Tak Kuat Tinggal di Asrama, Belasan Siswa Sekolah Rakyat Blitar Mengundurkan Diri
Belasan siswa Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) Kota Blitar, Jawa Timur mengundurkan diri dalam kurun satu bulan sejak dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 17 Agustus 2026 lalu. Sementara itu penjaringan calon siswa terus dilakukan terutama oleh personel pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), sehingga berhasil mendapatkan 27 siswa baru meskipun jumlah total siswa hingga kini belum dapat memenuhi target. Kepala SRT Kota Blitar, Johan Argono, mengatakan bahwa alasa utama belasan siswa mengundurkan diri karena tidak kuat tinggal 24 jam di asrama yang telah disediakan. “Maaf saya belum menghitung persis berapa jumlah yang mengundurkan diri. Tapi jumlahnya pernah mencapai total 205 siswa lalu update tanggal 18 September ini tersisa 189,” ujar Johan kepada awak media, Senin (28/9/2026).
Permintaan pengunduran diri itu, imbuh dia, paling banyak berasal dari siswa. Meskipun, ada juga beberapa atas permintaan orangtua mereka.
“Kami sudah mengupayakan beberapa langkah untuk memotivasi mereka agar tetap bertahan. Selain konsultasi dengan wali kelas, guru BK, mereka juga kita coba kirim pulang ke rumah beberapa hari, lalu kita minta kembali ke asrama,” ungkapnya. “Tapi ternyata tetap tidak betah dan pingin mundur,” tambah Johan. Johan menambahkan bahwa kebanyakan siswa yang mengundurkan diri berasal dari kelompok usia SD meskipun terdapat juga mereka yang berasal dari kelompok usia SMP dan SMA. Kata Johan, Kementerian Sosial melarang sekolah rakyat meminta para siswa tetap bertahan tinggal di asrama dengan cara-cara yang memaksa.
27 siswa baru Meski belasan siswa telah mengundurkan diri, kata Johan, berbagai cara untuk merekrut siswa baru, terutama “penjangkauan” oleh para pendamping PKH terus dilakukan. Hasilnya, sebanyak 27 siswa baru resmi mendaftarkan diri ke SRT Kota Blitar. “Hari ini kami dapat tambahan 27 siswa baru. Sebanyak 21 di antaranya berasal dari Kabupaten Blitar dan sisanya dari Kota Blitar,” kata dia. Dengan demikian, kata Johan, saat ini total jumlah siswa SRT Kota Blitar sebanyak 216 anak. Namun, dari jumlah tersebut, 70 di antaranya merupakan siswa titipan dari sekolah rakyat rintisan Kota Batu sebanyak 29 siswa dan sekolah rakyat rintisan Kota Malang sebanyak 41 siswa. Johan mengakui bahwa Sekolah Rakyat Kota Blitar belum dapat memenuhi target pagu jumlah siswa, yakni 90 siswa untuk setiap jenjang pendidikan.
Berdasarkan data per 18 September 2026, kata Johan, total jumlah siswa SRT Kota Blitar sebanyak 189 siswa, terdiri dari siswa SD 19 anak, siswa SMP 76 anak, dan siswa SMA 93 anak. Dari sisi jenis kelamin, mereka terdiri dari 102 laki-laki dan 86 perempuan. Sekolah Rakyat Terpadu Kota Blitar berdiri di lahan seluas sekitar 5,5 hektar yang merupakan aset Pemerintah Kota Blitar di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul.
Selain bangunan kelas untuk pembelajaran dengan daya tampung lebih dari 1.000 anak, di kompleks tersebut berdiri beberapa unit bangunan lain seperti asrama siswa dan rumah susun bagi guru dan tenaga pendukung lainnya. Nilai proyek konstruksi kompleks bangunan Sekolah Rakyat Terpadu Kota Blitar sebesar antara Rp 200 miliar hingga Rp 240 miliar.
| KARMUT CALIFORNIA 150 ADELIO |
| SPREI ROSANNA VITO B4 180 CHEALSEA |
Baca Juga :
Komentar
Posting Komentar