Edisi Digital Terkini | Berita Aktual & Terpercaya

Recent Posts

Bukan Cuma untuk Dibakar, Kemenyan Indonesia Bisa Jadi Parfum dan Produk Bernilai Tinggi

 


Kemenyan telah lama menjadi sumber penghidupan masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia, terutama Sumatera Utara. Namun, komoditas hasil hutan bukan kayu tersebut hingga kini masih banyak diperdagangkan dalam bentuk getah mentah. Padahal, pengolahan lebih lanjut dapat meningkatkan nilai ekonominya secara signifikan, mulai dari menjadi minyak kemenyan, parfum, hingga pemisahan senyawa tunggal. Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Ganis Lukmandaru, S.Hut., M.Agr. mengatakan, kemenyan Indonesia memiliki karakteristik berbeda dibandingkan produk dari kawasan lain. Kemenyan Indonesia berasal dari genus Styrax, sedangkan kemenyan yang dikenal dari Turkiye dan Arab berasal dari genus Boswellia.

Salah satu keunggulan kemenyan Indonesia adalah aromanya yang menyerupai madu karena kandungan asam sinamat.

“Keunggulannya di Indonesia ini bau madunya. Baunya itu agak kayak permen gitu. Itu keunggulannya,” ujar Ganis, dikutip dari laman UGM, Senin (14/9/2026). Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan, produksi kemenyan di Sumatera Utara mencapai sekitar 5.000-8.000 ton. Sebagian besar masih diekspor ke India, Singapura, maupun Uni Eropa untuk diolah lebih lanjut.

Nilai minyak kemenyan bisa 20 kali lipat Menurut Ganis, salah satu bentuk hilirisasi paling sederhana adalah mengolah getah menjadi minyak melalui proses distilasi. “Getah padat ini dipanaskan. Jadi, kalau dipanaskan, ada yang menguap, ada yang tertinggal. Yang menguap ini didinginkan jadi minyak. Ini namanya minyak kemenyan,” jelas Ganis. Nilai minyak kemenyan disebut dapat mencapai 20 kali lipat dibandingkan getah mentah. Nilainya bahkan bisa meningkat lagi jika diproses menjadi parfum atau dipisahkan hingga menghasilkan senyawa tertentu.

“Menjadi minyak ini sudah dipisah antara yang mudah menguap dan yang tidak. Menjadi parfum itu sudah produk lagi. Apalagi dipisah sampai level senyawa tunggal, itu lebih mahal lagi. Visinya ke sana,” tuturnya. Ganis menilai pengembangan kemenyan dapat mencontoh industri getah pinus yang telah menghasilkan berbagai produk turunan. Namun, hilirisasi kemenyan masih menghadapi tantangan di tingkat hulu, terutama terkait kesinambungan pasokan dan standardisasi mutu.

Pemerintah telah memiliki standar kualitas kemenyan. Akan tetapi, standar tersebut belum sepenuhnya digunakan dalam perdagangan.

“Jadi, kalau ingin mendirikan pabrik, mereka butuh pasokan yang kontinu, dengan mutu yang standar. Itu bisa dipenuhi tidak oleh para penyadap kemenyan? Mungkin memenuhi kuantitas bisa, tapi memenuhi standar bisa tidak?” katanya.

Regenerasi petani jadi tantangan Tantangan lainnya adalah regenerasi penyadap kemenyan. Sebagian besar penyadap saat ini berasal dari generasi tua. Di sejumlah wilayah, masyarakat juga mulai mempertimbangkan tanaman lain yang dinilai lebih menguntungkan, seperti kopi. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terjadinya konversi lahan kemenyan dan berkurangnya pasokan bahan baku. Saat ini, luas areal kemenyan diperkirakan sekitar 23.000 hektare dan terkonsentrasi di Sumatera Utara, terutama Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan. Tanaman tersebut umumnya tumbuh pada ketinggian 800-1.500 meter di atas permukaan laut. Pengolahan juga tidak harus dilakukan melalui industri berskala besar. Menurut Ganis, petani dapat mulai melakukan distilasi sederhana untuk menghasilkan minyak kemenyan. “Kalau sekadar mendistilasi, yang paling mudah. Dari getah menjadi minyak, dipanaskan, itu sudah mudah. Ini sudah banyak penyuluhan dari kolega-kolega dari BRIN. Mereka sudah training, memberi percontohan, dan sebagainya,” ujarnya. Hilirisasi juga dinilai dapat membantu menjaga kelestarian kemenyan. Dengan memperoleh nilai lebih tinggi dari jumlah produk yang sama, petani tidak perlu meningkatkan volume panen untuk menaikkan pendapatan.

Karena itu, Ganis menekankan bahwa pengembangan industri kemenyan harus dilakukan bersamaan dengan perlindungan sumber daya di tingkat hulu. “Asal memang keberlanjutannya itu diperhatikan. Selalu ada hulu dan hilir,” ujarnya.

SPREI FATA 180 T30 YOLANDA



SUMBER : https://www.kompas.com/tren/read/2026/09/15/210000565/bukan-cuma-untuk-dibakar-kemenyan-indonesia-bisa-jadi-parfum-dan-produk?page=2

SPREI ROSANNA VITO B4 180 CHEALSEA


Baca Juga :

Komentar

Follow us on facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Contact Us

Blog Archive

Cari Blog Ini

Arsip Koran



Labels

Labels

Recent Posts

Social Media

About

BTemplates.com

Blogroll

Find Us