Salah Golongan Darah Saat Transfusi, Pasien di Korsel Meninggal Dunia
Seorang pasien wanita berusia sekitar 50 tahun meninggal dunia secara tragis setelah menerima transfusi darah yang salah di sebuah rumah sakit universitas di Seoul, Korea Selatan. Dikutip dari berbagai sumber, Senin (21/9/2026), pasien yang sebenarnya memiliki golongan darah O tersebut justru diberikan darah golongan A akibat keteledoran pihak medis. Insiden yang terjadi pada September 2024 ini memicu keprihatinan mendalam di kalangan masyarakat. Menanggapi kasus yang sempat ditutup tanpa penetapan tersangka ini, pihak kejaksaan Korea Selatan akhirnya turun tangan dan secara tegas memerintahkan kepolisian untuk membuka kembali lembar penyelidikan.
Menilik kasus salah golongan darah saat transfusi di Seoul Awal mula petaka di ruang gawat darurat Kejadian nahas ini bermula ketika korban dilarikan ke ruang gawat darurat dalam kondisi henti jantung
Melihat kondisi pasien yang sangat kritis dan berpacu dengan waktu, tim dokter memutuskan bahwa pasien membutuhkan transfusi darah darurat sesegera mungkin. Mereka kemudian mengambil sampel darah untuk diuji di laboratorium rumah sakit guna menentukan kecocokan darah.
Sayangnya, hasil tes tersebut secara keliru mengidentifikasi golongan darah pasien sebagai tipe A. Padahal, golongan darah asli wanita tersebut adalah tipe O. Tanpa menyadari adanya kesalahan fatal dalam identifikasi, para staf medis langsung memberikan transfusi darah golongan A ke tubuh pasien yang sedang berjuang di antara hidup dan mati. Pihak keluarga yang mengetahui prosedur ini sebenarnya sempat menaruh curiga dan mempertanyakan keabsahan hasil tes tersebut. Mereka bahkan sempat memberi tahu para staf bahwa golongan darah pasien sepertinya tidak sesuai dengan riwayat medisnya.
Namun, tim medis tetap bersikeras dan meyakinkan keluarga bahwa tes awal yang mereka lakukan sudah sangat akurat. Kebenaran baru terungkap ketika tes kedua dilakukan untuk keperluan transfusi lanjutan, di mana golongan darah asli pasien akhirnya diketahui. Akibat rentetan kesalahan ini, kondisi kesehatan wanita tersebut terus memburuk dan ia mengembuskan napas terakhirnya sekitar satu bulan setelah dirawat.
Kelalaian petugas dan keputusan kepolisian Tidak terima dengan kematian anggota keluarga mereka, pihak keluarga korban dengan tegas menempuh jalur hukum. Mereka resmi mengajukan pengaduan pidana terhadap staf medis rumah sakit atas tuduhan kelalaian profesional yang mengakibatkan kematian pasien. Laporan ini kemudian ditindaklanjuti oleh Kantor Polisi Seongbuk. Dari hasil penyelidikan awal, polisi menemukan fakta mengejutkan.
Stiker kode batang pada sampel darah pasien telah tertukar dengan sampel darah milik pasien lain yang juga berada di ruang gawat darurat. Terkait temuan krusial ini, pihak kepolisian memberikan pernyataan resminya. "Pemeriksaan yang tidak akurat menjadi semakin parah karena para perawat di pusat medis darurat bekerja sama dalam tugas tersebut," ungkap pihak kepolisian. Meski sudah menemukan adanya unsur kelalaian fatal dari para perawat dalam memverifikasi identitas dan sampel darah, polisi awalnya memutuskan untuk tidak melimpahkan kasus ini ke meja hijau.
Pada pertengahan Agustus lalu, pihak berwajib menutup kasus ini tanpa ada satu pun staf yang ditetapkan sebagai tersangka. Polisi beralasan bahwa situasi ruang gawat darurat saat itu sedang sangat kacau. Keputusan ini juga dipengaruhi oleh kondisi awal pasien yang sudah menderita henti jantung dan emboli paru sebelum transfusi dilakukan. Polisi merasa sulit untuk membuktikan secara medis apakah darah yang tidak cocok itu menjadi penyebab langsung kematiannya. Di samping itu, polisi juga mempertimbangkan dalih kekurangan staf medis yang sangat parah di rumah sakit tersebut akibat dampak dari aksi mogok kerja yang dilakukan oleh para dokter magang.
Kejaksaan tuntut penyelidikan ulang Melihat keputusan Kantor Polisi Seongbuk yang menghentikan kasus, Seoul Northern District Prosecutors' Office selaku pihak kejaksaan tidak tinggal diam. Setelah menerima dan mempelajari seluruh catatan penyelidikan dengan saksama dari kepolisian, lembaga tersebut memutuskan untuk mengintervensi kasus kelalaian medis ini. Kejaksaan menilai bahwa masih banyak fakta yang kabur dan harus digali lebih dalam sebelum kasus ini bisa benar-benar ditutup. Mereka menginstruksikan polisi untuk melakukan investigasi ulang yang komprehensif. Tujuannya adalah memastikan sejauh mana kesalahan pemberian transfusi tersebut berkontribusi secara langsung terhadap hilangnya nyawa sang pasien. Kasus ini juga bisa menjadi pelajaran bagi kamu maupun keluarga untuk selalu teliti dan kritis saat mendampingi pasien di rumah sakit.
| SELIMUT JOVANKA POLOS 160 BLUE DENIM |
| SPREI CALIFORNIA 180 FALLON Baca Juga : |
Komentar
Posting Komentar