Edisi Digital Terkini | Berita Aktual & Terpercaya

Recent Posts

Kenapa Pesawat Tak Boleh Terbang di Tengah Abu Vulkanik?

 


Delapan bandara di Pulau Jawa dan Sumatera terdampak penutupan sementara akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Kondisi ini berdampak pada operasional penerbangan dan memicu penundaan hingga pembatalan sejumlah penerbangan. Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah menyebar hingga ruang udara di sekitar Jakarta dan wilayah lainnya. Kondisi ini membuat sejumlah bandara, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta, harus menghentikan sementara operasional penerbangan demi keselamatan. Di Bandara Soekarno-Hatta, PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports mencatat sebanyak 624 rencana penerbangan masih terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Assistant Deputy Communication & Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan, mengatakan 624 rencana penerbangan tersebut terdiri atas 461 penerbangan domestik, 156 penerbangan internasional, dan tujuh penerbangan kargo. "Rencana jumlah penumpangnya sekitar 75.236 orang, namun sebagaimana kita sama-sama sudah ketahui bahwa dari NOTAM terakhir, telah diputuskan bahwa penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta ini sampai dengan pukul 18.00 WIB," kata Yudistiawan dikutip dari Antara.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran abu vulkanik hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki (6,1 kilometer) ke arah timur dan hingga 50.000 kaki (15,24 kilometer) ke arah barat. Lantas, mengapa pesawat tidak boleh terbang saat ada abu vulkanik?

Alasan pesawat tidak boleh terbang di tengah abu vulkanik? Penutupan bandara akibat sebaran abu vulkanik bukanlah keputusan tanpa alasan. Abu vulkanik dapat menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan, bahkan ketika keberadaannya tidak terlihat jelas oleh mata. Abu vulkanik tidak selalu hadir seperti hujan debu yang membuat langit gelap. Sebagian partikelnya berukuran sangat halus dan dapat menyebar di atmosfer sehingga sulit dilihat dari kokpit pesawat. Namun, bagi pesawat yang melintas di dalamnya, awan abu yang nyaris tidak kasatmata tersebut dapat menimbulkan masalah serius, terutama pada mesin jet. Dilansir dari Kompas.id, Indonesia pernah mengalami salah satu contoh paling dramatis mengenai bahaya abu vulkanik bagi penerbangan saat Gunung Galunggung di Jawa Barat meletus pada 1982. Pada 24 Juni 1982, British Airways Flight 009, sebuah Boeing 747, terbang pada ketinggian sekitar 37.000 kaki (11,28 kilometer) dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Perth ketika tanpa sengaja memasuki awan abu dari erupsi Gunung Galunggung.

Dalam hitungan menit, keempat mesin pesawat kehilangan tenaga.

Pesawat kemudian mengalami penurunan ketinggian secara drastis sebelum awak berhasil menghidupkan kembali tiga mesin dan melakukan pendaratan darurat di Jakarta. Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), pesawat tersebut turun dari ketinggian 37.000 kaki hingga sekitar 12.000 kaki sebelum mesin dapat kembali dinyalakan. Investigasi menunjukkan mesin mengalami gangguan akibat masuknya abu vulkanik. Peristiwa Galunggung kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam pemahaman dunia penerbangan mengenai bahaya abu vulkanik. Kasus tersebut menunjukkan bahwa awan abu dapat mengganggu mesin pesawat meskipun tidak selalu terlihat secara jelas.

Abu vulkanik bisa meleleh di dalam mesin Abu vulkanik dapat mengganggu hingga menyebabkan mesin pesawat kehilangan tenaga karena sifat material vulkanik yang terkandung di dalamnya. Abu vulkanik mengandung material silikat yang dapat meleleh ketika masuk ke bagian mesin dengan temperatur sangat tinggi. Penelitian eksperimental Christopher Giehl dari University of Tübingen, Jerman, dan kolega dalam jurnal Contributions to Mineralogy and Petrology tahun 2017 menunjukkan bahwa abu vulkanik yang masuk ke turbin dapat meleleh dan kemudian menempel pada komponen mesin. Endapan tersebut dapat mengganggu aliran gas dan menyebabkan penurunan kinerja mesin hingga kegagalan. Penelitian yang diterbitkan pada 2016 di jurnal Nature Communications oleh Wei Song dan kolega menunjukkan bahwa temperatur di bagian panas mesin jet, berkisar 1.200–2.000 derajat celsius. Suhu tersebut cukup tinggi untuk menyebabkan sebagian abu vulkanik meleleh dan kemudian menempel pada komponen turbin. Song merupakan peneliti di University of Manchester, Inggris, yang mengkaji perilaku abu vulkanik pada kondisi temperatur tinggi yang relevan dengan mesin pesawat. Adapun, material yang meleleh tersebut dapat membentuk endapan pada komponen mesin. Akibatnya, aliran gas di dalam mesin dapat terganggu dan kinerja mesin menurun. Dengan kata lain, bahayanya bukan sekadar mesin "mengisap debu". Abu vulkanik dapat mengalami perubahan fisik ketika masuk ke dalam mesin dan menghasilkan material yang menempel pada bagian-bagian penting turbin.

Partikel tersebut dapat mengikis atau merusak berbagai komponen pesawat ketika masuk ke dalam mesin maupun mengenai bagian pesawat lainnya.

Bahaya abu vulkanik sulit terlihat Salah satu persoalan terbesar dalam penerbangan adalah awan abu vulkanik tidak selalu mudah dikenali secara visual. Peristiwa Galunggung pada 1982 menunjukkan bahwa pesawat dapat memasuki awan abu tanpa menyadari bahayanya hingga gangguan pada mesin terjadi. Karena itu, pemantauan sebaran abu melalui satelit, radar, laporan pengamatan, dan sistem peringatan penerbangan menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan penerbangan.

Teknologi pemantauan saat ini memang jauh lebih maju. Satelit dapat membantu melacak pergerakan abu, sementara model atmosfer dapat memperkirakan arah penyebarannya.

Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan wilayah udara yang perlu dihindari dan apakah penerbangan perlu dialihkan. Hal tersebut pula yang menjadi alasan sebaran abu Gunung Anak Krakatau dipantau secara intensif.

BMKG menyebut abu vulkanik pada ketinggian berbeda bergerak ke sejumlah arah dan berdampak pada operasional penerbangan di Jawa dan Sumatera. Pada akhirnya, prinsip keselamatannya tetap sama: abu vulkanik tidak harus terlihat untuk menjadi berbahaya bagi pesawat. Bagi penerbangan, partikel tersebut dapat mengganggu bahkan menyebabkan mesin kehilangan tenaga.

Karena itu, ketika abu Gunung Anak Krakatau menyebar jauh dari sumber erupsi, keberadaannya di ruang udara tetap harus diwaspadai meskipun tidak selalu terlihat dari permukaan.


SELIMUT JOVANKA POLOS 160 BLUE DENIM


SUMBER : https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/08/083000165/kenapa-pesawat-tak-boleh-terbang-di-tengah-abu-vulkanik-?page=3


SPREI CALIFORNIA 180 FALLON

Baca Juga :

Komentar

Follow us on facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Contact Us

Blog Archive

Cari Blog Ini

Arsip Koran



Labels

Labels

Recent Posts

Social Media

About

BTemplates.com

Blogroll

Find Us