Suhu Udara Belakangan Terasa Makin Panas? Ini Penjelasan BMKG
Warganet di media sosial belakangan ini ramai mengeluhkan cuaca panas yang terasa semakin menyengat. Keluhan tersebut disampaikan sejumlah pengguna media sosial X yang merasakan udara lebih panas dan kering dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya disampaikan pengguna X @bulu********. Ia mengeluhkan wilayah tempat tinggalnya yang belum diguyur hujan sehingga udara terasa semakin panas. "Ini kenapa daerah rumah gua doang yang ga ujan dah? Ujan plis udah panas banget ini udara," tulisnya. Keluhan serupa disampaikan @afni******. Ia menyebut kondisi cuaca yang panas dan kering mulai membuat tubuh terasa tidak nyaman. "Cuaca makin aneh. Panas gersang gak karuan. Hidung mulai mau meler nggak enak, mata pedes, udara panasss," tulisnya.
Keluhan tersebut muncul di tengah kondisi sebagian wilayah Indonesia yang masih mengalami periode kering. Lantas, apa yang menyebabkan udara terasa sangat panas akhir-akhir ini?
Kenapa udara akhir-akhir ini terasa sangat panas? Ketua Tim Manajemen dan Operasional BMKG Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Giyarto, mengatakan cuaca yang terasa sangat panas belakangan ini dipengaruhi oleh kombinasi fenomena El Nino dan gerak semu Matahari. Menurut Giyarto, pengaruh El Nino dengan indeks yang sangat kuat membuat kondisi di sejumlah wilayah menjadi lebih kering. Kondisi tersebut kemudian diperkuat oleh posisi gerak semu Matahari yang saat ini bergerak dari wilayah ekuator menuju belahan Bumi selatan. Pergerakan tersebut membuat wilayah Jawa menerima radiasi Matahari yang lebih tinggi. Kondisi ini menyebabkan suhu udara terasa semakin panas, dengan puncak terik diperkirakan terjadi pada Oktober. "Kita ini terdampak oleh El Nino dengan indeks sangat kuat," kata Giyarto dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026). "Ada pola sirkulasi pergerakan gerak semu Matahari yang saat ini pergerakannya dari ekuator menuju ke belahan Bumi selatan sehingga melewati kita. Menyebabkan radiasi yang kita terima juga meningkat," tambahnya.
Kondisi tersebut membuat suhu udara terasa semakin panas, terutama ketika tutupan awan minim dan hujan masih jarang turun.
Giyarto menyebut kondisi kering yang berlangsung cukup panjang juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mengurangi cadangan air, serta meningkatkan risiko dehidrasi.
Imbauan BMKG Di tengah kondisi cuaca panas dan kering, BMKG mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh dengan memastikan kebutuhan cairan tetap tercukupi. Masyarakat disarankan memperbanyak minum air putih, terutama saat beraktivitas di luar ruangan atau ketika cuaca terasa sangat panas. Selain itu, penggunaan air juga perlu dilakukan secara bijaksana mengingat sebagian wilayah masih mengalami kondisi kering.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan karena kondisi lingkungan yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar.
"Pada kondisi kekeringan, tidak melakukan pembakaran lahan dan untuk terhidrasi tubuh kita perlu. Penggunaan air tanah juga diharapkan lebih bijaksana," ujar Giyarto. BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kebersihan lingkungan, termasuk membersihkan genangan air di sekitar rumah. Langkah tersebut penting untuk mengurangi tempat yang berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk. "Berikutnya adalah nyamuk. Ini kondisi seperti saat ini, peningkatan pertumbuhan nyamuk ini juga mengganggu kehidupan kita sehari-hari. Perlu kita waspadai terkait hal ini," kata Giyarto.
| SPREI BONITA B4 180 AZHA |
| SPREI FATA 180 T30 YOLANDA |
Baca Juga :
Komentar
Posting Komentar