Penghasilan Rp 50.000 Per Hari, Warga Ponorogo Masuk Desil 8, Khawatir Anak Tak Bisa Kuliah
Penghasilan sekitar Rp 50.000 sehari tidak selalu didapat Agus Widyono (68), buruh tani serabutan asal Dusun Sampung Lor, Desa Sampung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Namun, keluarga Agus dan istrinya, Atik Suryaningsih (46), tercatat dalam desil 8 pada data kesejahteraan. Status tersebut membuat Atik khawatir. Sebab, anak bungsunya, Arya, kini duduk di kelas 3 SMA dan bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. "Sehari saja kadang tidak dapat Rp 50.000, malah masuk desil 8,” ujar Atik saat ditemui di rumahnya, Senin (7/9/2026).
Kekhawatiran Atik bukan tanpa alasan. Dia takut status desil keluarganya berdampak pada peluang Arya mendapatkan bantuan pendidikan.
Atik mengetahui adanya bantuan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP). Namun, status keluarganya yang tercatat dalam desil 8 membuat sang anak mulai ragu dengan cita-citanya. "Setiap maghrib, anak saya yang bungsu selalu cerita pengen kuliah. Itu sudah lama direncanakan. Sekarang jadi ragu karena melihat berada di desil 6-10,” katanya. Menurut Atik, anaknya bahkan pernah menyampaikan kekhawatirannya langsung kepadanya. "Sempat ngeluh karena bagaimana dia bisa kuliah dengan beasiswa dari keluarga tidak mampu kalau masuk desilnya saja 6-10,” ujar Atik.
Kini, Atik hanya bisa berharap status desil keluarganya diperbaiki apabila memang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Sebab, kehidupan keluarganya jauh dari kesan berkecukupan. Kondisi rumah mereka yang mereka tinggali merupakan rumah peninggalan orangtua yang telihat sudah memprihatinkan karena kayunya mulai rapuh. Genteng rumah tersebut juga bocor di sejumlah bagian karena sudah lama tidak diperbaiki. Lantai rumah masih berupa plester. Kamar mandi keluarga bahkan tidak memiliki atap. "Tinggal di sini sama keluarga dan merawat orangtua sudah sepuh,” ungkap Atik. Dia mengaku, suaminya hanya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh tani serabutan. Ketika pekerjaan di sawah tidak ada, suaminya bekerja sebagai pencari kayu bakar. Penghasilan sekitar Rp 50.000 hanya diperoleh ketika sang suami mendapatkan pekerjaan. "Kalau ada pekerjaan ya ada, kalau pas tidak ada yang nyari kayu. Serabutan yang penting bisa dapat duit. Kalau dapat pekerjaan sekitar Rp 50.000. Itu pun tidak setiap hari,” ujarnya.
Meski memiliki dua unit sepeda motor, namun kedua kendaraan tersebut sudah lama dan hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari untuk mengantar anak sekolah dan menuju tempat kerja di sawah yang mempekerjakan suaminya. "Dua sepeda motor sangat lama sekali. Untuk ngantar anak saya yang pertama baru selesai sekolah, sama buat kerja bapaknya” kata Atik. Selain harapan biaya pendidikan anaknya, Atik juga khawatir status desil tersebut berdampak pada akses layanan kesehatan keluarganya. Atik mengatakan, dirinya harus melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin setiap bulan karena memiliki penyakit diabetes. "Sebulan sekali saya pasti periksa ke puskesmas karena saya mempunyai penyakit gula (diabetes), sehingga harus kontrol rutin,” ujarnya.
Atik mengaku, Kartu Indonesia Sehat (KIS) milik suami dan anak sulungnya sebelumnya sudah dicabut. Anak sulungnya bahkan sempat mengalami kendala ketika hendak melakukan kontrol setelah menjalani operasi gigi. "Kemarin, setelah operasi gigi anak saya itu mau kontrol rutin di puskesmas. Tapi kok tidak bisa. Makanya tidak bisa apa-apa,” katanya. Dia pun mengaku tidak memahami bagaimana mekanisme penilaian terhadap status keluarganya yang masuk dalam desil 8. Atik mengatakan, petugas pendataan sebelumnya telah menanyakan kondisi rumah, penghasilan, pengeluaran, hingga sejumlah aset keluarga. Menurut Atik, tanaman mangga dan jambu di sekitar rumah juga ikut dihitung sebagai potensi hortikultura. Sebab, petugas sensus mengatakan, pendapatan tidak boleh minus. "Kata pegawai sensus tidak boleh minus. Akhirnya mangga dan jambu depan rumah dihitung hortikultura katanya tidak boleh minus pendapatan. Padahal hasil panennya tidak saya jual,” ungkapnya.
Atik mengaku, awalnya tahu keluarganya masuk desil 8 saat mengecek statusnya melalui aplikasi. Lalu, berubah menjadi desil 6-10. Kini, Atik berharap pemerintah melakukan verifikasi ulang terhadap kondisi keluarganya demi masa depan anaknya yang berencana akan kuliah. “Awalnya masuk desil 8, terus ini desil 6-10. Saya berharap petugas datang untuk memeriksa kondisi kami. Saya berharap desil saya turun agar anak saya bisa melanjutkan sekolah untuk masa depan mereka lebih baik daripada kami,” pungkasnya.
| SPREI FATA 180 T30 YOLANDA |
| SPREI ROSANNA VITO B4 180 CHEALSEA |
Baca Juga :
Komentar
Posting Komentar