tinggi di organ hati dibandingkan tikus jantan, menandakan adanya perbedaan sistem penyerapan atau metabolisme. "Temuan kami memiliki implikasi yang luas, karena fitoena tidak hanya melimpah pada tomat berwarna kuning, oranye, dan merah, tetapi juga terdapat pada banyak buah dan sayuran umum lainnya, termasuk wortel, cabai merah, grapefruit merah muda, semangka, dan aprikot," kata Xiang-Dong Wang, penulis senior studi sekaligus ilmuwan senior di Jean Mayer USDA Human Nutrition Research Center on Aging, Tufts University. "Jika penelitian lebih lanjut memvalidasi temuan kami, mendorong masyarakat untuk mengonsumsi lebih banyak buah dan sayuran kaya fitoena dapat menjadi strategi yang berguna untuk membantu mencegah penyakit hati metabolik atau memperlambat perkembangannya pada individu berisiko tinggi," tambahnya.

SPREI ROSANNA VITO B4 180 CHEALSEA



SUMBER : https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/07/060000265/studi-ungkap-manfaat-tomat-untuk-liver-bantu-hati-membakar-lemak?page=2

KARMUT CALIFORNIA 150 ADELIO

Baca Juga :

Komentar

Follow us on facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Contact Us

Blog Archive

Cari Blog Ini

Arsip Koran



Labels

Labels

Recent Posts

Social Media

About

BTemplates.com

Blogroll

Find Us